Tambah Income Jutaan Rupiah

Jumat, 08 April 2011

Kemunduran Dinasty Abbasiyah

By. Abdullah Lamase

A. Latar Belakang
            Dalam fakta sejarah, bahwa sepanjang kehidupan manusia selama mengenal hidup berkelompok dan berinteraksi antar sesamanya selalu saja membutuhkan pengarah atau pemimpin. Pemimpin ada yang dipilih secara demokratis oleh rakyat, ada juga yang melalui penunjukkan oleh tokoh masyarakat setempat.
Kedua metode ini ternyata tidak memberikan jaminan keamanan atas kelangsungan pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Khalifa, Presiden  dan pemimpin lainnya.
Terbentang panjang catatan sejarah menginformasikan kepada generasi berikutnya bahwa belum ada pemerintahan yang mengalami kesuksesan tanpa hambatan dan tantangan, ternyata justru yang terjadi adalah keadaan  pemerintahan yang  mengalami pasang susrut. Ada pemerintahan yang mengalami puncak kejayaan dan ada juga pemerintahan yang mengalami keterpurukan, bahkan kadang  pada awal masa pemerintahan seorang khalifa atau presiden mencapai puncak  kejayaan, tetapi di akhir masa pemerintahannya mengalami keruntuhan yang sangat mengenaskan, demikian sebaliknya.  Hal tersebut dapat ditemukan dalam lembaran sejarah kekhalifaan (khilaafah Rasyiidah) yang mengalami pasang surut, seperti yang terjadi pada zaman Umar Bin Khattan, Usaman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib dan Mu’awiyah, Al-Abbas dan bahkan sampai sekarang.
Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat Islam. Abbasiyah dinisbatkan kepada al-‘Abbās paman Nabi Muhammad saw. berdirinya dinasti ini sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelah wafatnya Rasulullah saw. yaitu menyandarkan khilafah kepada keluarga Rasul dan kerabat-kerabatnya.[1]
Pada masa dinasti Abbasiyah umat Islam menjadi simbol kemajuan ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Meskipun tidak dapat dipunkiri bahwa kejayaan dan peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah merupakan perpanjangan yang telah ditata oleh umat Islam  sejak kebangkitan Islam. Hingga pada akhirnya kejayaan itu sampai pada titik kejayaan yang gemilang, namun kemudian secara berangsur dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran sampai akhirnya runtuh.
 Sudah menjadi hukum alam atau sunnahtullah bahwa setiap kemajuan berpasangan dengan kemunduran, saat tertentu berada pada posisi di puncak dan di waktu lain berada di tempat yang paling rendah. Siklus kehidupan inilah yang terjadi pada Dinasti Abbasiyah, bahkan telah terjadi pada masa-masa sebelumnya dinasti ini berkuasa, misalnya pada saat berakhirnya kekuasaan Dinasti Umayyah, namun para Khalifah Bani Abbasiyah yang berjumlah 37 khalifah tidak mengambil pelajaran dari keruntuhan dinasti-dinasti sebelumnya.
Pada tahun 132 H (750 M), daulat Umayyah digulingkan oleh Abbasiyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir bani Umayyah, Marwan bin Muhammad di Būshīr, wilayah Bani Suwayf ketika melarikan diri hingga ke Mesir. Dengan demikian maka berdirilah Daulah Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya, Abū al-‘Abbas al-Saffāh yang berpusat untuk pertama kali di Kufah.[2]
Kemunduruan dan kehancuran Dinasti Abbasiyah mengalami proses yang cukup panjang serta disebabkan oleh beberapa factor baik secara internal maupun eksternal yang sesungguhnya sejak dinasti ini berkuasa bayangan ancaman tersebut sudah ada, yakni di antaranya sisa-sisa pengikut Dinasti Muawiyah serta aliran-aliran pemikiran dalam Islam, hanya saat itu bisa diredam yang kemudian berakumulasi dendam itu pada Khalifa yang terakhir sampai kemudian kekuasaan yang dibangun selama 500 tahun lebih hancur di tangan lawan politiknya.
Berdasar  dari keterangan di atas, maka Penulis membahas sejarah kemunduran dan kehancuran pemerintahan Dinati Abbasiyah  dalam  makalah ini dengan masalah pokoknya “Bagaimana proses  kemunduran dan kehancuran  Dinasti Abbasiyah”.

A.     Rumusan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan, maka penulis menetapkan rumusan masalah sebagai berikut ;
1.      Bagaimana proses Pemerintahan  Dinasti Abbasiyah pada  akhir kekuasaannya?
2.      Apa faktor-faktor kemunduran dan kehancuran  Dinasti Abbasiyah ?
  
PEMBAHASAN

A.     Proses Pemerintahan Dinasti Abbasiyah Pada  Akhir  Kekuasaannya.
Proses peralihan kekuasaan dari Dinasti Umaiyyah ke Dinasti Abbasiyyah bukan dilakukan secara terhormat dan baik-baik di atas kesepakatan bersama, namun proses peralihan kekuasaan di antara kedua kekuatan politik ketika itu bukan saja dilalui dengan adu mulut lewat perundingan, tetapi adu kekuatan senjata kedua pihak yang menelan korban harta dan bahkan  tidak sedikit korban jiwa.
Tempat yang menjadi tolakan pertama gerakan bani Abbas, adalah pada sebuah daerah terpencil bernama Humaimah. Tempat ini adalah, daerah yang ditempati oleh Ali ibn Abdulla>h ibn al-Abba>s[3]. Dia adalah sepupu Nabi saw. yang mengikut kepada pemerintahan bani Umayyah, seorang Zuhu>d dan ahli Ibadah yang tidak terlalu mementingkan kepentingan pribadinya. Dari perangai Ali ini, bani Umayyah tidak membayangkan akan terbentuknya satu gerakan untuk menggulingkan kekhalifahan ditangan mereka sehingga tidak terlalu diperhatikan oleh pihak khalifah. Perkiraan bani Umayyah memang benar, akan seorang Ali bin Abdullah. Namun, mereka luput dari generasinya yang datang kemudian yaitu Muhammad bin Ali. Putra Ali bin Abdullah ini, ternyata memiliki kecerdasan dan bertalenta tinggi. Dialah kemudian yang mencetuskan gerakan untuk merongrong kekhalifahan bani Umayyah dan mengusung klan keluarga bani Hasyim[4].
Muncullah sebuah strategi gerakan hasil rancangan Muhammad bin Ali, berisikan tiga poin rencana. Pertama, menyebarkan ajakan untuk memperjuangkan pemimpin yang berasal dari keluarga Muhammad. Sehingga dari sini, pihak pendukung Ali-pun bisa lebih baik merespon dan menerima ajakan tersebut. Kemudian, ajakan ini tidak menentukan nama seseorang tertentu sehingga misi perjuangan ini merata untuk semuanya dan tidak tertumpu kepada seorang tokoh tertentu. Kedua, Hendaklah Bani Hasyim tidak melakukan pemberontakan menggulingkan kepemimpinan khalifah sebelum persiapan betul-betul matang. Sebagai langkah awal, cukup memunculkan ketidaksenangan umat terhadap kekhalifahan bani Umayyah dengan mengungkap kekurangan dan cacat mereka. Ketiga, Pemusatan gerakan pada tiga tempat yaitu Humaimah, Kufah, dan Khurasan. Humaimah sebagai tempat mengatur dan memenej ide dan pemikian untuk mendirikan kekuasaan Abbasiyah.[5] Kufah yang berada di tengah keduanya dijadikan sebagai titik penghubung dan pusat penyebaran strategi. Sedangkan tempat melakukan pergolakan adalah Khurasan, karena tempat ini jauh dari pengamatan pemerintahan pusat Umayyah di Damaskus. Selain itu, terjadi perpecahan antar suku atau kabilah di Khurasan yang dimanfaatkan oleh para propagandis untuk menyebarkan ide pemikiran baru di sana.[6].
Humaimah adalah tempat yang tenang, bermukim di kota kecil itu keluarga bani Hasyim baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Kufah adalah wilayah yang penduduknya menganut aliran Syi’ah, pendukung Ali bin Abi Thalib, yang selalu bergejolak dan ditindas oleh bani Umayyah. Sehingga mudah untuk dipengaruhi agar memberontak terhadap Umayyah.[7]
Khurasan mempunyai warga yang pemberani, kuat fisiknya, teguh pendirian, tidak mudah terpengaruh nafsu dan berhati-hati terhadap kepercayaan yang menyimpang, mereka meyakini prinsip kebenaran Tuhan yang suci, sebagaimana oleh para peneliti modern dinamakan The Divine Rights.[8] Penduduk Khurasan juga dianggap sebagai wilayah yang masih bersih dari warna-warna tersendiri yang dipengaruhi oleh kefanatikan kepada tokoh tertentu, bukan wilayah yang ditempati kaum syiah yang mendukung Ali r.a. juga bukan golongan pengikut Bani Umayyah yang memperjuangkan pembalasan terhadap Usman bin Affan r.a..[9] Di sanalah diharapkan dakwah kaum Abbasiyah mendapatkan dukungan.           
Muhammad ibn ‘Ali mengatur strategi di Humaimah dengan mengirim misionari dan mengangkat para pimpinan untuk selanjutnya ditugaskan mengawasi penyebaran misi di Kufah dan perkembangan yang terjadi di Khurasan. Mereka menjalankan misinya dengan sangat rahasia, salah satu caranya adalah mereka berdakwah sambil berdagang mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Peran ini disebut sebagai peran misi rahasia atau periode gerakan rahasia yang berlangsung pada tahun 100-127 H.[10] Sementara di Kufah yang merupakan tempat bertemunya antara para pembesar Humaimah dan kegiatan Khurasan terus diadakan penyebaran misi bani Hasyim.[11]
Di Khurasan cabang Abbasiyah berhasil mengajak kerja sama ketua-ketua Khurasan yang diketahui memiliki kecondongan kepada keluarga Nabi dan kebencian atas kebijakan-kebijakan bani Umayyah. Agen-agen Abbasiyah melancarkan seruan pembelaan terhadap Ali, untuk meruntuhkan kekuasaan Umayyah, dan sekaligus untuk menciptakan era baru yang penuh kedamaian dan keadilan. Selama waktu itu, pimpinan agen Abbasiyah, yakni Abu Muslim berhasil memperluas jaringan gerakan rahasia dan mengorganisir kekuatan militer pendukung di Khurasan.[12]
Jargon-jargon yang paling getol disuarakan untuk mendapat dukungan adalah seputar persamaan kedudukan antara bangsa Arab dan non-Arab, keutamaan kerabat Nabi dan hak mereka dalam hal kepemimpinan. Sebagaimana mereka juga menyuarakan kesalahan-kesalahan penguasa bani Umayyah. Dan menggambarkan mereka sebagai penguasa duniawi saja yang tidak memperhatikan Islam, ruh dan falsafahnya. Oleh karena itu, logis kalau bani Hasyim mencari jalan keluar dengan mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan daulah bani Umayyah.[13]


Sisi lain yang mendorong bani Abbas untuk mengambil alih tampuk kekhalifahan dari tangan bani Umayyah, adanya bani Umayyah secara paksa  menguasai khila>fah melalui tragedi perang s{iffi>n[14]sementara pengambil alihan bani Umayyah belum sepenuhnya di sepakati umat Islam. Hal itu semakin bertambah setelah melihat realita kepemimpinan dinasti bani Umayyah, beberapa khalifah yang seharusnya menjadi pengayom umat, malah terkesan hidup bermewah-mewah dan kurang menjalankan ajaran Islam secara baik dari segi Ibadah dan perilaku.
Tempat yang menjadi tolakan pertama gerakan bani Abbas, adalah pada sebuah daerah terpencil bernama Humaimah. Tempat ini adalah, daerah yang ditempati oleh Ali ibn Abdulla>h ibn al-Abba>s[15]. Dia adalah sepupu Nabi saw. yang mengikut kepada pemerintahan bani Umayyah, seorang Zuhu>d dan ahli Ibadah yang tidak terlalu mementingkan kepentingan pribadinya. Dari perangai Ali ini, bani Umayyah tidak membayangkan akan terbentuknya satu gerakan untuk menggulingkan kekhalifahan ditangan mereka sehingga tidak terlalu diperhatikan oleh pihak khalifah. Perkiraan bani Umayyah memang benar, akan seorang Ali bin Abdullah. Namun, mereka luput dari generasinya yang datang kemudian yaitu Muhammad bin Ali. Putra Ali bin Abdullah ini, ternyata memiliki kecerdasan dan bertalenta tinggi. Dialah kemudian yang mencetuskan gerakan untuk merongrong kekhalifahan bani Umayyah dan mengusung klan keluarga bani Hasyim[16].
Dendam politik ini tentu tidak lenyap bagai ditelan bumi, tapi justru seakan tertabur di tanah yang subur dan luas sehingga tumbuh menjadi besar dan akarnya menjadi kuat yang kemudian secara pelan-pelan menumbangkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang sudah mulai rapu karena dimakan oleh waktu, sekalipun bukan kekuatan Dinasti Umaiyyah secara langsung yang menumbangkannya, tapi paling tidak pengikut Dinasti Umaiyyah memberi peluang terhadap pasukan Mogoliah ketika itu.
Dalam bidang politik, disintegrasi sebenarnya sudah mulai terjadi pada akhir zaman Umayyah. Sebagaimana diketahui, Wilayah kekuasaan Bani Umayyah mulai dari awal berdirinya sampai keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Hal ini berbeda dengan masa Dinasti Abbasiyah. Kekuasaan dinasti ini tidak perna diakui oleh Islam wilayah Spanyol dan Afrika Utara, kecuali Mesir. Bahkan dalam kenyataannya, banyak wilayah tidak dikuasai Khalifah. Secara riil, daerah-daerah itu di bawah kekuasaan gubernur-gubernur provinsi bersangkutan. Hubungannya dengan Khalifah ditandai dengan pembayaran upeti.[17]
Sebenarnya jika dianalisa dari aspek kekuatan ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya, Dinasti Abbasiyah memiliki kekuatan yang lebih kuat dari pada Dinasti Umayyah, hanya saja, komunikasi politik baik secara internal maupun eksternal tidak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal membangun komunikasi politik bahkan sampai pada tingkat kesepakatan politik dengan Spanyol dan Afrika Utara serta aliran-aliran pemikiran yang ada di Bagdad dan sekitarnya masih terbuka luas ketika itu.
Ada kemungkinan bahwa para Khalifah Bani Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari provinsi-provinsi tertentu, dengan pembayaran upeti. Alasannya, pertama, mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tuntuk kepadanya. Kedua, penguasa Bani Abbas lebih menitikberatkan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan dari pada politik dan ekspansi.[18]
Sebenarnya ketika Dinasti Abbasiyah mengabaikan aspek politik dengan mengedepankan aspek peradaban dan kebudayaan sebagaiman dikemukakan di atas adalah sebuah kesalahan yang paling fatal, mereka lupa bahwa aktipitas yang digeluti adalah sebuah kerja politik yang mengharuskan seluruh kendali pemerintahan berangkat dari kitab politik (kalau sekarang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai).
Bangunan politik,  memilki rancang bangun yang dapat memungkinkan menjerat lawan untuk berlutut di hadapan penguasa bangunan tersebut, tapi tidak menutup kemungkinan juga perancang dan pemilik bangunan dimaksud terperangkap, bahkan tertimbun di dalamnya jika rancangan awal tidak memiliki konstruksi yang tidak tahan goncangan dari dalam maupun dari luar.
 Bangunan pemerintahan Dinasti Abbasiyah diduga kuat tidak dibangun di atas pondasi politik yang kokoh, yaitu berdasaurkan petunjuk al-Qur’an dan Sunnah, sehingga bisa dikatakan, selama 500 tahun lebih berkuasa hanya dikendalikan oleh khalifah yang otoriter, itupun hanya menitikberatkan pada pembangunan fisik semata, kecuali pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun putranya yang lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan budaya serta aktifitas sosial lainnya.
Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harusn Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan  Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter,  dan farmasi didirikan. Pada masanya, sudah terdapat paling tidak  sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah Negara Islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, pengganti Al-Rasyid dikenal sebagai khalifah sangat cintah pada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besar yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai mmenjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[19]
Tampaknya perpustakaan-perpustakaan itu lebih menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. Orang-orang dating ke perpustakaan untuk membaca, menulis, dan berdiskusi. Perpustakaan juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan. Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku kedokteran, filsafat, matematika, kimia, astronomi, dan ilmu alam. Pada masa-masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan melakukan temuan sendiri. Di sinilah letak sumbangan Islam terahadap ilmu dan peradaban Barat atau Dunia.[20]
Al-mu’tashim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa daulat Umaiyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan system ketentaraan. Praktek  orang-orang muslim mengikuti perang sudah berhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit professional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat.[21]
Pemberontakan masih bermunculan dalam periode ini, seperti pemberontakan Zanj di dataran Irak Selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiah. Fatkto-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut. Pertama, luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiah yang harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. Yang kedua, profesionalisai tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Ketiga, kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Setelah kekuatan militer merosot, khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Bagdad.[22]
Posisi Daulah Abbasiah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama periode ketiga ini. Keadaan khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya, lebih-lebi karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. Akibatnya kedudukan khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara. Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan menguasai wilayah bagian utara, dan Ahmad menguasai wilayah al-Ahwaz, Wasit, dan Bagdad. Dengan demikian, Bagdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahan Islam, karena telah pindah ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi.
Dalam bidang ilmu pengetahuan Daulah Abbasiah masih terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti al-Farabi (870-950 M.), Ibnu Sina (980-1037 M.), al-Biruni (973-1048 M.), Ibnu Maskawaih (930-1030 M.), dan kelompok studi Ikhwan al-Safa. Bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Kemajuan ini juga diikuti dengan pembangunan kanal, masjid, dan rumah sakit. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di Bagdad, telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial antara aliran Ahlu al-Sunnah dan Syiah, dan pemberontakan tentara.[23]
Periode keempat ini ditandai oleh kekuasaan Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiah. Kehadiran Bani Saljuk ini atas “undangan” khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Bagdad. Keadaan khalifah memand sudah membaik, paling tidak karena kewibawaannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah.
Seperti halnya pada periode sebelumnya, ilmlu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Nizham al-Mulk, perdana menteri pada masa Alp Arselan dan Malik Syah, mendirikan Madrasah Nizhamiyah (1067 M.) dan didirikan hamper di setiap kota di Irak dan Khurasan. Madrasah ini telah melahirkan banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Misalnya yang dilahirkan dalam periode ini adalah al-Zamakhsyari, penulis dalam bidang tafsir dan ushuluddin (teologi), al-Kusyairi dalam bidang tafsir, al-Ghazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf, dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Bagdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, masing-masing provinsi memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri, dan sedikit demi sedikit kekuasaan politik khalifah menguat kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmi Syah pada tahun 590 H./1199 M.[24]
Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang menganggu stablitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerekan sisa-sisa Bani Umaiyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindik di Persia, gerakan Syi’ah dan konplik antarbangsa serta aliran pemikiran dalam Islam, semuanya itu dapat dipadamkan.[25]
Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari persoalan politik itu, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman  penguasa Bani Abbas. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara : pertama, seorang pemimpin lokal memimpim suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulat Umaiyyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Kedua, seorang yang ditunjuk menjadi Gubernur oleh khalifah, kedudukannya  semakin bertambah  kuat, seperti daulat Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Khurasan.[26]
Menurut Watt, sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. Penomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di provinsi-provinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa abbasyiah memmperkerjakan orang-orang prefesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki dengan system perbudakan baru seperti di uraikan di atas. Pengangkatan anggota militer Turki ini, dalam perkembangan selanjutnya ternyata, menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. Apalagi,pada priode pertama pemerintahan Dinasti Abbasyiah, sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu’ubiyah (kebangsaan / anti Arab). Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik, di samping persoalan-persoalan keagamaan. Tampaknya, para khalifa tidak sadar akan bahaya politik dan panatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu, sehingga, meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan, seperti dalam kesusastraan dan karya-karya ilmiah, mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan panatisme tersebut, bahkan ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu.[27]
Sejumlah dinasti kecil-kecil yang sebelumnya di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah secara berangsur melepaskan diri dari cengkraman kekuasaan Dinas Abbas, sehingga kekuatan yang diharapkan pada dinasti tersebut hilang bersama hilangnya dukungan pada dinasti yang dimaksud.
Dari latar belakang dinasti-dinasti itu, nampak jelas adanya persaingan antar bangsa, terutama antara Arab, Persia dan Turki. Disamping latar belakang kebangsaan, dinasti-dinasti itu juga dilatarbelakangi paham keagamaan, ada yang berlatar belakang syi’ah, ada yang sunni.[28]
Terjadi Perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Abbasiah dalam periode kelima ini. Pada periode ini, khalifah Abbasiah tidak lagi berada di bawah kekuasaan sautu dinasti tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa, tetapi hanya di Bagdad dan di sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasaan khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Bagdad tanpa perlawanan pada tahun 656 H./1258 M.
B. Faktor-Faktor Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Abbasiyah.
Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiah menjadi lemah dan kemudian hancur, dapat dikelompokkan menjadi dua. Faktor Interen dan Eksteren. Diantara factor Intern adalah (1) Adanya persaingan tidak sehat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiah, terutama Arab, Persia, dan Turki. (2) Terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada, selanjutnya berkembang menjadi pertumpahan darah. (3) Munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. Akhirnya (4) Terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik.
Sedangkan faktor Eskteren yang terjadi adalah (1) Berlangsungnya Perang Salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang dan (2) Pasukan Mongol dan Tartar yang dipimpin Hulagu Khan, berhasil menjarah semua pusat-pusast kekuasaan maupun pusat ilmu yaitu perpustakaan Bagdad.[29]
            Pemerintahan yang besar dan wilayah kekuasaannya luas serta berkuasa cukup lama, yakni sekitar 500 tahun lebih, tentu faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan kehancurannya dipengaruhi beberpa hal sebagaimana yang jelaskan oleh Dr. Badri Yatim, M.A. dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, “Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbas pada periode ini, sehingga banyak daerah memerdekakan diri, adalah[30] :
1. Luas wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
2.   Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
3.  Keuangan Negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Bagdad.[31]
Selain sebab tersebut, kebijakan khalifah juga yang membuat perpecahan di tubuh pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang ketika itu dijabat Khalifa al-Mu’tasin, selain itu adanya persaingan antara golongan Arab dan Persiah. “Kebijakan Khalifah al-Mu’tasim (833-842 M.) untuk memilih anasir Turki dalam ketentaraan kekhalifahan Abbasiyah terutama dilatarbelakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa al-Ma’mun dan sebelumnya. Di masa al-Mu’tasim dan sesudahnya yaitu al-Wasiq (842-847 M.), mereka mampu mengendalikan para anasir Turki ini. Akan tetapi, Khalifah al-Mutawakkil (847-861 M.) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang khalifah yang lemah. Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah al-Mutawakkil wafat. Mereka telah memilih dan mengangkat khalifah sesuai dengan kehendak mereka. Dengan demikian, Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuasaan, meskipun resminya merekalah penguasa. Usaha untuk melepaskan dari dominasi tentara Turki itu selalu gagal. Pada tahun 892 M., Bagdad kembali menjadi ibu kota. Kehidupan intelektual terus berkembang.”[32]
Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki, mereka memang mulai melemah. Mulailah Khalifah al-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq, gubernur Wasit dari Basra. Di samping itu, Kalalifali memberinya gelar amirul umara (panglima para panglima). Meski demikian, keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. Dari dua belas khalifah pada periode ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, sedangkan selebihnya, kalau tidak dibunuh, mereka digulingkan dengan paksa.
Pemberontakan masih bermunculan dalam periode ini, seperti pemberontakan Zanj di dataran Irak selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah.
Meski telah menjadi kekhalifahan yang disimbolkan sebagai masa keemasan daulah Isla>miyah, juga mendapatkan masa kemunduran dan kehancuran. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kemunduran Abbasiyah, di antaranya sebagai berikut:
1.      Faktor Internal
Khalifah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umaiyyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah  khalifah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekuatuan itu. Menurut Stryzewska , “ada dua sebab  Dinasti Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab melupakan Bani Umaiyyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ‘ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, Khalifah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ‘ashabiyyah tradisional.[33]
Semasa Abbasiyah wilayah kekuasaannya meliputi Barat sampai Samudera  Atlantik, di sebelah Timur sampai India dan perbatasan Cina, dan Utara dari Laut Kashpia sampai ke Selatan, Teluk Persia. Setelah periode pertama berlalu para khalifah sangat lemah. Mereka di bawah pengaruh kekuasaan yang lain. Wilayah Abbasiyah yang hampir sama luasnya dengan wilayah kekuasaan dinasti Mongol, tidak mudah dikendalikan oleh para khalifah yang lemah. Di samping itu sistem komunikasi masih sangat lemah dan tidak maju saat itu, menyebabkan lambatnya informasi akurat apabila suatu daerah mengalami masalah, konflik atau terjadi pemberontakan. Oleh karena itu sehingga terjadilah banyak wilayah lepas dan berdiri sendiri. Sementara itu, jauhnya wilayah-wilayah yang terletak di ketiga benua tersebut, dan dikemudian hari didorong oleh para khalifah yang makin lemah dan malas yang dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang tidak terkendali bagi khalifah, menyebabkan lepasnya daerah satu per satu.[34]
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok dan berfoya-foya. Kecenderungan bermewah-mewah ini diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Ditambah dengan kelemahan khalifah dan faktor lainnya yang menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh al-mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintahan. Sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka.[35]
Ketidakmampuan kaum Abbasiyah dalam memerintah dan mengontrol gubernur propinsi-propinsinya. Kecenderungan khalifah untuk terpaksa menyetujui keinginan para gubernur untuk diganti oleh para penerus yang merupakan anak atau kerabat dekatnya ini pada awalnya hanya muncul di propinsi-propinsi yang letaknya jauh dari pusat kekuasaan di mana khalifah sukar memaksakan otoritasnya, tetapi lambat laun hal ini menjalar ke pusat kekuasaan. Sehingga pada tahun 936 M. panglima perang Irak mengambil alih kekuasaan Abbasiyah, dan pada tahun 945 M. ia digantikan oleh dinasti Buwayhiyyah.[36]
Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma’mun secara jelas membagi Abbasiyah dalam dua kubu, yaitu kubu Arab dan Persia juga mempengaruhi keutuhan Abbasiyah. Tidak adanya kerukunan antara tentara, istana, dan elit politik lain juga memicu kemunduran dan kehancuran dinasti ini. Pertentangan antara Arab-non Arab, perselisihan antara muslim dengan non-muslim, dan perpecahan di kalangan umat Islam sendiri telah membawa kepada situasi kehancuran dalam pemerintahan.
Dalam buku yang ditulis Abu Su’ud, disebutkan faktor-faktor intern yang membuat Daulah Abasiyah lemah kemudian hancur antara lain : (1) adanya persaingan tidak sehat diantara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah, terutama Arab, Persia, dan Turki. (2) terjadinya perselisihan pendapat diantara kelompok pemikiran agama yang ada, yang berkembang menjadi pertumpahan darah. (3) munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. (4) akhirnya terjadi kemerosotan tingkat perekonimian sebagai akibat dari bentrokan politik.[37]
Faktor ekonomi juga cukup dominan atas lemahnya sendi-sendi kekhalifahan Abbasiyah.  Beban pajak yang berlebihan dan pengaturan wilayah-wilayah provinsi demi keuntungan kelas penguasa telah menghancurkan bidang pertanian dan industri. Dengan adanya independensi dinasti-dinasti kecil menyebabkan perekonomian pusat menurun karena mereka tidak lagi membayar upeti kepada pemerintahan pusat. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. [38]
Fanatisme keagamaan terkait erat dengan persoalan kebangsaan. Pada periode Abbasiyah, konflik keagamaan yang muncul menjadi isu sentaral sehingga mengakibatkan terjadi perpecahan. Berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Ahlis Sunnah dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan.[39]
2. Faktor Eksternal
Dinasti Abbasiyah menghadapi perlawanan yang sangat gencar dari dunia luar.
Pertama, mereka mendapat serangan secara tidak langsung dari pasukan Salib di Barat. Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang dan beberapa periode menelan banyak korban. Kedua, serangan secara langsung dari orang Mongol yang berasal dari Timur ke wilayah kekuasaan Islam.[40]
              Perang salib merupakan sebab dari ekstrenal umat  Islam. Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi dan perhatian pemerintah Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.[41]
            Akhir dari kekuasaan Abbasiyah ialah ketika Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulaghu Khan tahun 656 H (1258 M). Baghdad dibumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Khalifah bani Abbas yang terakhir dengan keluarganya, al-Mustashim dibunuh. Buku-buku yang terkumpul di Bait al-Hikmah dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam karena lunturan tinta yang ada pada buku-buku tersebut.

     P E N U T U P
A. Kesimpulan
            Berdasarkan uraian tentang kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah sebagai dinasti kedua setelah Dinasti Umayyah  berkuasa selama 500 tahun lebih sebagaimana yang dikemukakan di atas, maka Penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1.     Pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang perna   mengalami masa keemasan pada akhirnya mengalami kemunduran bahkan kehancuran. Proses sampai pada masa kemunduran sesungguhnya sudah ada benih-benih itu sejak awal Disnati Abbasiyah berkuasa,  yakni ketidakpuasan Dinasti Umaiyyah karena kekuasaannya dirampas dengan cara yang tidak manusiawi. Lagi pula pemerintahan Dinasti Abbasiyah tidak disetujuai oleh Spanyol dan Afrika Utara kecuali Mesir. Di sisi lain, pendapatan Negara semakin berkurang karena para gubernur sebagian besar tidak lagi membayar upeti atau pajak, sementara di lain pihak pengeluaran semakin bertambah untuk membiayai tentara bayaran serta kegiatan operasional Negara.
2.   Faktor-faktor kemunduran dan kehancuran adalah :
   a. Faktor internal, pertama, pejabat Negara khususnya Kahlifah sudah mulai lemah dalam mengendalikan pemerintahannya. Kedeua, berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Ahlus Sunnah dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaa yang ada. Ketiga, kondisi ekonomi Negara sudah tidak stabil.
 b. Faktor eksternal, pertama, terjadi perang salib yang tidak mampu diatasi oleh pemerintahan Abbasiyah mengakibatkan banyak korban jiwa dan harta. Kedua, serangan  pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulaghu Khan tahun 656 H (1258 M) yang menjadikan kota Baghdad dibumihanguskan rata dengan tanah . Khalifah bani Abbas yang terakhir dengan keluarganya, al-Mutashim dibunuh. Buku-buku yang terkumpul di Bait al-Hikmah dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam karena lunturan tinta yang ada pada buku-buku tersebut.
B. Implikasi
            Selama dunia berputar, menjadi kemestian bahwa sejarah pasti akan berulang. Peristiwa yang terjadi pada masa Disati Abbasiyah tidak menutup kemungkinan akan terjadi di Indonesia, jika anak bangsa ini tidak segera belajar dari perjalanan sejarah bangsa-bangsa sebelumnya. Terkait dengan judul makalah ini, Penulis menyarankan :
Pertama, sekiranya penelurusan sejarah peradaban Islam yang penulis uraikan tidak sesuai dengan fakta sejarah yang sebenarnya, tentu diperlukan perbaikan demi sempurnanya makalah ini, dan yang kedua, diharapkan kepada seluruh elemen anak bangsa ini menjadikan sejarah keruntuhan dan kehancuran Dinasti Abbasiyah  sebagai pelajaran agar bangsa yang didiami oleh mayoritas ummat Islam ini tidak akan mengalami hal yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Munir Samsul, Sejarah Peradaban Islam, Cet. I, Jakarta : Amzah, 2009.
Ibrāhīm Hasan, Hasan. Tārīkh al-Islām; al-Siyāsīy wa al-Dīnīy wa al-Tsaqāfīy wa al-Ijtimā’īy. Cet. VII; Kairo: Maktabat al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1964.

Karim, Abdul, M. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam cet.I,(Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007).
Lapidus, Ira M. A  History of Islamic Societies. Diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah Sosial Ummat Islam. Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Cet I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Ningsih, Andi Satria. Dinasti Abbasiah. Makalah semester I PPS UIN ; 2008.
Syalabīy, Ahmad, Mawsū’at al-Tārīkh al-Islāmīy wa al-Hadhārat al-Islāmiyyah, Jilid III (Cet. VI; Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1978).
 Su’ud, Abu, Islamologi(Sejarah, Ajaran, dan Peranannya dalam Peradaban Umat Islam), (Cet. I; PT. Rineka Cipta: Jakarta, 2003).
Su’ud, Abu. Islamologi. cet. I. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003).
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik, cet. I (Bogor: Prenada Media, 2003)
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993)
Watt William Montgomery William, Islam, A Short History. Diterjemahkan oleh Imron Rosjadi dengan judul Islam, (Cet. I; Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002)







[1] Ahmad Syalabīy, Mawsū’at al-Tārīkh al-Islāmīy wa al-Hadhārat al-Islāmiyyah, Jilid III (Cet. VI; Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1978), h. 19.
[2] Ahmad Syalabīy, op. cit., h. 52-53.

[3] Ali bin Abdullah bin Al-Abbas wafat pada tahun 117 H.

[4] Ahmad Syalabiy, op.cit., h. 29.

[5] Humaimah berada di Damaskus, merupakan desa kecil yang jarang berhubungan dengan desa-desa dan kota-kota sekitarnya.

[6] Ahmad Syalabiy, op.cit., h. 30.

[7] Kalangan Syi’ah menjaga harapan mereka yang belum tercapai untuk memerintah atas nama keluarga Ali. Mereka mengklaim bahwa khilafah merupakan hak bagi anggota keluarga mereka, yang terpilih oleh Tuhan untuk mengajarkan Islam dan untuk memerintah komunitas Muslim. Mereka membangkitkan harapan-harapan kalangan Arab yang tersisih dan Muslim non-Arab (mawā) bahwasanya seorang mahdi (penyelamat) segera datang antara keluarga ini. Antara tahun 736-740 agitasi Syi’ah akhirnya berkobar di Kufah, di mana sejumlah warga Kufah ditangkap oleh polisi Umayyah dan mereka dihukum bunuh. Pada tahun 740 Zayd ibn ‘Ali , seorang cucu Husain, melancarkan pemberontakan namun segera dapat dihancurkan. Lihat Andi Satrianingsih, Bani Abbasiah, Makalah yang dibawakan dalam seminar kelompok mata kuliah Sejarah Peradaban Islam PPS UIN Alauddin Makassar, (2008), h. 3.

[8] Mereka juga berusaha untuk mengembalikan keagungannya yang terdahulu setelah mereka dijadikan oleh Umawiyyin sebagai kaum mawā yang tidak mencapai tingkatan yang setara dengan orang Arab yang  pada beberapa masa sebelumnya memiliki tingkatan dan kebudayaan yang di bawah mereka. Lihat Ahmad Syalabīy, op. cit., h. 31.

[9] Ahmad Amin, D}uh}a al-Isla>m, Juz 1(Cet. VIII; Kairo: Maktabah al-Nahd}ah al-Mis}riyyah, t.th), h. 6.

[10] Ibid., h. 33.

[11] Saat kekhalifahan dipegang Umar II, gerakan bawah tanah yang merupakan rival politiknya menyusun kekuatan. Salah satu kekuatan politik yang kontra dengan kebijakan “Machiavellian” model Umayah adalah para pengikut Nabi dari keturunan Bani Abbas. Akan tetapi, sebagai sarana propaganda, mereka tidak menyebutkan diri sebagai keluarga Abbas, namun menggunakan jargon dan symbol Bani Hasyim. Dengan demikian mereka dapat merangkul baik kelompok Syī’ah Ali maupun Syī’ah ‘Abbās. Lihat M. Abdul. Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), h. 143.

[12] Andi Satrianingsih, Ningsih, Andi Satria. Dinasti Abbasiah. Makalah semester I PPS UIN ; 2008. h. 5. Lihat juga Ira M. Lapidus, A  History of Islamic Societies, diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah Sosial Ummat Islam, (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 98.
[13] Ahmad Syalabīy, op. cit., h. 37. Menjelang akhir daulah Amawiyah I, terjadi bermacam-macam kekacauan yang antara lain disebabkan:1. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut Ali dan bani Hasyim pada umumnya. 2. Merendahkan kaum muslimin yang bukan bangsa Arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan. 3. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia secara terang-terangan. Lihat salah satu footnote dalam Andi Satrianingsih, op.cit., h. 5.

[14]  M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), h. 143.

[15] Ibid

[16] Ahmad Syalabiy, op.cit., h. 29.

                [17]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Cet. I, Jakarta : Amzah, 2009), h. 153
                 [18]Ibid
                    [19] Badri Yatim, Sejarah Perkembangan Islam, Dirasah Islamiyah II, ( Jakarta : Rajawali Pres, 2006), h. 52-53

  [20] Ibid, h. 76.
                  [21] Ibid
[22] Ibid, h. 80.
[23] Ibid.
  [24] Ibid, h. 81.
                  [25] Ibid
                  [26] Ibid, h. 64
                [27]Ibid, h. 65
                [28]Ibid, h. 66
[29] Ibid, h. 82.
                [30] Ibid
                [31] Ibid, h. 67
    [32] Abu Su’ud, Islamologi(Sejarah, Ajaran, dan Peranannya dalam Peradaban Umat Islam), (Cet. I; PT. Rineka Cipta: Jakarta, 2003), h. 79


                        [33] Badri Yatim,  loc.cit,h. 81
        [34]  M. Abdul. Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam(Cet.I,Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007). h. 162.

        [35]  Badri Yatim, op. cit., h. 62.

        [36] William Montgomery Watt, Islam, A Short History. Diterjemahkan oleh Imron Rosjadi dengan judul Islam, (Cet. I; Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002), h. 47.
                        [37] Abu Su’ud, Islamologi(Sejarah, Ajaran, dan Peranannya dalam Peradaban Umat Islam), h. 81
        [38] M. Abdul. Karim, op. cit., h. 163-165.
          [39] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, loc.cit, h. 156

          [40] Badri Yatim, op. cit., h. 85.
                          [41] Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar