Tambah Income Jutaan Rupiah

Jumat, 08 April 2011

Hakikat Ilmu Pengetahuan


By. Abdullah Lamase
A. Latar Belakang
            Ilmu pengetahuan merupakan produk kegiatan berfikir manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupannya dengan jalan menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh. Karena itulah ilmu pengetahuan akan melahirkan pendekatan baru dalam berbagai penyelidikan.
Hal ini menunjukkan studi tentang keilmuan tidak akan berhenti untuk dikaji bahkan berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Harus pula diakui bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari sejarah perkembangan filsafat ilmu, sehingga muncullah ilmuan yang digolongkan sebagai filosof dimana mereka meyakini adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu.
            Filsafat ilmu yang dimaksud disini adalah sistem kebenaran ilmu sebagai hasil dari berfikir radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu, filsafat ilmu hadir sebagai upaya menata kembali peran dan fungsi ilmu pengetahua dan teknologi sesuai dengan tujuannya, yakni memfokuskan diri terhadap kebahagiaan umat manusia. Dengan demikian kemajuan ilmu pengetahuan selama satu setengah abad terakhir ini, lebih banyak dari pada selama berabad-abad sebelumnya. Hal ini dikarenakan semakin berkembanya zaman, semakin berkembang pula sains dan teknologi.[1]. Fenomena ini merupakan kebangkitan kesadaran manusia untuk mengkaji ilmu pengetahuan.
            Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansi maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebailknya perkembangan ilmu pengetahuan memperkuat keberadaan filsafat.
             Pada hakikatnya upaya manusia dengan memperoleh pengetahuan hanya didasarkan pada tiga masalah pokok, yakni : apa yang ingin diketahui? Bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan itu dan apakah nilai atau manfaat pengetahuan itu?.[2] Ketiga persoalan ini akan menjadi kajian dalam proses mengetahui ilmu pengetgahuan. Karena ketiga ilmu pengetahuan diperoleh tanpa memperhatikan apa sebenarya apa yang akan diketahui, bagaimana barusaha untuk mengetahuinya dan bagaimana ilmu pengetahuan itu bermanfaat baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain.
            Menyadari akan sangat luasnya uraian tentang ilmu pengetahuan dan kaitannya uraian-uraian di atas maka masalah pokok yang dikaji dalam makalah ini adalah: “apa ontologi dan bagaimana epistimologi serta apa aksiologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu”. Agar lebih sistematis makalah ini, Penulis akan merumuskan masalah yang menjadi landasan pijak dalam uraian yang terkait erat dengan pembahasan-pembahasan berikutnya.
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
  1. Apa ontologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu?
  2. Bagaimana epistimologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu?
  3. Apa aksiologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu?
PEMBAHASAN
A. Ontologi Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Filsafat Ilmu
                  Sebelum membahas ontologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafata ilmu terlebih dahulu Penulis menguraikan landasan ilmu pada zaman Yunani. “Periode fisafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pada pola pikir manusia dari metosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris adalah pola pikir masyarakat sangat mendalkan  mitos untuk menjelaskan penomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap penomena biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoncangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, penomena alam tersebut tidak dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Perubahan pola pikir tersebut kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati bahkan dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam dalam menghadapi penomena alam menjadi produktif dan kreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat, akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode perkembangan fisafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.”[3]
   Secara umum orang beranggapan bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Masalah yang muncul mengindikasikan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang bersifat abstrak. Karenanya, agak sulit untuk menjelaskannya. Apa yang disebut benar bagi seseorang, belum tentu benar bagi orang lain. Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistemologi. Telaah epistemologi terhadap “kebenaran” membawa orang kepada suatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan adanya tiga jenis kebenaran, yaitu kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantis.[4] 
    Mencintai kebenaran/ pengetahuan adalah awal proses manusia mau  menggunakan daya pikirnya, sehingga dia mampu membedakan mana yang riil dan mana yang ilusi. Orang Yunani awalnya sangat penrcaya pada dongeng dan takhayul, tetapi lama kelamaan, terutama setelah mereka mampu membedakan yang riil dengan yang ilusi, mereka mampu keluar dari kungkungan mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.[5]
                                          Pengetahuan ( Knowledge ) adalah ilmu yang merupakan hasil produk yang sudah sistematis. Jadi ilmu bagian dari pengetahuan.
                  Untuk mengetahui pengertian ilmu,  maka Penulis perlu menguraikan apa yang dimaksud dengan ontologi dan ilmu pengetahuan  “Kata Ontologi berasal dari perkataan yunani: On = being, dan Logos = logis jadi ontologi adalalah The Theori of being qua being ( Teori tentang keberadaan sebagai keberadaan.[6] Sehingga dapat dipahami bahwa ontologi adalah hakikat atau eksitensi.
                  Menurut Jujun S. Suria Sumantri dalam pengantar ilmu dalam perspektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, sebarapa jauh kita ingin tahu atau dengan perkataan lain suatu penkajian mengenai teori tentang “ada”.[7]  Pendapat ini sangat sejalan dengan pendapat para filosof.
                  Untuk mengetahui hakikat ilmu pengetahuan dalam pespektif filsafat ilmu menurut tinjauan ontologi maka pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah ilmu pengetahuan itu? Pertanyaan ini membutuhkan jawaban berupa hakikat ( isi arti hakiki, yaitu berupa pengetahuan subtansional mengenai ilmu pengetahun).
                  Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefisafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontology. Yang tertua di antara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales. Atas perenungan terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari seligenap sesuatu.[8]
 “Ilmu secara etimologi, term “ ilmu “ berasal dari bahasa arab yang terdiri atas tiga huruf yakni   (علم ) ع  ل  مmengenal, memberi tanda dan petunjuk.[9] Ilmu secara terminologi adalah pengetahuan secara mutlak tentang sesuatu yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu dan dapat digunakan untuk merenungkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan.”[10] Pengertian ini mengidentifikasikan bahwa ilmu itu memiliki corak tersendiri menurut suatu ketentuan yang terwujud dari hasil analisis-analisis secara sistematis.
                  Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas, realita adalah ke-real-an, riil artinya kenyataan yang sebanarnya. Jadi hakikat adalah  kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.[11]
                  Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka ilmu pengetahuan itu harus ditinjau dari beberapa aspek yaitu aspek abstraknya, aspek potensinya, dan aspek konkretnya.
                  “ Menurut aspek abstraknya, pluralitas ilmu pengetahuan berada dalam suatu kesatuan sifat universal, yaitu filsafat. Menurut segi potensinya pluralitas ilmu pengetahuan barada dalam perbedaan tetapi tetap dalam suatu kepribadian yaitu sifat ilmiah. Sedangkan dalam aspek konkret pluralitas ilmu pengetahuan berada dalam perubahan dan perkembangan, karena itu cenderumg berbeda dan terpisah-pisah, tetapi juga tetap terkait dalam satu kesatuan fungsi, yaitu implementasinya yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan kehidupan.[12] Jadi hakikat ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu berdasarkan landasan ontologi sangat memiliki sifat yang terbuka yakni ilmu pengetahuan itu sangat bersifat umum tergantung ilmu pengetahuan yang di dalaminya, akan tetapi ilmu pengetahuan itu dapat dinilai dari kepribadian seseorang. Ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang  sangat menentukan kehidupannya.
            Jenis-jenis ilmu pengetahuan menurut objeknya yaitu ilmu pengetahuan humaniora dengan objek kajiannya adalah manusia, ilmu pengetahuan sosial dengan objek kajiannya adalah masyarakat, ilmu pengetahuan alam debgan objek kajiannya benda-benda alam, ilmu pengetahuan agama dengan objek kajiannya adalah Tuhan.
                  Dari konsentrasi pemikiran mengenai objek materi pluralitas ilmu pengetahuan sedemikian itu, pada akhirya dapat ditemukan arah yang pasti mengenai hakikat ilmu pengetahuan yaitu bahwa pluralitas ilmu pengetahuan itu berada dalam suatu sistem hubungn yang integral.
                  Dalam kehidupan ini untuk mengenal sesuatu kadang-kadang kita mengenal dengan memperhatikan ciri-ciri dan sifat-sifatnya, oleh karena itu untuk mengetahui hakikat ilmu pengetahuan akan diuraikan ciri-ciri ilmu pengetahuan itu sendiri. Adapun ciri-ciri ilmu pengetahuan mengandung pengertian bahwa pengetahuan yang diperoleh itu berdasarkan pengamatan (observation) atau percobaan (eksprimen).[13] Demikian penelaan terhadap gejala-gejala dan kehidupan maupun gejala-gejala mental kemasyarakatan kini semuanya sudah pasti menjadi ilmu-ilmu fisis, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial yang berdiri sendiri.
                  Ciri sistematis suatu ilmu berarti bahwa keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan dan teratur.[14] Dalam artian bahwa ilmu pengatahuan itu harus saling terkait sehingga menjadi satu kesatuan.
                  Ciri objektif suatu ilmu berarti bahwa ilmu itu bebas dari prasangka perseorangan dan kepentingan pribadi. Dari ciri-ciri ilmu pengetahuan tersebut maka hakikat ilmu pengetahuan dapat lebih jelas.
                  Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari hubungan sebab akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar  sain ialah tidak ada kejadian tanpa sebab. Asumsi ini oleh  Fred N. Kerlinger (Foundation of Behavior Research 1973 : 378) dirumuskan dalam ungkapan post hoc, ergo propter hoc (ini, tentu disebabkan oleh ini). Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memilki hubungan rasional.[15]
                  Ilmu atau sain berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerapkan hubungan sebab akibat. Sain tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah; sain hanya memberikan nilai benar atau salah. Kenyataan inilah yang menyebabkan ada orang menyangka bahwa sain itu netral. Dalam konteks seperti memang ya, tetapi dalam konteks lain belum tentu ya.[16]
B. Epistimologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu.
                  Epistimologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan pengandaian dan dasar-dasar serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[17] Dengan demikian dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu berdasarkan landasan epistimologi adalah bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan itu, dengan melalui proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu maka dapat dipertanggungjawabkan atas  ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
                  Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya. Para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di dalam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat ini sebab mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahannya, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam.[18]
                  Mereka mengandaikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun diantara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu ketimbang sumber-sumber lainnya. Herekleitus, misalnya, menekankan penggunaan indra, sementara Permanides menekankan penggunaan akal. Meskipun demikian adanya pengetahuan mengenai kenyataan (realitas).[19]
                  Pada dasarnya ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal dan indra sehingga mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan yaitu metode induktif, metode deduktif, metode positifisme, metode kontenplatif dan metode dialektis.
      1. Metode induktif
          Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan peryataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu peryataan yang lebih umum.[20]
      2. Metode Deduktif
          Deduktif adalah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem peryataan yang runtut.[21] Metode ini biasanya dalam bentuk perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri.
          3. Metode Positivisme
              Metode ini dikelurkan oleh Agust Comte (1798-1957). Metode ini berpangkal apa yang telah diketahui yang faktual  dan positif.[22] Jadi metode ini lebih cendrung kepada fakta
          4. Metode Kontenplatif
              Metode ini mengatakan bahwa adanya keteerbatasan indra dan akal manusia untuk  memperoleh pengetahuan sehinnga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda sehingga dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi.[23] Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifat yaitu pengetahuan yang datang dari Tuhan melalui pencerahan dan penyinaran.
          5. Metode Dialektis
Dalam filsafat, diialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat.[24] Dengan kata lain metode dialektis juga disebut metode diskusi.
            Melalui kelima metode tersebut maka epistimolgi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu tidak terlepas dari bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan itu.
   
C. Aksiologi Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Filsafat Ilmu
        Aksiologi menurut bahasa berasal dari bahasa yunani "axios" yang berarti bermanfaat dan 'logos' berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Secara istilah, aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan.[25] Sejalan dengan itu, Sarwan menyatakan bahwa aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai (kebaikan, keindahan, dan kebenaran).[26] Dengan demikian aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika. Dengan kata lain, apakah yang baik atau bagus itu.
        Definisi lain mengatakan bahwa aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di dalam kepribadian peserta didik.[27] Dengan demikian aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap sesuatu ilmu.
        Berbicara mengenai nilai itu sendiri dapat kita jumpai dalam kehidupan seperti kata-kata adil dan tidak adil, jujur dan curang. Hal itu semua mengandung penilaian karena manusia yang dengan perbuatannya berhasrat mencapai atau merealisasikan nilai.[28] Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
        Secara singkat dapat dikatakan, perkataan "nilai" kiranya mempunyai macam-macam makna seperti (1) mengandung nilai, artinya berguna; (2) merupakan nilai, artinya baik atau benar, atau indah; (3) mempunyai nilai artinya merupakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebab-kan orang mengambil sikap menyetujui, atau mempunyai sifat nilai tertentu; (4) memberi nilai artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu.[29] Nilai ini terkait juga dengan etika dan nilai estetika. Nilai etika adalah teori perbuatan manusia yang ditimbang menurut baik atau buruk dan tentang hak dan kewajiban moral. Sedangkan nilai estika adalah telaah filsafat tentang keindahan, tanggapan manusia terhadapnya.[30] Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan karena menyangkut tanggung jawab, baik tanggung jawab pada diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan.
        Ilmu pengetahuan pun mendapatkan pedoman untuk bersikap penuh tanggung jawab, baik tanggungjawab ilmiah maupun tanggungjawab moral.[31] Tanggungjawab ilmiah adalah sejauhmana ilmu pengetahuan melalui pendekatan metode dan sistem yang dipergunakan untuk memperoleh pendekatan metode dan sistem yang dipergunakan untuk memperoleh kebenaran obyektif, baik secara korehen-idealistik, koresponden realistis maupun secara pragmatis-empirik. Jadi berdasarkan tanggungjawab ini, ilmu pengetahuan tidak dibenarkan untuk mengejarkan kebohongan, dan hal-hal negatif lainnya.
          Berdasar dari apa yang telah diuraikan dipahami ilmu pengetahuan mengandung nilai, dan kebenaran nilai ilmu pengetahuan yang dikandungnya bukan untuk kebesaran ilmu pengetahuan semata yang berdiri hanya mengejar kebenaran obyektif yang bebas nilai melainkan selalu terikat dengan kemungkinan terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Beranjak dari pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
-          Hakikat ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat berdasarkan tinjauan ontologi dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu:, aspek abstraknya, aspek potensinya dan aspek konkritnya. Selain itu cirri-siri ilmu pengetahuan berdasarkan tinjauan ontologi yaitu bersipat empiris, bersipat sistematis, dan bersipat objektif.
-           Ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat berdasarkan tinjauan epistimologi dapar dipahami dari beberapa metode memperoleh ilmu pengetahuan adapun metode memeperoleh ilmu pengetahuan yaitu: metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatif dan metode dialektis.
-          Ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat berdasarkan tinjauan aksiologi ilmu pengetahuan itu mengandung nilai, dan kebenaran ilmu pengetahuan yang dikandumgnya bukan untuk kebesaran ilmu pengetahuan ilmu semata yang hanya mengejar kebenara objektif yang bebas nilai melainkan selalu terkait dengan kemungkinan terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan umat  manusia.


B. Implikasi
            Dalam penyusunan makalah ini tentunya para pembaca masih banyak menemukan berbagai kekurangan dan kesalahan begitupula pada saat mendiskusikan karena penulis menyadari bahwa pada dasarnya setiap melaksanakan sesuatu pasti mengalami masalah. Olehnya itu penulis sarankan kepada pihak pembaca dan pembimbing agar membantu menyelesaikan masalah sehingga makalah ini dapat disempurnakan sebaimana mestinya.


 [1]Harold H. Titus, et. al, The Living Issues of Fhilosophy, diter. H. M. Rasyidi dengan Judul Persoalan-Persoalan Filsafat ( Jakarta: Bulan Bintang, 1984 ), h. 254.
                  [2]Jujun  Surya Sumantri, Ilmu dalam Perspektif ( Cet. IX;  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia) h. 2.
                [3] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Edisi VII, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h. 12.
[4] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Edisi I, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 111
                [5] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, loc.cit, h. 22
[6]Lih. James K. Fibleman, Ontologi dalam Dagoberto Runesled Dictionary Philosiphy, ( Totowa New Jersef : Liffle Adam & Co, 1976), h. 219.
 [7]Jujun S. Suria Sumantri, Tentang Hakikat Ilmu Dalam Perspektif, (Cet. V; Jakarta: Gramedia,), h. 5.
                [8] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, loc.cit, h. 131
[9]Ahmad Warson Munawwir, Kamus Arab Indonesia ( edisi II; Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997 ), h. 965.
[10]Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1990 ), h. 324.
                [11] Ibid
[12]Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan ( Cet.I; Yogyakarta: Arruz Media, 2008), h.24.
[13]TheLiang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Edisi II;Cet I, Yogyakarta: Liberty,1991), h.     
                [14]Ibid
                [15] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Mengurai Ontotlogi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan, (Cet. VI, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009), h. 25
                [16] Abid
                [17]DW. William, Histiry of Epistemology, The Encycilepedia of Philosophy;1967 Vol 3. Hal 9.
                 [18] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, loc.cit, h. 149
                 [19] Ibid
                 [20]Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1996), h. 109.
                 [21] Ibid

                 [22] Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, loc.cit,  h. 14.
                 [23] Ibid
                 [24] Sidi Gazalba, Sistemetika Filsafat ( Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 125
[25]Louis O. Kattsoff, Element of Philosophy diterjemahkan oleh Soejono Soemargono dengan judul Pengantar Filsafat (Cet. V; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), h. 327.
[26]Sarwan HB, Filsafat Agama (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), h.  22.
[27]Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Baya Madya Pratama. 1997), h. 69. 
[28]N. Drijakarta SJ, Percikan Filsafat (Cet. IV; Jakarta: PT. Pembangunan, 1981), h.36.
[29]Louis O. Kattsoff,  op. cit., h. 332.
[30]Lihat kembali uraiannya lebih lanjut dalam ibid., h. 327. Bandingkan dengan Ali Mudhafir "Pengenalan Filsafat" dalam Tim Penyusun Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan (Cet. I; Yogyakarta: Intan Pariwara, 1997), h. 19.
[31]Suparlan Suhartono, Dasar-dasar Filsafat (Cet. I; Yogyakarta: al-Russ, 2004), h. 164.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar