Tambah Income Jutaan Rupiah

Kamis, 14 April 2011

ASBAB AL-NUZUL

By. Agustini
A.       Latar Belakang Masalah
Agama Islam yang dianut oleh kaum muslim diseluruh dunia merupakan pedoman hidup yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia mempunyai satu dasar utama yang essensial yang berfungsi memberi petunjuk kejalan yang sebaik-baiknya, yakni Al-Qur’an. Kitab suci Al-Qur’an merupakan landasan hukum pertama dalam Islam, Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan hukum (Syari’at), aqidah (Keimanan) dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar tentang persoalan-persoalan tersebut.
Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus, menegakkan suatu kehidupan yang didasarkan kepada keimanan kepada Allah dan risalah-Nya. Bebarapa di antaranya langsung disimpulkan dari lafal dan teks, bahwa firman Allah swt  itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan kepada orang-orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang.[1]
Dalam mengkaji Al-Qur’an banyak memerlukan ilmu bantu dan salah satu ilmu yang  mendasar yang diketahui oleh orang yang bergelut dengan kajian Al-Qur’an adalah ilmu Asbab al-Nuzul. Asbab al-Nuzul adalah konsep, teori, atau berita tentang sebab turunnya wahyu kepada Nabi saw baik berupa satu ayat, rangkaian ayat, atau satu surah.
Asbab al-Nuzul merupakan salah satu pokok bahasan yang penting dalam ulum al-Qur’an, karena dengan mengetahui Asbab al-Nuzul dapat  membantu memahami dan menyingkap rahasia-rahasia yang ada dalam Al-Qur’an.
B.     Rumusan Masalah
Terkait dengan luasnya pembahasan mengenai ilmu Asbab al-Nuzul, maka dalam makalah ini penulis secara khusus akan membatasi pembahasan tentang masalah-masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian Asbab al-nuzul?
2.      Bagaimana mengetahui berbilangnya riwayat Asbab al-Nuzul sedang ayat yang turun hanya satu?   
3.      Apa urgensi Asbab al-Nuzul dalam memahami kandungan al-Qur’an?
4.      Bagaimana cara menetapkan hukum dalam kaitannya dengan Asbab al-Nuzul?
C.     Signifikasi Pembahasan
1.      Tujuan 
a.       Untuk Memahami pengertian Asbab al-Nuzul.
b.      Untuk memahami berbilangnya riwayat Asbab al-Nuzul sedang ayat yang turun hanya satu.
c.       Untuk memahami urgensi Asbab al-Nuzul dalam memahami kandungan al-Qur’an.
d.      Untuk memahami cara menetapkan hokum dalam kaitannya dengan Asbab al- Nuzul.
2.      Kegunaannya ada dua sebagai berikut:
a.       Ilmiah yaitu: membantu memahami inspirasi dan wawasan yang  sistimatis tentang Asbab al-Nuzul.
b.      Praktisnya yaitu:
·         menolong dalam memahami hikmah syari’at.
·         menghilangkan rasa keraguan pada sebagian ayt-ayat al-Qur’an.
·         menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang sifatnya masih samar. 
·         Mencegah kekeliruan dalam memahami kandungan hukum suatu ayat.
·         Memperkokoh keyakinan akan kemukjizatan al-Qur’an.
 

 
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Asbab Al-Nuzul
Secara etimologis kata Asbab al-Nuzul berasal dari kata “asbab” dan “nuzul”.[2] Kata asbab merupakan bentuk jamak dari kata sababun yang berarti sebab, alasan, illat.[3] Sedangkan kata nuzul berasal dari kata kerja nazala yang berarti turun.[4] Secara tersminologis,  Asbab al-Nuzul dapat diartikan sebab-sebab yang melatar belakangi turunnya ayat (Al-Qur’an), seperti halnya asbabul wurud dalam istilah ulumul hadits.
Menurut Al-Zarqani, Asbab al-Nuzul atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan dengan turunnya suatu ayat. Pernyataan senada juga diutarakan oleh Shubhi Al-Shalih bahwa sesuatu yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat yang memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab itu.[5] Sedangkan Ash-Shabuni mengatakan bahwa turunnya suatu ayat disebabkan atau oleh adanya suatu peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan peristiwa tersebut, baik itu berupa pertanyaan dari para sahabat ataupun kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.[6]
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan para ahli di atas dapat ditarik dua kategori mengenai sebab turunnya sebuah ayat. Pertama, sebuah ayat turun ketika terjadi sebuah peristiwa sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Abbas tentang perintah Allah swt kepada Nabi saw untuk memperingatkan kerabat dekatnya. Lalu, Nabi saw naik ke bukit Shafa dan memperingatkan kaum kerabatnya akan azab yang pedih. Karena itu, Abu Lahab berkata: “Celakalah engakau! Apakah engakau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini? Lalu ia berdiri, dan turunlah surah al-Lahab. Kedua, Sebuah ayat turun bila Rasulullah saw ditanya tentang sesuatu hal, untuk menjawab pertanyaan itu turunlah ayat Al-Qur’an yang menerangkan hukumnya seperti pengaduan Khaulah binti Tsa’labah kepada Nabi saw berkenaan dengan zhihar yang dijatuhkan suaminya Aus bin Samit, padahal saat itu, Khaulah binti Tsa’labah telah menghabiskan masa mudanya dan sering melahirkan  sehingga menjadi tua karenanya. Ketika suaminya men-zhihar dirinya saat sudah berusia tua  dan tidak bisa melahirkan lagi, ia pun protes. Lalu, mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw tentang kasus yang menimpanya. Kemudian turunlah ayat: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya”, yakni Aus bin Samit.[7]
Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa Asbab al-Nuzul merupakan peristiwa atau kejadian yang melatarbelakangi turunnya satu atau beberapa ayat dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari peristiwa tersebut. Jadi dapat dipahami bahwa Asbab al-Nuzul ada beberapa unsur penting yang harus dilihat dalam menganalisa sebab turunnya suatu ayat, yaitu adanya suatu peristiwa, pelaku,  waktu, dan tempat perlu diidentifikasi dengan cermat guna menerapkan ayat-ayat itu pada kasus lain dan di tempat dan waktu yang berbeda.[8] Hal ini tidak berarti bahwa setiap ayat yang turun disebabkan oleh suatu peristiwa atau kejadian, atau karena adanya pertanyaan kepada Nabi mengenai agama. Tetapi ada diantara ayat yang turun tanpa adanya sebab, yaitu mengenai aqidah, iman, kewajiban-kewajiban dalam Islam.
B.     Berbilangnya Riwayat Asbab al-Nuzul Sedang Ayat Yang Turun Hanya Satu
Allah swt menjadikan segala sesuatu melalui sebab- musabbab dan menurut suatu ukuran. Tidak seorangpun lahir dan melihat cahaya kehidupan tanpa melalui sebab-musabbab dan melalui berbagai perkembangan. Tidak sesuatu pun terjadi dalam wujud ini kecuali setelah melewati pendahuluan dan perencanaan, begitu juga pada perubahan cakrawala pemikiran manusia terjadi setelah melalui persiapan dan pengarahan. Itulah Sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya.
Pada dasarnya Asbab al-Nuzul tiadak bisa dijangkau oleh akal, akan tetapi harus berdasarkan riwayat yang sahih atau melalui penyaksian secara ,langsung ayat tersebut turun karena dalam mempelajari Asbab al-Nuzul ayat-ayat Al-Qur’an, diharuskan bersandar kepada riwayat yang sahih. Ada yang berbilang riwayatnya, sedang ayat yang diturunkan hanya satu begitu juga sebaliknya.
Pertama, maenyangkut Asbab al-Nuzul satu ayat, maka terlebih dahulu diteliti redaksinya yang mana kuat sanadnya itulah yang dijadikan Asbab al-Nuzul dan apabila riwayatnya sama sahihnya, maka diteliti redaksinya untuk mendapatkan salah satu segi mentarjinya.
Kedua, Kadang ada suatu peristiwa atau masalah yang dihadapi Nabi, lalu turun ayat sebagai pedoman bagi Nabi untuk mengatasinya. Kemudian turun lagi ayat lain juga mengenai masalah yang sama. Ada beberapa ayat yang turun untuk menyelesaikan suatu persoalan dan ayat-ayat tersebut tidak turun sekaligus. Hal ini semua bisa saja terjadi yang menyebabkan turunya suatu ayat, dimana ayat tersebut manjelaskan pandangan al-Qur’an denagn peristiwa yang terjadi.              
Tidak ada bukti yang menyingkap kebenaran sunnatullah itu selain sejarah, demikian pula penerapannya dalam kehidupan. Seorang sejarahwan yang berpandangan tajam dan cermat mengambil kesimpulan, dia tidak akan sampai kepada fakta sejarah jika tidak mengetahui sebab-musabbab yang mendorong terjadinya peristiwa.
Tapi tidak hanya sejarah yang menarik kesimpulan dari rentetan peristiwa yang mendahuluinya juga ilmu alam, ilmu sosial dan kesusastraan pun dalam pemahaman memerlukan sebab-musabbab yang melahirkannya, disamping tentu saja pengetahuan tentang prinsip-prinsip serta maksud tujuan.[9]
C.     Urgensi Asbab al-Nuzul Dalam Memahami kandungan Al-Qur’an
Ada orang yang berpendapat bahwa mengetahui Asbab al-Nuzul itu tidak begitu penting, karena tidak mempunyai tempat dalam perkembangan sejarah dan kisah-kisah, bahkan tidak merupakan kebutuhan pokok bagi orang yang hendak menafsirkan Kitabullah. Menurut penulis, ini adalah pendapat yang keliru dan merupakan ucapan yang tidak bisa diterima dan sangat jelas perkataan seperti itu tidak keluar dari orang yang mengetahui tentang Al-Qur’an, juga tidak pernah membaca pendapat para ulama tafsir.
Berkenaan dengan  hal di atas maka penulis akan memaparkan pendapat para ulama tentang pentingnya mempelajari Asbab al-Nuzul:
1.         Imam Al-Wahidi mengatakan: Tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat, tanpa mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu.
2.    Imam Ibnu Daqieq al-Ied mengemukakan bahwa keterangan sebab turunnya ayat adalah cara yang kuat dan penting dalam memahami makna-makna Al-Qur’an.
3.    Ibnu Taimiyah mengatakan: Mengetahui Asbab al-Nuzul sangat membantu untuk memahami ayat. Sesungguhnya dengan mengetahui sebab’ akan mendapatkan  ilmu Musabbab.[10]
Dalam Ulumul Qur’an, ilmu Asbab al-Nuzul merupakan ilmu yang sangat penting dalam menunjukkan hubungan dialektika antara teks dan realita.[11] Dalam uraian lebih rinci, urgensi asbab al-Nuzul dalam memahami Al-Qur’an sebagai berikut:[12]
1.      Membantu dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan mengatasai ketidak pastian dalam menangkap pesan dari ayat-ayat tersebut contohnya: dalam Al-qur’an surah Al-Baqarah (2):115
ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله

Terjemahnya:
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah”.[13]
Dalam Kasus Shalat: Dengan melihat ayat di atas, seseorang boleh menghadap kiblat ketika shalat. Akan tetapi, setelah melihat asbab al-Nuzulnya, kekeliruan interpretasi tersebut sangat jelas, sebab ayat di atas berkaitan dengan seseorang yang sedang berada dalam perjalanan dan melakukan shalat di atas kendaraan dan tidak diketahui dimana arah kiblat.
2.      Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum con tohnya dalam surah Al-An’am (6):145 dikatakan:
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Terjemahnya:                                                                                                             
“Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi Karena  sesungguhnya semua itu kotoran atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah barang siapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhan-Mu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[14]
Menurut Asy-Syafi’i pesan ayat ini tidak bersifat umum, tapi untuk mengatasi kemungkinan adanya keraguan dalam memahami ayat di atas, beliau menggunakan Asbab al-Nuzul. Ayat ini menurutnya, diturunkan sehubungan dengan orang-orang kafir yang tidak mau memakan sesuatu, kecuali apa yang telah dihalalkan Allah, dan menghalalkan yang telah diharamkan Allah merupakan kebiasaan orang-orang kafir, terutama orang yahudi, maka turunlah ayat di atas.
3.      Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat khusus dan bukan lafaz yang bersifat umum.
4.      Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya ayat Al-Qur’an sebagaimana kasus Aisyah yang pernah menjernihkan kekeliruan Marwan yang menunjuk Abdul Rahman Ibn Abu Bakar sebagai orang yang menyebabkan turunnya ayat. Untuk meluruskan masalah ini, Aisyah berkata kepada Marwan, “Demi Allah, bukan dia yang menyebabkan ayat ini turun, dan aku sanggup menyebutkan siapa orang yang sebenarnya.
5.      Memudahkan untuk menghafal dan memahmi ayat, serta untuk menetapkan wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya, hal ini karena hubungan sebab akibat hukum, peristiwa dan pelaku, masa dan tempat merupakan jalinan yang dapat mengikat hati.
6.      Untuk mengetahui situasi histories pada zaman Nabi, perkembangan komunitas muslim dan untuk mengetahui tujuan ayat yang diturunkan, serta maksud   asal sebuah ayat.
D.    Cara menetapkan hukum dalam kaitannya dengan  Asbab Al-Nuzul
            Sekian banyak ayat al-Qur’an yang turun oleh ulama dinyatakan harus dipahami dalam konteks Asbab al-Nuzul. Seperti diketahui bahwa setiap Asbab al-Nuzul mencakup: (a) peristiwa, (b) pelaku (c) waktu, bahwa ayat yang turun itu berinteraksi dengan kanyataan yang ada dan dapat dikatakan bahwa kenyataan tersebut mendahului atau tidak berasamaan dengan keberadaan ayat yang turun di muka bumi ini.[15]
            Penganut paham “العبر ة بخصوص السببل لابعموم اللفظ” menekankan perlunya analogi (qiyas) untuk menarik makna dari ayat-ayat yang memiliki latar belakang Asbab al-Nuzul, tetapi dengan catatan apabila qiyas tersebut memenuhi syarat-syaratnya. Qiyas yang selama ini dilakukan menurut Ridwan al-Sayid adalah berdasarkan rumusan al- Imam al-Syafi’iy yaitu: “ilhaq fari’iy bi ashl li ittiha al- illat,” Yang hakikatnya tidak merupakan upaya untuk mengantisipasi masa depan, tetapi sekedar membahas fakta yang ada. Sebagai dalil juga yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas bahwa sanya berkata dalam ayat tentang pencurian, padahal ayat tersebut diturunkan pada seseorang perempuan yang mencuri.
Kemudian diriwayatkan juga dari Najdah bin Hanafiy, ia berkata “saya bertanya kepada Ibn ‘Abbas tentang firman Allah swt.

ä-Í$¡¡9$#ur èps%Í$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ÷ƒr& L
Terjemahannya:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.
Dari ayat tersebut apakah ini khas atau‘am?. Al-Zamakhsyariy berkata tentang tafsir surah al-Hum,azah “assabab” boleh jadi khusus dan ancamannya umum, setiap manusia yang melakukan kekejian akan memperoleh ganjaran, di samping itu juga sebagai tantangan.       
Asbab al-Nuzul diketahui melalui riwayat yang disandarkan kepada Nabi tetapi tidak semua riwayat yang disandarkan kepadanya dapat dipegang. Riwayat yang dapat dipegang adalah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu sebagaimana ditetapkan oleh para ahli hadis,  Secara khusus dari riwayat Asbab al- Nuzul adalah riwayat dari orang yang terlibat dan mengalami peristiwa yang diriwayatkannya (yaitu pada saat wahyu diturunkan). Riwayat yang berasal dari para tabi’in yang tidak merujuk kepada Rasulullah saw dan sahabatnya dianggap lemah (Dhaif); Sebab itu, seseorang tidak dapat begitu saja menerima pendapat seorang penulis atau orang seperti itu bahwa suatu diturunkan dalam keadaan tertentu. Karena itu, kita harus mempunyai pengetahuan tentang siapa yang meriwayatkan peristiwa tersebut, dan apakah ia memang sungguh-sungguh menyaksikan, dan kemudian siapa yang menyampaikannya kepada kita.[16]
Adapun hikmah mempelajari Asbab al-Nuzul adalah mencakup hikmah atas kaum muslimin dan kaum non muslim dan hikmah yang dapat di petik oleh kaum muslimin dalam mempelajari Asbab al-Nuzul adalah dapat menambah iman kaum muslimin setelah mempelajari Asbab al-Nuzul. Dan adapun hikmah yang dapat di ambil oleh kaum non muslimin adalah dapat menambah kepercayaan mereka terhadap Al-Qur’an sehingga dengan mengetahui sebab turunnya ayat di dalam Al-Qur’an dapat menjadikan mereka masuk ke dalam Islam[17]


PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari pemaparan yang telah penulis sajikan dalam bentuk yang sederhana, maka ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut:
1.      Asbab al-Nuzul merupakan suatu perangkat ilmu yang dipakai untuk lebih memahami makna dan maksud diturunkannya suatu ayat, agar terhindar dari penafsiran yang mungkin saja terjadi apabila tidak merujuk kepada sebab turun suatu ayat yang berkaitan suatu masalah.
2.      Allah menjadikan segala sesuatu melalui sebab-musabbab dan menurut suatu ukuran tidak ada sesuatu pun terjadi dalam wujud ini kecuali setelah melewati pendahuluan dan perencanaan.
3.      Asbab al-Nuzul mempunyai arti penting dalam menafsirkan Al-Qur’an. Pemahaman akan ilmu asbab al-Nuzul sangat membantu dalam memahami konteks turunnya ayat dan peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan disiplin ilmu ini.
4.      Sebab turunnya suatu ayat dalam Al-Qur’an hanya dapat diketahui keberadaannya dari dalil naqli (hadits). Adapun hikmah dari asbabu al-Nuzul adalah mencakup hikmah atas kaum muslimin dan kaum non muslim. Bagi kaum muslimin hikmah yang dapat dipetik ialah dapat menambah iman sedang bagi kaum non muslimin ialah kaum non muslimin adalah dapat menambah kepercayaan mereka terhadap Al-Qur’an sehingga dengan mengetahui sebab turunnya ayat di dalam Al-Qur’an dapat menjadikan mereka masuk ke dalam Islam.

B.     Implikasi
a.       Untuk Memahami pengertian Asbab al-Nuzul.
b.      Untuk memahami berbilangnya riwayat Asbab al-Nuzul sedang ayat yang turun hanya satu.
c.       Untuk memahami urgensi Asbab al-Nuzul dalam memahami kandungan al-Qur’an.
d.      Untuk memahami cara menetapkan hukum dalam kaitannya dengan Asbab al- Nuzul.

 

DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman, Jalaluddin, al-Itqan  fi Ulum Al-Qur’an, Jilid I. Maktabah al-Tsaqafah, Lebanon, tahun 1937.
 Anwar, Rosihan, Ulumul Qur’an, Cet. III; Bandung: Daftar Pustaka, 2006.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Damaskus: Maktabah al-Ghazali, 1390.
Ash-Shalih, Subhi, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Beirut: Pustaka Firdaus, 1985.
Ash-Shalih, Subhi Mabahits fi ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Tim Pustaka Firdaus dengan judul, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Cet. XIX; Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus, 2004.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: CV. Indah Press, 2002).
Izzan, Ahmad, Ulumul Qur’an  (Telaah Tekstual  dan Kontekstual Al-Qur’an), Cet. III; Bandung: Tafakur (Kelompok HUMANIORA)-Anggota  Ikapi, 2009.
Mardan, al-Qur’an: Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an Secara Utuh, Jakarta: Pustaka Mapan Jakarta, 2009.   
Munawwir, Ahmad Warson , Almunawwir: Kamus Arab-Indonesia, Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Shihab, Quraish, dkk., Sejarah dan Ulumul Qur’an, Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.
Zayd, Nasr Hamid Abu, Tekstualitas Al-Qur’an, (Cet. I; Yogyakarta: Lkis, 2001).


[1] Mardan, Al-Qur’an: Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an Secara Utuh, (Jakarta: Pustaka Mapan,2009), h. 51.
                1 Rosihan Anwar, Ulumul Qur’an, (Cet. III; Bandung: Daftar Pustaka, 2006), h. 60
[3] Ahmad Warson Munawwir , Almunawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 602
[4] Ibid., h. 409
[5] Quraish Shihab., dkk., Sejarah dan Ulumul Qur’an, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 78. Lihat juga, Subhi As-Shalih dalam Mabahits fi ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Tim Pustaka Firdaus dengan judul, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, (Cet. XIX; Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus, 2004), h. 173.
[6] Muhammad Ali Ash-Shabuni, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, (Damaskus: Maktabah al-Ghazali:, 1390), h . 22
[7] Ahmad Izzan, Ulumul Qur’an  (Telaah Tekstual  dan Kontekstual Al-Qur’an), (Cet. III; Bandung: Tafakur (Kelompok HUMANIORA)-Anggota  Ikapi, 2009), h. 181-182
[8] Quraish shihab., dkk., Op Cit., h. 78
[9] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, (Beirut: Pustaka Firdaus, 1985), h. 153
[10] Jalaluddin Abdurrahman, al-Itqan  fi Ulum Al-Qur’an (Maktabah al-Tsaqafah, Lebanon, tahun 1937, Jilid 1), h. 28
[11] Nasr Hamid Abu Zayd, Tekstualitas Al-Qur’an, (Cet. I; Yogyakarta: Lkis, 2001), h. 125
[12] Rosihan Anwar, Op Cit,.h. 64-66
[13] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: CV. Indah Press, 2002), h. 31  
[14]  Ibid., h. 212
[15]Dr.  Mardan, M.Ag, op. cit, h. 56.

[16] Quraish Shihab., dkk., Op Cit., h. 81

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar