Tambah Income Jutaan Rupiah

Kamis, 14 April 2011

ABU BAKAR: PEMBENTUKAN KHALIFAH


  By. La Hamiku                   


A.    Latar Belakang Masalah
       Awal munculnya perpecahan  dalam islam adalah dilartarbelakangi oleh persoalan politik pasca Rasulullah saw  wafat. Karena belum ada pengganti beliau  dalam mengendalikan  jalannya pemetintahan. Masyarakat Madinah pada waktu itu memikirkan siapa pengganti  Muhammad saw untuk mengapalai Negara yang baru lahir. Kaum anshar mengambil inisiatif untuk menggantikan Rasulullah tanpa berkonsultrasi terlebih dahulu kepada sahabat Rasulullah, yakni Abu Bakar, Umar Usman dan Ali, dan mereka akan membai’at Sa’ad ibn Ubadah selaku pimpinan kaum anshar.
Masyarakat belahan dunia menjadih resah terutama kota Mekkah dan Madinah yang menjadi pusat peradaban Islam.  Nabi Muhammmad saw sebelumnya tidak pernah menunjuk seseorang untuk menjadi pengganti sepeninggal beliau dan tidak pula meninggalkan wasiat untuk itu. Namun setelah melalui perdebatan yang cukup alot, akhirnya Abu Bakar terpilih sebagai pemegang estafeta kepemimpinan Nabi setelah mendapat bai’at dari kaum muslimin.[1]
Meskipun Abu Bakar mendapat bai’at dari semua kalangan umat islam ketika itu,  namun bukanlah berarti kekhalifaan yang ia pikul berjalan tanpa hambatan. Setelah pelantikan beliau sebagai khalifah,  Sejumlah masalah yang belum tampak sebelumnya muncul dipermukaan dan memerlukan penanganan serius. permasalahan yang dimaksud adalah munculnya sejumlah umat islam yang dengan terang-terangan menyatakan diri dan tidak patuh terhadap ajaran-ajaran islam (murtad). Fenomena tersebut membuat Abu Bakar tersentak dan tidak tinggal diam  sehingga mengambil langkah-langkah kebijakan strategis untuk mengatasinya.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian  latar belakang di atas, maka penulis dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana biografi Abu Bakar ash-Shidiq.
2.      Bagaimanakah proses pembentukan khalifah pada masa Abu Bakar ash-Shidiq ?
3.      Bagaimanakah prestasi Abu Bakar ash-Shidiq dalam Kepemimpinannya?




PEMBAHASAN
A.    Biografi Singkat Abu Bakar
Abu Bakar dilahirkan di Mekkah pada tahun 573 M. Dengan nama  Abdullah Ibn Abi Qahafah dari seorang ayah  Abu Qahafah  (dua tahun setelah kelahiran Rasulullah)  yang semula bernama  Usman ibn Amir. Sedangkan ibunya bernama  Ummu  al-Kahar yang semula bernama Salma binti Sakhr  Ibnu Amir  setelah   masuk  islam,  ia diberi nama oleh Rasulullah dengan sebutan Abdullah. Sebutan lain baginya adalah Atit artinya “lolos/lepas”. Berawal  dari ibunya setiap melahirkan anak laki-laki  pasti meninggal dunia.[2]
Setelah Abu Bakar lahir,  orang tuanya sangat gembira, lalu dijuluki anak laki-laki mereka dengan sebutan Abdul Ka’bah.  Ketika anak itu tumbuh menjadi  remaja, diberikan  dengan julukan Atit  menandakan seolah-olah ia lepas dari kematian.[3] Tatkala usianya menginjak  dewasa dia berdagang sebagai penjual kain dan berhasil dalam daganganya. Pada awal masa mudahnya ia menikah dengan Kutailah binti Abdul Uza,  perkawinan beliau membuahkan keturunan yang diberi nama Abdullah dan Asma.  Abdullah yang  Akrab dipanggil dengan Abu Bakar. Ada pendapat yang mengatakan bahwa gelar tersebut melekat sebagai nama penggilan karena beliau termasuk orang yang mula-mula memeluk islam. Sedangkan gelar ash-Shiddiq merupakan julukan yang diberikan kepadanya karena ia termasuk orang pertama membenarkan peristiwa Isra Mi’raj Nabi pada saat sejumlah masyarakat Arab tidak mempercayainya karena mengukur peristiwa tersebut dengan logika murni.
Sebelum memeluk islam, ia merupakan seorang saudagar kayaraya yang mempunyai pengaruh yang cukup besar dikalangan bangsa Arab. Namun setelah ia memeluk islam,  perhatiannya sepenuhnya dicurahkan kepada islam sehingga aktivitas perdagangan yang di lakukannya hanya sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Beliau juga dikenal sebagai orang yang jujur dan dermawan serta senang beramal untuk kepentingan perjuangan islam. Bukti kedermawanan tersebut sebagaimana dilukiskan dalam sejarah bahwa ketika Rasulullah saw, mempersiapkan pasukan menuju Tabuk,  Abu Bakar menyumbangkan semua harta yang dimilikinya dan tidak ada lagi yang tersisa.[4]
Ketika terjadi peristiwa hijrah, Abu Bakar merupakan sahabat yang setia mengawal perjalanan Nabi hingga tiba di Madinah. Penderitaan yang dialaminya dalam peristiwa tersebut  mengancaman maut yang mengintainya setiap saat, dan tidak pernah menyurutkan semangat kesetiaannya terhadap Nabi saw.[5]
B.     Proses Pembentukan Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq
Berpulangnya Rasulullah  saw, ke haribaan Allah swt tanggal 12 Rabiul awal  tahun 11 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 3 Juni tahun 632 Masehi. Menjelang wafat beliau   menyempatkan diri untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan bertemu dengan kaum muslimin.  Kemudian beliau memangggil  Usmah bin Zaid untuk didoakan sebelum ditugaskan memimpin pasukan kaum muslimin  yang akan berperang melawan Imperial Romawi di Syam[6].
Beberapa saat kemudian setelah Rasulullah kembali dari masjid,  tersiar berita bahwa Rasulullah saw telah wafat,  kaum muslimin mengalami kebimbangan. Umar bin Khatab   berpidato  di hadapan segenap kaum muslimin  dengan menyangkal bahwa Rasulullah belum wafat. Melainkan hanya pergi beberapa saat  kepada Tuhanya kemudian akan kembali lagi. Karena itu ia mengancam kepada orang-orang yang menyebarkan informasi bahwa rasulullah saw  telah wafat, akan diberi sangsi dengan hukuman potong tangan  dan kaki.[7]
Abu Bakar ash-Shidiq  setelah kembali kerumahnya ia mendengar kabar bahwa  Rasulullah saw  wafat, maka Abu Bakar kembali bergegas  ke arah masjid dan membuktikan kebenaran berita itu. Sedangkan Umar bin Khatab masih lantang berpidato membantah berita itu, ia tidak berhenti di masjid melainkan langsung ke rumah Aisyah. Tubuh Rasulullah dilihatnya sudah terbujur kaku, disalah satu ruangan  samping rumah Aisyah yang sudah ditutup, dibukanya pelan-pelan sambil mencium wajah   orang yang sangat dicintainya itu. Abu Bakar lalu  berkata: “Alangkah indahnya hidupmu dan alangkah indahnya pula kematianmu”.  Lalu Abu Bakar keluar dari rumah Aisyah  menuju masjid  dan berseru kepada kaum muslimin yang masih diliputi kebimbangan.[8]    
“Wahai sekalian manusia barang siapa menyembah kepada Muhammad, maka Muhammmad telah meninggal dunia  dan barang siapa yang menyembah Allah, maka
ia tidak akan pernah mati selamanya” lalu Abu Bakar membaca   firman Allah swt  QS al-Imran (3): 144 sebagai berikut:
$tBur JptèC žwÎ) ×Aqß™u‘ ô‰s% ôMn=yz `ÏB Ï&Î#ö7s% ã@ß™”�9$# 4 û'ïÎ*sùr& |N$¨B ÷rr& Ÿ@ÏFè% ÷Läêö6n=s)R$##’n?tã öNä3Î6»s)ôãr& 4 `tBur ó=Î=s)Ztƒ 4’n?tã Ïmø‹t6É)tã `n=sù §ŽÛØtƒ ©!$# $\«ø‹x© 3 “Ì“ôfu‹y™ur ª!$# tûïÌ�Å6»¤±9$#  

Terjemahannya:
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[9] 

Mendengar  ayat tersebut Umar ibn Khatab tidak berdaya. Ia  terduduk lemas seolah-olah tubuhnya tidak bertulang lagi dengan ayat yang dibacakan oleh Abu Bakar bahwa ternyata Rasulullah benar-benar  telah wafat.
Ayat itu merupakan bentuk penyadaran yang dilakukan Abu Bakar untuk menghilangkan keragu-raguan atas wafatnya Rasulullah saw. Abu Bakar mempunyai kebesaran jiwa tidak seperti yang dilakukan oleh Umar bin Khatab dan orang-orang islam lainnya, ia adalah manusia pilihan Rasululullah.  Nampaknya Abu Bakar sangat memahami kondisi spritual kaum muslimin saat itu terutama para sahabat.
Dibalik wafatnya Rasulullah ternyata kaum anshar sedang gencar-gencarnya membicarakan pengganti Rasulullah, sementara jasad beliau belum dimakamkan. Mereka beranggapan bahwa yang layak menjadi pengganti Rasulullah adalah dari kalangan anshar karena jumlah mereka  yang paling banyak, kaum anshar akan membai’at  Sa’ad ibn Ubadah sebagai pengganti Rasulullah. Tetapi diantara mereka ada yang membayangkan bagaimana kalau seandainya kaum muhajirin tidak menyepakati, maka mereka akan menjawab, bukankah kaum ansar pelindung Muhammad,  kalau kemudian kaum muhajirin mengatakan “mengapa kalian menuntut urusan ini setelah Rasulullah wafat”.[10]
Mendengar  jawaban itu Sa’ad ibn Ubadah sangat kaget, ingatannya menerawang ke belakang,  hal ini masih diliputi suasana  pertikaian dalam membicarakan pembai’atan Sa’ad,  lantas dia mengatakan bukankah ini  sebagai tanda kelemahan kata Sa’ad yang ditujukan kepada kaum Aus  yang dinilai masih mempunyai kelemahan, ungkapan ini menurut Sa’ad bukan dari kaum  Khazraj. Bukankah  orang-orang Aus akan merasa iri jika dicalonkan oleh suku  Khazraj sebagai penganti kedudukan Rasulullah.[11]
Bersamaan dengan pembicaraan golongan anshar mengenai rencana kekuasaan atas seluruh kaum muslimin di Saqifah bani Sa’id, Umar Bin Khatab, Abu Ubaidah  Ibn Jarrah dan beberapa tokoh sahabat lainnya sedang berbincang-bincang di masjid. Di tempat lain seperti Abu Bakar, Ali ibn Thalib  serta beberapa ahlul bait  sedang mengelilingi jenazah Rasulullah sambil mempersiapakan pemakaman beliau.[12]
Umar Bin Khatab tidak  pernah   mengirah sebelumnya, jika kaum anshar mendahului untuk membicarakan mengenai kepemimpinan  kaum muslimin  sudah setelah Rasulullah wafat. Padahal beliau  sedang berpikir tentang hal itu setelah merasa yakin bahwa Rasulullah wafat.  Dalam buku “ath-Thalabat”,  Ibnu Sa’ad  menguraikan bahwa  Umar bin Khatab pergi menemui Ubaidah  ibn Jarrah yang dijuliki Amirul Ummah itu. Tiba-tibah Umar berkata kepada Abu Ubaidah “  Bukalah tanganmu, akan aku bai’at engkau,  sebab engkau adalah Amirul Mu’minin” dari semua ucapan Rasulullah.” Dengan wajah  penuh keheranan, Abu Ubaidah  menjawab. Aku tidak pernah menyaksikan engkau sebodoh  sekarang ini,  selama aku menjadi orang islam wahai Umar. Apakah engkau membai’atku  sedangkan diantara kita  terdapat as-Syidiq  yang merupakan orang kedua  didalam gua  bersama Rasulullah.[13]   
Di tengah pembicaran mereka, seseorang mendadak  memberi tahu bahwa golongan anshar sedang berkumpul  di Saqifah Bani Sa’idah. Mendengar berita itu Umar menyuruh orang itu untuk memanggil Abu Bakar di rumah Aisyah, tetapi Abu Bakar menjawab melalui  pesuruh itu: “katakan kepada Umar bahwasanya aku sibuk. Umar mengulangi perintah itu lagi, katakan kepadanya ada suatu kejadian penting yang mengharuskan Abu Bakar segera datang menemui kami.” Abu Bakar datang menjumpai Umar  dengan wajah penuh keheranan ,” apakah ada urusan lain yang lebih utama  dari pada mengurusi jenazah Rasulullah”?. Tanya Abu Bakar. “Apakah engkau tidak mengetahui bahwa golongan anshar  sedang mengadakan pertemuan  di Saqifah Bani Sa’ad untuk mengangkat Sa’ad ibn ubadah  sebagai pemimpin Umat.?[14] Kata Umar.
Setelah mendengar  perkataan Umar, Abu Bakar  langsung bergegas  pergi ke Saqifah  Bani Sa’ad bersama Umar dan Abu Ubaidah untuk menyelesaikan persoalan ini, dengan terlebih dahulu menyerahkan persiapan  pemakaman Rasulullah kepada keluarga Ahlul bai’at. Karena ia memiliki kewajiban untuk menyelesaikan persoalan itu. Setelah sampai di Saqifah Abu Bakar, Umar, dan Ubaidah  golongan anshar masih terlibat pembicaraan yang serius, belum ada keputusan yang dihasilkan, golongan anshar sangat terkejut  melihat tamu yang tidak diundang itu, mereka diam dan diliputi kebingungan. Tiba-tiba  Umar memecah keheningan suasana itu  dengan menanyakan orang berkerudung  yang ada di antara golongan anshar “ siapa dia?” kearah orang yang berkerudung. “Sa’ad bin Ubadah,” jawab orang-orang Anshar sambil menambahkan bahwa ia sedang sakit.[15] 
Sungguh menarik prakarsa pembentukan khalifah justru atas inisiatif kaum Anshar yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj merupakan penduduk asli Madinah.[16] Kondisi demikian disebabkan oleh dua faktor, yaitu pertama, kaum Anshar adalah penduduk asli Madinah yang banyak menolong Nabi Saw. Dan kaum muslimin dari Mekkah. Sedangkan faktor kedua adalah sense of crisis (kepekaan terhadap Krisis) yang dimiliki kaum Anshar dalam menyikapi kekosongan kepemimpinan,  yaitu hilangnnya kontrol atau kendali atas pengaruh syiar islam pada diri kaum muslimin yang terbesar di berbagai suku di Kota Mekkah, Madinah dan sebagian kecilnya Jazirah arab.
Ketika kaum muhajirin dan anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah terjadi perdebatan tentang calon khalifah. Masing-masing mengajukan argumentasinya tentang siapa yang layak sebagai khalifah.
Selanjutnya Abu Bakar  mengajukan dua calon yaitu Abu Ubaidah bin Jahrah dan Umar bin Khattab. Pengajuan dua calon ternyata menimbulkan kegaduhan dan perselisihan karena di antara keduanya terdapat perbedaan kualitas, terutama menyangkut wibawah dan kedudukan.
Proses pembai’atan Abu Bakar sebagai khalifah ternyata tidak sepenuhnya lancar  karena ada beberapa orang yang belum memberikan ikrar seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Fadl bin al-Abbas, Zubair bin al-Awwam bin al-As, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amir, dan sejumlah tokoh-tokoh lainnya. Telah terjadi pertemuan sebagian kecil kaum Anshar dengan Ali bin Abi Thalib di rumah Fatimah, mereka bermaksud membai’at Ali, dengan anggapan Ali lebih patut menjadi khalifah karena Ali berasal dari Bani Hasyim yang berarti “Ahlulbait” Rasulullah saw.[17]
Keengganan Ali bin Abi Thalib serta kemungkinan adanya segelintir kaum Muhajirin dari Bani Hasyim ditepis sebagian ahli sejarah dengan kesaksian Sa’ad bin Zaid tentang tidak adanya orang yang tertinggal dalam proses pembai’atan Abu Bakar sebagai khalifah.[18]
Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah, Abu Bakar kemudian menyampaikan pidato yang memuat pernyataan antara lain :
1.      Abu Bakar  mengakui  dirinya, bahwah  bukanlah orang yang terbaik.
2.      Beliau meminta dukungan dan bantuan  selama dirinya berbuat baik dan harus  diluruskan bila dirinya berbuat tidak baik (in asa'tu).
3.      Beliau  akan memberikan hak setiap orang tanpa membedakan yang kuat  dengan yang lemah.
4.      Ketaatan  beliau  tergantung pada ketaatannya  kepada Allah.[19]
Dalam sejarah disebutkan bahwa setelah Abu Bakar selesai dibai’at  di saqifah, jenazah Rasulullah masih terbujur kaku  dirumahnya Aisyah. Di sekeliling beliau ada keluarga seperti  Ali bin Abu Thalib,  Abbas Ibn Mutalib dan beberapa orang yang mengurus jenazah, kemudian dimakamkanlah Jenazah rasulullah yang dipimpin oleh Abu Bakar as-Shidiq.[20]
Fenomena menarik dari proses pembai’atan Abu Bakar, bahwa isu menjaga persatuan dan menghindarkan perpecahan di kalangan umat islam saat itu menjadi argumentasi Abu Bakar untuk meyakinkan kekhalifahannya. Hal itu ditandai dengan munculnya orang-orang murtad, keengganan sejumlah suku membayar zakat dan pajak.  
C.    Prestasi Kekhalifahan Abu Bakar Selama Kepemimpinan
Masa pemerintahan  Abu Bakar merupakan masa kritis perjalanan syiar Islam karena dihadapkan sejumlah masalah seperti ridat atau kemurtadan dan ketidak setiaan. Beberapa anggota suku muslim menolak untuk membayar zakat kepada khalifah untuk Baitul Mal (perbendaharaan publik). Kemudian masalah berikutnya adalah munculnya beberapa kafir yang menyatakan dirinya sebagai Nabi, serta sejumlah pemberontak-pemberontak kecil lainnya.[21]
Semasa hidupnya, Rasulullah saw pernah mengirimkan satu ekspedisi ke Syria di bawah pimpinan Usman bin Zaid, putera dari Zaid bin Harits ra yang gugur pada perang Mut’ah di tahun 8 Hijriah. Pengiriman ekspedisi ini sempat diusulkan para sahabat untuk ditarik kembali ke Madinah guna membantu mengatasi masalah dalam negeri seperti memerangi orang-orang murtad, orang-orang yang enggan membayar zakat dan memadamkan pemberontak-pemberonta  lainnya.
Namun usulan ini ditolak dengan tegas oleh Abu Bakar karena pengiriman ekspedisi ini merupakan amanah dari Rasulullah saw. Sikap tegas yang ditunjukkan oleh Abu Bakar kelak membuahkan hikmah tersendiri bagi usaha penyelesaian konflik sosial di dalam negeri.
Selama 40 hari berperang melawan orang-orang Romawi di Syria, akhirnya ekspedisi Usamah meraih kemenangan. Keberhasilan ini menimbulkan opini positif bahwa islam tetap jaya, tidak akan hilang seiring dengan wafatnya Rasulullah saw. Akhirnya satu persatu suku-suku yang semula meninggalkan islam kembali memeluk islam dan loyal terhadap kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq.
Kini persoalan dalam negeri yang terakhir dan perlu segera dipadamkan adalah pemberontakan yang digerakkan oleh Nabi-Nabi palsu seperti Aswad ‘Ansi dari Yaman, Tsulaiha dari suku bani Asad di Arab Utara, Sajah binti al-Harits di Suwaid,dan Musailamah al-Kadzdzab, anggota suku Arab Tengah.
Abu Bakar mengirim Khalid bin Walid ra, untuk manumpas pemberontakan-pemberontakan tersebut dan berhasil memadamkannya. Demikian juga terhadap gerakan kemurtadan dan suku-suku yang enggan membayar zakat dapat diselesaikan dengan baik oleh Abu Bakar melalui perantaraan panglima perangnya, Khalid bin Walid ra.
Setelah permasalahan besar dalam negeri dapat diatasi dengan baik, Abu Bakar memfokuskan pada kebijakan luar negeri yakni menyelamatnya suku-suku Arab dari penganiayaan pemerintahan Persia. Untuk misi ini, Abu bakar kembali mengirimkan Khalid bin Walid ra dengan pasukannya ke Iraq dan akhirnya bertempur dengan tentara Persia di Hafir, pada tahun 12 H (633 M).[22]
Pada 15 Dzulqa’idah 12 H, Khalid bin Walid ra, mengalahkan musuhnya secara total dan menduduki seluruh Iraq Selatan. Ekspedisi berikutnya adalah ke Syria membantu perjuangan Usamah bin Zaid untuk mengamankan daerah perbatasan dari serangan orang-orang Romawi. Karena perbatasan merupakan jalur-jalur perdagangan bangsa Arab.
Sekitar bulan Rabi’uts-Tsani 13 H yang bertepatan dengan 31 Juli 634 M. Akhirnya kekaisaran Romawi dapat ditumbangkan melalui perang Ajnadin.[23] Padahal dari sekian banyak pertempuran-pertempuran pasukan muslim jauh lebih kecil dari pasukan lawan. Keberhasilan pasukan muslim mengalahkan pasukan lawan tidak terlepas dari spiritual yang tinggi kaum muslimin seperti tersirat dalam opsi yang disampaikan Khalid bin Walid ra maupun utusan-utusan muslim lainnya kepada Kaisar Persia dan Panglima Perang Romawi.
Apa yang dilukiskan Khalid bin Walid ra tentang kondisi mental spritual pasukan muslim memang tepat, karena mati syahid adalah dambaan setiap muslim dengan ganjaran surga dan kekal di dalamnya, apalagi kaum muslimin saat itu yang berada dalam barisan pasukan muslim memiliki kualitas keimanan yang tinggi dengan kesadaran akhirat yang tak tertandingi, sehingga kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan sesuatu yang didambakan karena yakin akan adanya hari perhitungan atas segala amal yang diperbuat dan kehidupan akhirat setelah kehidupan di dunia ini.
Di saat kemenangan demi kemenangan diraih pasukan muslim di Ajnadin. Abu Bakar dikabarkan jatuh sakit tepatnya pada tanggal 7 Jumadil Akhir, 13 H, dan akhirnya meninggal dunia setelah menderita sakit selama dua minggu. Beliau meninggal dunia pada usia 61 tahun pada hari Selasa, 22 Jumadil akhir, 13 H (23 Agustus 634 M).[24]
Meskipun Abu Bakar menjabat khalifah relatif singkat yakni dua tahun tiga bulan, beliau berhasil membina dan mempertahankan eksistensi persatuan dan kesatuan umat islam yang berdomisili di berbagai suku dan bangsa. Implikasi sejarah semacam ini tentu tidak teranalisis pada masa kekhalifahan Abu Bakar, karena beliau berperang bukan dengan tujuan kekuasaan melainkan semata-mata menegakkan syariat islam dan menciptakan kedamaian di mana pun umat islam berada, pekerjaan besar semacam ini tentu menguras energi tenaga dan pikiran yang sangat besar. Usia Abu Bakar yang mencapai 60 tahun ketika dilantik menjadi khalifah, dan kerja keras yang dilakukannya beresiko bagi kesehatan fisiknya, Abu Bakar pun jatuh sakit dan meninggal dunia.
Prestasi lainnya adalah upaya pengumpulan al-Qur’an. Dari dialog Umar bin Khattab dengan Abu Bakar bahwa begitu banyak para hafijuhu Qur’an yang syahid di medan pertempuran sehingga dikhawatirkan oleh Umar dapat merusak kelestarian al-Qur’an itu sendiri di masa yang akan datang.
Melalui kesaksian sejumlah sahabat yang pernah mendapat pengajaran al-Qur’an dari Rasulullah saw, dikumpulkan dan disalin kembali oleh Zaid bin Tsabit ra atas instruksi khalifah Abu Bakar. Akhirnya al-Qur’an terhimpun dalam bentuk mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf al-Imam (Mushaf Usmani).[25]
Dari sekian prestasi yang terukir pada masa kekhalifahan Abu Bakar, maka jasa terbesar Abu Bakar yang dapat dinikmati oleh peradaban manusia sekarang adalah usaha pengumpulan al-Qur’an yang kelak melahirkan mushaf Usmani dan selanjutnya menjadi acuan dasar dalam penyalinan ayat-ayat suci al-Qur’an hingga menjadi kitab al-Qur’an yang menjadi pedoman utama kehidupan umat Islam bahkan bagi seluruh umat yang ada di permukaan bumi ini.



PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Nama Abu Bakar ash-Shidiq sebenarnya yang semula bernama  Abdullah bin Usman bin Amir bin Ka’ab, ia dilahirkan di Mekkah pada tahun 573 M.  Setelah masuk islam dia diberi  nama oleh Rasulullah dengan nama Abdullah, dari seorang ayah  Abu Qahafah yang semula bernama Utsman bin Amir  Sedangkan ibunya bernama  Ummu  al-Kahar yang semula bernama Salma binti Sakhr  ibnu Amir. Sebutan lain baginya adalah Atit artinya “lolos/lepas”. Karena setiap melahirkan  anak laki-laki selalu mati. Setelah beliau baligh/remaja  menjadi pedagang yang sukses dan dermawan. Beliau adalah orang paling setia mendampingi Muhammad saw  dalam menyebarkan ajaran islam dimana pun beliau berada, dan harta bendanya hampir semua dipergunakan untuk jihad di jalan Allah.
2.      Ketangkasan Abu Bakar menyikapi adanya pergantian Nabi Muhammad  saw setelah wafat, atas inisiatif kaun anshar di Saqifah Bani Sa’ idah setelah menerimah informasi dari Umar bin Khatab.  Pembentukan khilafah cukup singkat, alot dan cukup demokratis. Akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq dibaiat sebagai khalifah walaupun ada sebagian  yang kurang sepakat dengan pembaiatan Abu Bakar. Andaikata Abu Bakar tidak cepat mengambil tindakan dalam menyikapi  persoalan tersebut kemungkinanya  umat islam akan terpecah menjadi beberapa kelompok.
3.      Banyak prestasi Abu Bakar ra. Selama masa kekhalifahannya  walaupun hanya dua tahun,  yakni dapat meletakan  sendi-sendi pemerintahan dan kedaulatan islam di dua imperium dunia yang menjadi poros peradaban dunia saat itu. Sedangkan prestasi terbesarnya adalah upaya pengumpulan mushab-mushab al-Qur’an dan  dihimpun ke dalam sebuah kitab suci al-Qur’an, memberantas kaum murtad,  para pembankang yang tidak  mau membayar zakat,  dan munculnya Nabi-Nabi palsu.



DAFTAR PUSTAKA
Ali, K. A Studi of Islamic History, diterjemahkan oleh Gufran A, Mas’adi dengan judul Sejarah Islam Mulai dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani: Tarikh Pra Modern. Cet. II; Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1997.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Semarang: CV. Toha Putra, 1989.
Haekal, Muhammad Husain, As-Siddiq Abu Bakr, diterjemahkan oleh Ali Audah dengan judul Abu Bakar as-Siddiq (Sebuah Biografi). Cet. II; Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2001.
Hisyam, Ibn. Al Sirah Al Nabawiah. Jilid IV; Beirut. Dar Al Jil, 1987.
Al-Kandahlawy, Syaikh Muhammad Yusuf. Mukhtashar Hayatush-Shahabat. Diterjemahkan oleh Kathur Suhardi dengan judul Sirah Shahabat. Cet. I; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998.
Khan, Majid Ali. The Pios Caliphs, ditejemahkan oleh Joko S. Abd. Kahhar dengan judul Sisi hidup para khalifah Saleh. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 2000.
Mu’nis, husain. ‘Alam al-Islam. Misra: Dar al-Ma’arif, 1973.
Mubarakfuri, Syaikh Shafiyur Rahman. Ar-Rahiq al-Makhtum Bahtrun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhal as-Shalat was-Salam, diterjemahkan oleh Rahmat dengan judul Sirah Nabawiyah. Cet. I; Jakarta: Rabbani Press, 1998.
Nasution, Harun. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Cet. IV; Bandung: Mizan, 1996.
Nasution, Lahmuddin. Penerapan Syariat Islam Pada Masa Khulafa` Ar-Rasyidin. Fosting Blog Internet pada tanggal , 29 Jun 2006.
Sou’yb, Joesoef. Sejarah Daulat Khulafaurrasyidin. Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Syalabiy, Ahmad. Mausu’ah al-Tarikh al-Islamiy wa al-hadarah al-Islamiyah, jilid I. Cet. VIII; al-Qahirah: Maktabah al-Nahdah, 1978.
Al-Tabari, Abu Ja’far Ibn Jarir. Tarikh Al Umam Wa Al Mulk. Jilid III; Kairo: Dar Al Fikr, 1979.



[1]Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran  (Cet. IV; Bandung: Misra, 1996), h. 101.
[2]Muhammad Husain Haikal, Biografi Abu Bakar ash-Shidiq. Penerjemah Abdul Kadir  Mahdamy” Penyunting, Ida Rahmawati. Jakarta: Qisth  Press, 2007, h. 26.
[3]Ibid., h. 26
[4]Ibdid., h.52
[5]Lihat Majid Ali Khan, op. cit., h. 20.
[6] Muhammad Husain Haikal, op. cit., h. 53.
[7]Ibid., h. 53
[8]Ibdid., h 54
[9]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang:( CV. Toha Putra, 2002)
[10]Ibid., h. 60
[11]Ibid., h. 60
[12]Ibid., h. 62
[13]Ibdid, h.62
[14]Ibdid, h. 63

[15]Ibdi, h.63
[16]Ibn Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiah, Jilid IV; Dar Al Jil, 1987, h. 225.
[17]Muhammad Husain Haekal, As-Siddiq Abu Bakar, Diterjemahkan oleh Ali Audah dengan Judul Abu Bakar as-Siddiq (Sebuah Biografi)  (Cet. II; Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001), h. 48.
[18]Ibid., h.51.
[19]Lahmuddin Nasution, Penerapan Syariat Islam Pada Masa Khulafa` Ar-Rasyidin. Fosting Blog Internet pada tanggal , 29 Juni 2006.
[20] Muhammmad Haikal op.cit. h. 72
[21]Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawy, Mukhtashar Hayatush-Shahabat, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi dengan judul Sirah Shahabat (Cet. I; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998), h. 153.
[22]Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaurrasyidin, ( Cet. 1: jakarta: Bulan Bintang, 1979)., h. 24.
[23]Ibid., h. 117.
[24]Majid Ali Khan, op cit., h.51.
[25]Muhammad Husain Haekal, op.cit.,h. 341.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar