Tambah Income Jutaan Rupiah

Rabu, 13 April 2011

PENGAMATAN ILMIAH DAN BAHASA ILMIAH


By. Irwan Usa Mahmud
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan atau suatu kebenaran tentunya mempunyai banyak cara, kemampuan manusia mengamati yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan apa yang ia ketahui dan satu-satunya makhluk yang mampu memperoleh kebenaran serta pengembangan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya saja.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama, pertama; kemampuan berpikir dan mengamati suatu gejala atau objek, binatang mampu mengetahui tapi tidak mampu mengamati suatu objek atau gejala. Insting binatang jauh lebih peka dari insting seorang insinyur geologi, binatang jauh-jauh hari berlindung di tempat yang aman sebelum fenomena alam terjadi, namun binatang tersebut tidak mampu mengamati gejala tersebut dan mengapa fenomena alam dapat terjadi. Kedua; manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan alur  pikirannya.[1]
Dua kelebihan inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya, yakni bahasa dan pengamatan.

B.     Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang tersebut, maka penulis mengangkat rumusan masalah sebagai berikut:
1.        Apa pengertian Metode Ilmiah?
2.        Bagaimana bentuk pengamatan ilmiah?
3.        Seperti apakah bahasa ilmiah itu?

PEMBAHASAN
A.   Metode Ilmiah
Metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti jalan, sedangkan dalam bahasa Latin methodos berarti cara,  jadi dapat dipahami bahwa metode ilmiah adalah suatu proses atau prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik ilmiah yang dipakai oleh suatu disiplin (bidang studi) untuk mencapai suatu tujuan dan dapat diuji kebenarannya, jadi ia dapat dikatakan sebagai cara kerja ilmiah.[2]
Menurut Peter R. Senn, metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis.[3] Jadi metode ilmiah dapat dikatakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol.[4]
Tahapan-tahapan atau langkah-langkah dalam metode ilmiah itu sendiri meliputi enam tahap, yaitu:
1.   Merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan.
2.   Mengumpulkan keterangan, yaitu segala informasi yang mengarah dan dekat pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian pustaka.
3.   Menyusun hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah pustaka.
4.   Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.
5.   Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil penelitian dengan metode ini adalah data yang objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang sama).
6.   Menguji kesimpulan. Untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil percobaan perlu dilakukan uji ulang. Apabila hasil uji senantiasa mendukung hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi teori.[5]
B.    Pengamatan Ilmiah
Pengamatan adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya.[6]
Secara umum dapat juga dipahami, bahwa pengamatan adalah hasil tanggapan dari indera terutama mata terhadap objek tertentu sehingga menimbulkan kesan pada rasio (nalar) tentang pengertian. Indera merupakan salah satu alat untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.[7]
Pengamatan merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan, manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakan yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir, dengan pengamatan manusia dapat menghasilkan suatu pengetahuan.
Suparlan Suhartono, dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Ilmu Pengetahuan” dijelaskan secara gamblang bahwa dalam melakukan pengamatan secara ilmiah, maka ada beberapa hal yang terkait di dalamnya, diantaranya:
1.  Objek yang akan diamati
            Objek adalah sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, dan diindra, sesuatu yang dapat disadari secara fisik atau mental serta sesuatu yang menjadi pokok dalam suatu pengamatan. Objek juga dapat dipahami sebagai suatu sarana pokok atau tujuan penyelidikan ilmiah, objek itu sendiri terbagi kedalam dua jenis yaitu objek materi dan objek formal.
Adapun yang dimaksud dengan objek materi ialah sarana pokok penyelidikan berupa materi yang dihadirkan dalam suatu pemikiran atau pengamatan, namun yang terkandung di dalamnya bisa saja berupa benda-benda material atau non material, bisa juga berupa masalah-masalah, ide-ide, konsep-konsep. Jadi tidak terbatas pada realitas konkret atau realitas abstrak. Sedangkan objek formal ialah yang akan menjelaskan akan pentingnya arti, posisi dan fungsi objek di dalam ilmu pengetahuan.[8]
Asmoro Ahmadi, memberikan pengertian bahwa objek materi adalah hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran pengamatan). Sedangkan objek formal adalah sudut pandang (darimana hal atau bahan tersebut dipandang).[9]

2.  Empirik
Empirik berasal dari bahasa Yunan empeirikos yaitu pengalaman, pengalaman yang dimaksud disini adalah pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indrawi.[10]
3.  Rasio
Rasio atau akal, pengetahuan bersumber dari akal-pikiran. Akal-pikiran secara deduktif bekerja untuk mendapatkan pengetahuan yang pasti, jadi akal-pikiran berperan sebagai perantara dalam melakukan pengamatan untuk memperoleh pengetahuan.[11]
Van Peursen mengatakan bahwa akal atau rasio yang mempunyai peran penting dalam membentuk pengetahuan, sumbangan akal lebih besar dari indera, lanjut Van Peusen mengemukakan bahwa mustahil membentuk ilmu hanya berdasarkan fakta, data empiris atau pengamatan semata tanpa peranan rasio di dalamnya.[12]
Adapun syarat-syarat yang harus dimiliki oleh pengamatan ilmiah adalah:
1.      Harus memiliki objek tertentu (formal dan material)
2.      Harus bersistem (runtut/teratur)
3.      Metode.[13]
Adapun ciri dari penelitian pengamatan ilmiah ialah:
1.      Objek yang akan diteliti
2.      Alat bantu, waktu dan lokasi
3.      Penelitian dapat diulang
4.      Parameter penelitian disajikan dengan objektif
5.      Pengamatan bersifat aktif bukan pasif[14]
Jujus S. Suryasumantri menyebutkan bahwa langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan pengamatan yang sifatnya ilmiah adalah:
1.  Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
2.  Penyusunan kerangka berpikir dalam mengajukan hipotesis, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional yang telah diuji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
3.  Perumusan hipotesis, yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
4.  Pengujian hipotesis, yang merupakan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5.  Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis, maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah, sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran ini harus ditafsirkan secara pragmatis, artinya bahwa sampai saat ini belum terdapat fakta yang menyatakan sebaliknya.[15]
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu pengamatan dapat disebut ilmiah, meskipun langkah-langkah ini secara konseptual tersusun dalam urutan yang teratur, dimana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya, namun dalam prakteknya sering terjadi lompatan-lompatan. Hubungan antara langkah yang satu dengan langkah lainnya tidak terikat secara statis, melainkan bersifat dinamis dengan proses pengamatan ilmiah yang tidak semata mengandalkan pengamatan melainkan juga imajenasi dan kreativitas.
C.   Bahasa Ilmiah
Banyak ahli bahasa yang telah memberikan uraiannya tentang pengertian bahasa yang sudah barang tentu setiap ahli berbeda cara menyampaikannya. Bloch and Trager misalnya yang mengatakan bahwa Bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi.[16]
Bahasa dapat kita artikan sebagai serangkaian bunyi dan merupakan lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu. Dalam hal ini kita menggunakan bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi.[17] Sebenarnya kita bisa berkomunikasi dengan mempergunakan alat-alat lain, umpamanya dengan menggunakan isyarat-isyarat, yang tentunya bagi mereka yang tidak bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa (bisu).
Bahasa merupakan penemuan terbesar manusia, manusia menempatkan bahasa sebagai sarana khas untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang kehidupannya. Tanpa bahasa, penemuan-penemuan manusia dalam pelbagai bidang kehidupannya praktis tidak mungkin terjadi. Berkat bahasalah para nenek moyang kita mentransmisikan kebudayaan mereka kepada kita. Bahasa pula yang memungkinkan kita sekarang ini melakukan pengembangan intelektual yang akan kita wariskan kepada generasi-generasi mendatang.
Bahasa merupakan bentuk verbal dari pemikiran manusia dan menjadi sarana atau alat bagi kita untuk berkomunikasi, selain untuk berkomunikasi bahasa juga menjadi sarana bagi kita untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri, selain itu istilah bahasa pun mengacu pada percakapan, perkataan.[18]
Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia, kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya suatu hal yang biasa, padahal bahasa mempunyai pengaruh yang luar biasa dan yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Hal ini senada dengan apa yang diuraikan oleh Ernest Cassirer, bahwa keunikan manusia bukan terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasa.[19] Dengan bahasa, maka akan terbentang luas cakrawala berpikir  seseorang dan tiada batas dunia baginya. Untuk lebih spesifiknya pembahasan tentang bahasa ilmiah, maka ada beberapa hal yang perlu diketahui diantaranya.
1.    Berpikir dan berbahasa
Manusia adalah makhluk yang berpikir dan berbahasa. Berpikir adalah kegiatan akal budi. Dengan kegiatan ini manusia mengolah, mengerjakan pengetahuan yang diperolehnya untuk memperoleh kebenaran, berpikir merupakan kegiatan yang abstrak, berpikir baru menjadi nyata jika diungkapkan melalui bahasa. Bahasa adalah bentuk lahiriah dari pikiran, dengan bahasa isi pikiran yang dimiliki sesorang dapat dikomunikasikan kepada orang lain, baik secara lisan maupun melalui tulisan, dengan bahasa manusia bernalar dan bersoal jawab atau berargumen dalam rangka mencari kebenaran.[20]
Dalam komunikasi lisan dan tulisan diperlukan bahasa yang jelas dan benar, oleh karena itu penting bagi kita untuk memperhatikan hubungan yang tak terelakkan antara berpikir jelas dan benar dalam suatu rantai komunikasi yang mengandalkan adanya pengirim pesan, sarana, penerima pesan, dan respon balik dari penerima pesan. Jadi singkatnya berpikir dan berbahasa adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
2.    Fungsi bahasa
Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa adalah:
a. Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat
b.  Penetapan pemikiran dan pengungkapan
c.  Penyampaian pikiran dan perasaan
d.  Penyenangan jiwa
e.  Pengurangan kegoncangan jiwa.[21]
Halliday membagi fungsi bahasa kedalam tujuh bagian, yaitu:
a. Fungsi instrumental, menggunakan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti makan, minum dan sebagainya.
b.  Fungsi regulatoris, penggunaan bahasa untuk memerintahkan dan perbaikan tingkah laku.
c.  Fungsi personal, menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikiran.
d.  Fungsi heuristik, penggunaan bahasa untuk mengungkap fenomena dan keinginan untuk mempelajari.
e.  Fungsi imajinatif, penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discoveri seseorang.
f.  Fungsi representasional, penggunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan wawasan.
Buhler membedakan fungsi bahasa kedalam bahasa ekspresif, bahasa konatif dan bahasa representasional.
a.       Bahasa ekspresif, yaitu bahasa yang terarah pada diri sendiri yakni si pembicara.
b.      Bahasa konatif, yakni bahasa yang terarah pada lawan bicara.
c.       Bahasa representasional, yaitu bahasa yang terarah pada kenyataan lainnya, yaitu apa saja selain si pembicara atau lawan bicara.[22]
Lebih lanjut, Desmond Morris mengemukakan empat fungsi bahasa, yaitu:
a.       Information talking, yaitu pertukaran keterangan dan informasi.
b.      Mood talking, yaitu bahasa yang terlontar diri sendiri (sipembicara).
c.       Exploratory talking, yaitu ujaran untuk kepentingan ujaran (penjelasan demi penjelasan)
d.      Grooming talking, tuturan yang sopan yang maksudnya kerukunan melalui percakapan, yakni menggunakan bahasa untuk memperlancar proses sosial dan menghindari pertentangan.[23]
Dari berbagai macam fungsi bahasa yang telah diuraikan di atas melalui para pakar yang ahli dalam bidang ini, namun walaupun tampak perbedaan akan tetapi pendapat ini saling melengkapi.
3.    Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah
Untuk dapat berpikir ilmiah, seseorang selayaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah. Dengan menguasai hal tersebut tujuan yang akan dicapai akan terwujud. Disamping menguasai langkah-langkah tentunya kegiatan ini dibantu oleh sarana berupa bahasa, logika dan statistik.
Berbicara masalah sarana ilmiah, maka ada dua hal yang harus diperhatikan diantaranya:
a.       Sarana ilmiah itu merupakan ilmu dalam pengertian bahwa ia merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah, seperti menggunakan berpikir induktif dan deduktif dalam mendapatkan pengetahuan.
b.      Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah agar dapat melakukan penelitian ilmiah secara baik.[24]
Dengan demikian, jika hal tersebut dikaitkan dengan berpikir ilmiah, sarana ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah.
Bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Dengan kata lain kegiatan berpikir ilmiah sangat bertalian atau berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar demikian pula sebaliknya, kesemuanya ini tidak terlepas dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berpikir.
Disamping itu bahasa ilmiah harus bersifat reproduktif, dengan arti jika sipengirim komunikasi menyampaikan informasi berupa “X” misalnya, si pendengar juga harus menerima “X” sebagai suatu informasi, hal ini dimaksudkan untuk tidak terjadi kesalahn informasi, jika suatu informasi berbeda maka proses berpikirnya juga akan berbeda.[25]


PENUTUP
Kesimpulan
1.      Metode ilmiah, metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti jalan, sedangkan dalam bahasa Latin methodos berarti cara,  jadi dapat dipahami bahwa metode ilmiah adalah suatu proses atau prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik ilmiah yang dipakai oleh suatu disiplin (bidang studi) untuk mencapai suatu tujuan dan dapat diuji kebenarannya, jadi ia dapat dikatakan sebagai cara kerja ilmiah.
2.      Bentuk pengamatan ilmiah; perumusan masalah (objek empiris), penyusunan kerangka berpikir dalam mengajukan hipotesis, perumusan hipotesis, penarikan kesimpulan.
3.      Bahasa ilmiah, serangkaian bunyi dan merupakan lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu. Dalam hal ini kita menggunakan bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi yang sesuai dengan kaedah-kaedah berbahasa ilmiah itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Asmoro. Filsafat Umum. (Ed.IX; Rajawali Pers. Jakarta: 2009.
Amirullah, Andi. Fosting Blognya di http://amiere.multipli.com. Tanggal 5 April 2008.
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. (Ed. VII. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta: 2004.
http://filsafat.kompasiana.com/2010/12/05/ peran pengamatan penalaran dalam pengembangan ilmu pengetahuan
http://id.wikipedia.bahasa indonesia. ensiklopedi bebas. Tanggal 05 Desember 2010.
Peursen, C.A. Van. De Opbow Van de Wetenschap Een Inleiding in de Wetenschapsleer, diterjemahkan oleh; J. Drost, SusunanIlmu Pengetahuan (Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu). (Cet. I;  PT. Gramedia, Jakarta: 1985.
Raga Maran, Rafael. Pengantar Logika. (Cet. I; PT. Garasindo. Jakarta: 2007.
Suhartono, Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan (Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan). (Cet. I; Ar-Ruzz Media. Jogjakarta: 2008.
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Cet. XVIII; Pustaka Sinar Harapan, Jakarta: 2005.


[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. (Cet. XVIII; Pustaka Sinar Harapan, Jakarta: 2005), h. 40.
[2] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan). (Cet. I; Ar-Ruzz Media. Jogjakarta: 2008), h. 71
[3]Ibid. h. 72.
[4]Andi Amirullah, dalam Fosting Blognya di http://amiere.multipli.com. Tanggal 5 April 2008.
[5] Ibid.
[6] http://id.wikipedia.bahasa indonesia. ensiklopedi bebas. Tanggal 5 Desember 2010
[7]http://filsafat.kompasiana.com/2010/12/05/ peran pengamatan penalaran dalam pengembangan ilmu pengetahuan
[8] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan. Op.cit., h. 67-68.
[9] Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum. (Ed.IX; Rajawali Pers. Jakarta: 2009), h. 9.
[10] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. (Ed. VII. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta: 2004), h.  98.
[11] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan. Op.cit., h. 61.
[12]C.A. Van Peursen, De Opbow Van de Wetenschap Een Inleiding in de Wetenschapsleer, diterjemahkan oleh; J. Drost, SusunanIlmu Pengetahuan (Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu). (Cet. I;  PT. Gramedia, Jakarta: 1985), h. 79-80.
[13] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Op.cit., h. 90.
[14] Ibid.
[15] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. (Cet. XVIII; Pustaka Sinar Harapan, Jakarta: 2005), h. 128.
[16] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Op.cit.,  h. 176
[17] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Op.cit., h. 175.
[18] Rafael Raga Maran,  Pengantar Logika. (Cet. I; PT. Garasindo. Jakarta: 2007), h. 13.
[19]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Op. Cit , h. 175.
[20] Rafael Raga Maran,  Pengantar Logika. op. cit., h. 14.
[21] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Op. Cit , h. 180.
[22] Ibid., h. 182.
[23] Ibid.
[24] Ibid., h. 183.
[25] Ibid., h. 184.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar