Tambah Income Jutaan Rupiah

Rabu, 13 April 2011

BANI UMAYYAH: Perkembangan Sastra, Ilmu, Ekonomi dan Administrasi

By. Irwan Usa Mahmud
A.Latar Belakang Masalah
Zaman terus berputar, peristiwa sejarah akan berulang, hanya pelaku, tempat dan situasinya yang berbeda. Putaran zaman mempergilirkan antara kebaikan dan keburukan. Dan kondisi suatu zaman akan sangat dipengaruhi oleh siapa yang menjadi pemimpinnya saat itu. Hal ini dapat kita saksikan pada perjalanan umat Islam dari semenjak masa kenabian, khulafa’urrasyidin serta masa kedinastian Bani Umayyah dan Abbasiyah.

Setelah pemerintahan khulafa’urrasyidin berakhir, maka Bani Umayyah muncul yang dibentuk oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Bani Umayyah diakui secara resmi melanjutkan khilafah Islam setelah berakhirnya sengketa antara Hasan bin Ali dengan Muawiyah bin Abi Sofyan sebagai lambang penguasa Daulah Umayyah.[1]
Dalam sistem pemerintahan, Bani Umayyah  telah mengubah sistem suksesi kepemimpinan dengan jalan musyawarah menjadi monarkhi atau sistem kerajaan yang diwariskan secara turun temurun. Hal ini dapat dilihat dari sikap Muawiyah mengangkat anaknya sendiri Yazid, sehingga pada umumnya sejarawan memandang negatif terhadap Muawiyah karena pada awal keberhasilan memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalam perang di Shiffin dicapai melalui arbitrase.[2]
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibukota Negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Umayyah ini adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd al-Malik ibn Marwan (685-705 M), al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abd al-Aziz (717-720 M) dan Hasyim ibn Abd al-Malik (724-743 M).[3]
Wilayah Islam dimasa Bani Umayyah sangat luas, daerah ini meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arabiah, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.
Di samping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga berjasa dalam pembangunan diberbagai bidang seperti bidang politik, sastra, ilmu pengetahuan, ekonomi dan administrasi.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah yaitu :
Bagaimana perkembangan dinasti Bani Umayyah di bidang  Sastra, Ilmu, Ekonomi dan Administrasi.

Perkembangan Dinasti Bani Umayyah
Kemajuan utama yang terwujud dalam masa Dinasti Bani Umayyah antara lain adalah terciptanya suasana yang kondusif dalam negara dan bersatunya kembali ummat Islam. Hal tersebut tercapai dikarenakan Muawiyah (pada awal kepemimpinannya) mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik.
Dinasti Bani Umayyah berkuasa hampir satu abad, dengan 14 orang khalifah. Dimulai dari Muawiyah ibn Abi Sufyan dan ditutup oleh Marwan ibn Muhammad. Adapun urutan khalifah Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
1.           Muawiyah ibn Abi Sufyan (41H/661M)
2.           Yazid bin Muawiyah (60 H/680 M)
3.           Muawiyah II (64 H/683 M)
4.           Marwan I ibn Hakam (64 H/684 M)
5.           Abdul Malik ibn Marwan (65 H/685 M)
6.           Al-Walid ibn Abdul Malik (86 H/705 M)
7.           Sulayman ibn Abdul Malik (96 H/715 M)
8.           Umar bin Abdul Azis (99 H/717 M)
9.           Yazid II ibn Abdul Malik (101 H/720 M)
10.       Hisyam ibn Abdul Malik (105 H/724 M)
11.       Al-Walid II (125 H/743 M)
12.       Yazid III (126 H/744 M)
13.       Ibrahim ibn al-Walid II (126 H/744 M)
14.       Marwan II ibn Muhammad (127-132 H/744-750 M)[4]
Dalam pemerintahannya, Bani Umayyah membawa dampak dalam perkembangannya, selain ekspansi yang sangat luas juga diikuti oleh kemajuan-kemajuan di berbagai bidang, di antaranya :
1.         Bidang Sastra
Pada umumnya, para pemimpinnya sangat mencintai syair dan pujaan serta kemegahan, sehingga kesustraan berkembang pesat pada saat itu. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa aspek sebagai berikut:
a.         Pertentangan Kabilah, yakni masing-masing kabilah merasa megah dengan unsur sukunya sehingga muncullah para pujangga utama untuk membela dan meninggikan kabilahnya.
b.         Penghamburan uang, yakni para khalifah dan pembesarnya memelihara para penyair khusus dengan gaji yang besar. Di samping memberi hadiah yang berganda kepada para pujangga yang mau memuja dan membela rezimnya.
c.         Fanatik Arab, yakni menghidupkan dan mengembangkan nilai-nilai kesusastraan yang terdapat dalam bahasa Arab.
d.        Gerakan Adab, yakni adanya hubungan antara orang-orang Muslim dengan bangsa-bangsa yang telah maju, sehingga bagi kaum  muslimin giat menyusun dan membina riwayat Arab, seni bahasa dan hikmah.[5]
Pada waktu pengangkatan Yazid sebagai khalifah, seorang penyair bernama Miskin al-Darimi diminta untuk menggubah dan membacakan puisi di depan publik dengan bait-bait puisi yang bernuansa politik. Bahkan pada masa pemerintahan al-Walid, seorang bernama Hammad mendapat hadiah sebesar 100 dirham karena Hammad ini berhasil menghimpun Puisi Emas berlirik yang dikenal dengan Mu’allaqat.[6]
Sekolah puisi provinsi pada masa Umayyah dikepalai oleh al-Farazdaq (+640-728) dan Jarir (w. 729), dan sekolah puisi di ibukota kerajaan dikepalai oleh al-Akhthal (+640-710). Ketiganya merupakan yang terdepan di antara para penyair unggulan sebelum mereka. Dengan puisi pujiannya, yang menjadi salah satu sumber penghidupan bagi mereka, para penyair ini memiliki peran seperti media massa dewasa ini.[7]
2.         Bidang Ilmu Pengetahuan
Pemerintahan dinasti Bani Umayyah yang dibina atas dasar kekerasan dan mata pedang, serta jiwanya yang sangat kental dengan kefilsafatan membuatnya sangat menghormati para cendikiawan sebagai tempat mengadu. Bahkan mereka menyediakan dana khusus untuk para ulama dan filosof.[8] Penghormatan kepada ulama karena didorong oleh semangat keagamaan mereka.
Pada periode ini belum ada  pendidikan formal. Putra-putra khalifah Bani Umayyah biasanya akan di sekolahkan ke Badiyah, gurun Suriah. Ke sanalah Muawiyah mengirimkan putranya  yang kemudian menjadi penerusnya (Yazid).
Di masa khalifah Umar bin Abd Aziz, para da’i Islam dikirim ke berbagai negara seperti India, Turki, Asia Tengah, Afrika, Andalusia dan sebagainya dengan misi utama agar mereka masuk Islam. Waktu itu, beliau memerintahkan semua warganya untuk berbondong-bondong mempelajari hukum Islam di setiap bangunan terutama masjid dalam rangka menyebarkan ilmu pengetahuan. Kemudian ia menyuruh golongan cendikiawan muslim agar menerjemahkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang termaktub dalam kitab-kitab berbahasa Yunani dan Latin ke bahasa Arab , agar ilmu-ilmu tersebut dapat dicerna oleh ummat Islam.[9] Dan di masa Umar bin Abd Aziz inilah beliau menginstruksikan untuk mentadwinkan kitab-kitab hadits.[10]
Kota-kota yang menjadi pusat kegiatan ilmu pada masa Bani Umayyah masih seperti zaman Khulafaurrasyidin, yaitu Damaskus, Kuffah, Basrah, Mekkah, Madinah, Mesir dan ditambah lagi dengan pusat-pusat baru seperti Kairawan, kordoba, Granada dan lain-lainya. Ilmu pengetahuan pada masa itu terbagi menjadi dua yaitu;
a.         Al-Adaabul Hadisah (ilmu-ilmu baru) yang terdiri dari dua bagian, yaitu:
1). Al-Ulumul Islamiyah, yaitu ilmu-ilmu al-Qur’an, al-Hadits, al-Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, at-Tarikh dan al-Jughari.
2). Al-Ulumul Dakhiliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperlukan oleh kemajuan Islam, seperti Filsafat, ilmu pasti dan ilmu-ilmu eksakta lainnya yang disalin dari bahasa Persia dan Romawi.
b.         Al-Adaabul Qadimah (ilmu-ilmu lama), yaitu ilmu-ilmu yang telah ada di zaman Jahiliyah dan di zaman khulafaurrasyidin, seperti ilmu-ilmu lughah, syair, khitabah dan amsaal.[11]
Adapun tokoh-tokoh ilmu pengetahuan diantaranya Abu al-Aswad al-Du’ali (perintis tata bahasa), al-Khalil ibn Ahmad (penyusun Kitab al-Ayn), Hasan al-Bashri, Ibn Syihab al-Zuhri, Amir ibn Syarahil al-Sya’bi, Abu Hanifah, Abid ibn Syaryah dan Wahb ibn Munabbih.[12]
3.         Bidang Ekonomi
Dalam upaya membiayai roda pemerintahan, maka dibentuklah Bait al-Mal sebagai kas perbendaharaan Negara. Semua hasil bumi dan pajak lainnya dimasukkan ke  Bait al-Mal tersebut yang dikoordinir oleh Diwan al-Kharaj. Hasil bumi yang digarap oleh masyarakat disetor 5% ke pemerintah, sedangkan pajak untuk setiap transaksi disetor sebesar 10%. Khusus barang dagangan yang nilainya kurang dari 200 dirham tidak dikenakan  pajak.[13]
Sumber dana lain untuk pengisian Bait al-Mal adalah pajak kekayaan yang khusus ditujukan kepada non Muslim yang daerahnya dikuasai oleh pemerintahan Islam. Dana-dana tersebut digunakan untuk pembangunan pada sektor-sektor penting, yakni jalan raya dan sumur-sumur di sepanjang jalan dan pembangunan pabrik-pabrik. Pemerataan pembangunan bukan hanya pada suatu daerah, akan tetapi dilakukan upaya-upaya distribusi ke daerah-daerah secara adil.[14]
Kemudian kebijakan yang strategis pada masa dinasti Bani Umayyah adalah adanya sistem penyamaan keuangan. Hal ini terjadi pada masa khalifah Abdul Malik. Dia mengubah mata uang asing Bizantium dan Persia yang diipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Mata uang tersebut terbuat dari emas dan perak sebagai lambang kesamaan kerajaan ini dengan imperium yang ada sebelumnya.
4.         Bidang Administrasi
Administrasi pemerintahan Bani Umayyah telah nampak pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus. Muawiyah dikenal dalam kepemimpinannya karena dalam dirinya terkumpul sifat seorang politikus dan administrator. Di zaman ini pertama dikenalkan materai resmi untuk mengirimkan memorandum yang berasal dari Khalifah serta pertama kali menggunakan pos untuk mengumumkan kejadian-kejadian penting dengan cepat.
Penambahan administrasi pemerintahan besar-besaran terjadi pula pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dia melakukan pembenahan administrasi negara dengan memerintahkan para pejabat negara menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi dalam pemerintahan. Hal tersebut pertama kali diterapkan di Syiria dan Irak, kemudian di Mesir dan Persia.[15]
Dalam menjalankan pemerintahannya, Khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa al-Kuttab yang meliputi:
a.    Katib ar-Rasail yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat menyurat dengan pembesar-pembesar setempat.
b.    Katib al-Kharraj yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran Negara.
c.    Katib al-Jund yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan hal-hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
d.   Katib asy-Syurthahk yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
e.    Katib al- Qaadhi yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.[16]
Demikianlah kemajuan-kemajuan yang dicapai dinasti Bani Umayyah yang tentunya membawa sebuah perubahan besar dalam perkembangan sejarah peradaban Islam. Hal ini setidaknya tercermin pada masa Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd al-Malik ibn Marwan (685-705 M), al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abd al-Aziz(717-720 M) dan Hasyim ibn Abd al-Malik (724-743 M).

PENUTUP
Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu :
Kemajuan yang dicapai pada masa Bani Umayyah bertitik tolak dari dua hal,  yaitu terciptanya suasana kondusif sebagai dampak dari keberhasilan menyatukan ummat Islam pada awal pembentukan dinasti dan ekspansi besar-besaran yang menyebabkan semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam. Hal inilah kemudian mempengaruhi perkembangan sastra, ilmu pengetahuan, ekonomi dan administrasi negara.
 
DAFTAR PUSTAKA
Ali, K, Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani, dari buku asli   A Study of Islamic History, diterjemahkan oleh Ghufron Aa,. Mas’adi, Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
Amin, Ahmad, Dhuha Islam, Kairo: Maktabah Al-Nahda,1972.
Al-Harwy, Abd, al-Sami Salim, Lugha al-Idarah, t.tp: al-Haiah al-Misrishriyah, 1986.
Al-Hisyam, Sejarah Kebudayaan Islam, Cet.IV; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Hitti, Phillip K, History of the Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta,2008.Isamai, M. Syhudi, Pengantar Ilmu Hadis, Cet. I; Bandung: Angkasa, 1988.
Ismail, M. Syuhudi, Pengantar Ilmu Hadits, Cet. I; Bandung: Angkasa, 1988.
Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet.I; Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.
Mufrodi, Ali,  Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Cet.I; Jakarta: Logos, 1999.
Al-Syaraf, Muhammad Jalal dan Ali abdul Muthy, al-fikr al-Siyasi fi al-Islam, Iskandariah: Dar al-Jama’ah al-Mashriyah, 1978.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Eds. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.



[1] Ahmad Amin, Dhuha Islam, (Kairo: Maktabah Al-Nahda,1972), h. 255 .
[2] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Cet.I; Jakarta: Logos, 1999), h. 69.
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Eds. I;Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h.43.
[4] Ali Mufrodi, op cit., h. 72.
[5] al-Hisyam, Sejarah Kebudayaan Islam, (Cet.IV; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 196.
[6] Phillip K. Hitti, History of the Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi,(Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta,2008), h.315.
[7] Ibid, h. 316.
[8] al-Hisyam, loc . cit.
[9] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Cet.I; Yogyakarta: Pustaka Book Publisher,2007), h. 131.
[10] M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. I; Bandung: Angkasa, 1988),h. 15.
[11] al-Hisyam, op . cit, h. 183.
[12] Phillip K. Hitti, op. cit, h. 302-305.
                [13] Muhammad Jalal al-Syaraf & Ali abdul Muthy, al-fikr al-Siyasi fi al-Islam, (Iskandariah: Dar al-Jama’ah al-Mashriyah, 1978), h. 148.
[14] Abd, al-Sami Salim al-Harwy, Lugha al-Idarah, (t.tp: al-Haiah al-Misrishriyah, 1986), h. 256.
[15] K. Ali, Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani, dari buku asli A Study of Islamic History, diterjemahkan oleh Ghufron Aa,. Mas’adi, (Cet. !V; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 284.
[16] al-Hisyam, op  . cit, h. 82.ba

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar