Tambah Income Jutaan Rupiah

Rabu, 13 April 2011

SUMBER DAN CARA MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN


By. Iskandar Ahmad
A. Latar Belakang Masalah
Maha suci Allah SWT. Tuhan yang menciptakan manusia dengan melengkapinya dengan hati dan akal yang berfungsi mengenal dan memberi argumentasi-argumentasi tentang adanya Allah SWT. kemudian peranan hati sebagai instrumen untuk menemukan dan mencapainya sehingga manusia menyebabkan diberi kemuliaan khusus oleh Allah swt.
Awalnya manusia tidak mempunyai pengetahuan ketika baru lahir. Interaksinya dengan alam sekitar membuatnya ingin tahu sehingga mengajukan pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana? Jawaban dari pertanyaan tersebut menghasilkan pengetahuan. Tetapi kadang manusia mengalami banyak ketidakpuasan dengan pengetahuan yang ia terima. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenaknya semakin kompleks sehingga manusia terus berfikir mencari pengetahuan.
Nabi Muhammad saw.sebelum menerima wahyu beliau berdiam diri dan bertafakkur ketika berada di gua hira dalam kesendiriannya itu berakhir ketika dirinya menerima wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril pada tahun 610 M. Hampir sama dengan Muhammad, Ibrahim menemukan pengetahuan, ketika ia berfikir mencari Tuhan. Begitu juga dengan beberapa nabi lainnya, menemukan pengetahuannya melalui prosesi yang hampir sama. Pengetahuan yang ditemukan menjadi tonggak awal pengetahuan spiritual
Sedangkan  di Yunani, Plato (428-348 S.M) tidak menyendiri di dalam Gua atau di atas bukit, tetapi berfikir dan menyebarkan pemikirannya di sebuah Akademia (lembaga pendidikan). Salah satu pendapat Plato yang sangat popular adalah konsep tentang kebenaran idea yaitu kebenaran yang bersifat tetap, tidak berubah-ubah dan kekal. Kebenaran idea adalah kebenaran diluar wilayah pengamatan inderawi.[1] Pendapat tersebut mendapat kritikan dari muridnya Aristoteles (382-322 S.M). Ia tidak mengetahui adanya dunia idea yang berada di luar benda-benda yang konkret. Menurutnya, pengetahuan manusia diperoleh lewat proses panjang melalui pengamatan empirik pada benda-benda konkret yang diabstrakkan ke dalam idea”.[2] Plato dan Aristoteles lebih dikenal dengan para filosof (bukan nabi) dan sebelumnya telah ada filosof Yunani, antara lain: Thales (640-546 S.M), Phytagoras (572-497 S.M), Socrates (470- 399 S.M).
Proses pencarian kebenaran yang dilakukan oleh beberapa tokoh di atas telah mengahasilkan kebenaran agama (wahyu) dan kebenaran filsafat (akal). Dalam perkembangannya kedua pengetahuan tersebut saling bersitegang sebagai kebenaran yang paling esensi, paling tinggi. Perbedaan tersebut disebabkan karena sumber dari kedua pengetahuan itu yang berbeda. Dominasi antara agama dan filsafat silih berganti. Apalagi ketika filsafat telah menghasilkan ilmu pengetahuan. Agama berada dibawah baying-bayang kebenaran filsafat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, penulis membatasi pokok pembahasan makalah ini dengan mengangkat permasalahan sebagai berikut :
            1. Bagaimana pengertian ilmu pengetahuan
            2. Dari mana sumber ilmu pengetahuan
            3. Bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan


PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Secara etimologi, ilmu pengetahuan terdiri dari dua kata, yakni ilmu dan pengetahuan. Ilmu dalam bahas Arab, berasal dari kata Alama artinya mengecap atau memberi tanda. Sedangkan ilmu berarti pengetahuan.[3] Sedangkan dalam bahasa Inggris ilmu berarti science, yang berasal dari bahasa latin scientia, yang merupakan turunan dari kata scire, dan mempunyai arti mengetahui (to know), yang juga berarti belajar (to learn).[4] Dalam Webster’s Dictionary disebutkan bahwa;
(1) Possession of  knowledge as distinguished from ignorance or misunderstanding; knowledge attain trough study or practice, (2) A departemen of sistematiced knowledge as an object of study (the science of  tiology), (3) Knowledge covering general truths of the operasion laws esp. As obtained and tested through scientific method; such knowledge concerned with the physical word an its phenomena (natural science), (4) a system or method based or purporting to be based an scientific principles.[5]
(1) Pengetahuan yang membedakan dari ketidak tahuan atau kesalahpahaman; penetahuan yang diperoleh melalui belajar atau praktek, (2) suatu bagian dari pengetahuan yang  disusun secara sistematis  sebagai salah satu objek studi (ilmu teologi), (3) pengetahuan yang mencakup kebenaran umum atau hukum-hukum operasinal yang diperoleh dan diuji melalui metode ilmiah; pengetahuan yang memperhatikan dunia pisik dan gejala-gejalanya (ilmu pengetahuan alami), (4) suatu sistem atau metode atau pengakuan yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah.
Sedangkan pengetahuan merupakan arti dari kata knowledge yang mempunyai arti;
(1) the fact or conditioning of knowing something whit familiriality gained through experience or association, (2) the fact or conditioning  of being aware of something.
(3) the fact or condition of having information or of being learned, (4) the sum of is known; the body of truth, information, and principels acquired by mankind.[6]
(1) kenyataan atau keadaan mengetahui sesuatu yang diperoleh secara umum melalui pengalaman atau kebenaran secara umum, (2) kenyataan atau kondisi manusia yang menyadari sesuatu, (3) kenyataan atau kondisi memiliki informasi yang sedang dipelajari, (4) sejumlah pengetahuan; susunan kepercayaan, informasi dan prinsip-prinsip yang diperoleh manusia.
Konklusi dari pernyataan tersebut diatas, Ilmu diinterpretasikan sebagai   salah satu dari pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah yang sistematis. Sedangkan pengetahuan diperoleh dari kebiasaan atau pengalaman sehari-hari. Dengan demikian ilmu lebih sempit dari pegetahuan, atau ilmu merupakan bagian dari pengetahuan.
Pengertian tersebut tidak jauh berbeda dari definisi yang dikemukakan  oleh para ahli -terminologi-. Kata ilmu diartikan oleh Charles Singer sebagai proses membuat pengetahuan. Definisi yang hampir sama dikemukakan John  Warfield  yang mengartikan ilmu sebagai rangkaian aktivitas penyelidikan.[7] Sedangkan pengetahuan menurut Zidi Gazalba merupakan hasil pekerjaan dari tahu yang merupakan hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan menurutnya adalah milik atau isi fikiran.[8] Sedangkan pengertian ilmu pengetahuan sebagai terjemahan dari science, seperti dikatakan oleh Endang Saefuddin Anshori ialah;
Usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal-ihwal yang diselidiki (alam, manusia, dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu penginderaan itu, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksprimental.[9]
Dari definisi tersebut diperoleh ciri-ciri ilmu pengetahuan yaitu; sistematis, generalitas (keumuman), rasionalitas, objektivitas, verifibialitas dan komunitas. Sistematis, ilmu pengetahuan disusun seperti sistem yang memiliki fakta-fakta penting yang saling berkaitan. Generalitas, kualitas ilmu pengetahuan untuk merangkum fenomena yang senantiasa makin luas dengan penentuan konsep yang makin umum dalam pembahasan sasarannya. Rasionalitas, bersumber pada pemikiran rasional yang mematuhi kaidah-kaidah logika. Verifiabilitas, dapat diperiksa kebenarannya, diselidiki kembali atau diuji ulang oleh setiap anggota lainnya dari masyarakat ilmuan. Komunitas, dapat diterima secara umum, setelah diuji kebenarannya oleh ilmuwan.[10]
Sedangkan yang menjadi objek ilmu pengetahuan dapat dibagi dua yaitu objek materi (material objek) dan objek fomal (formal objek). Objek materi adalah sasaran yang berupa materi yang dihadirkan dalam suatu pemikiran atau penelitian. Didalamnya terkandung benda-benda materi ataupun non-materi. Bisa juga berupa hal-hal, masalah-masalah, ide-ide, konsep-konsep dll.[11]
Objek formal yang berarti sudut pandang menurut segi mana suatu objek diselidiki. Objek formal menunjukkan pentingnya arti, posisi dan fungsi-fungsi objek dalam ilmu pengetahuan.[12] Sebagai contoh pembahasan tentang objek materi “manusia”. Dalam diri manusia terdapat beberapa aspek, seperti: kejiwaan, keragaan, keindividuaan dan juga kesosialan. Aspek inilah yang menjadi objek forma ilmu pengetahuan. Manusia dengan objek formalnya akan menghasilkan beberapa macam ilmu pengetahuan, misalnya biologi, fisikologi, sosiologi, antropologi dll.
Dengan kata lain ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang suatu objek yang diperoleh dengan metode ilmiah yang disusun secara sistematik sebagai sebuah kebenaran.
B. Sumber Pengetahuan
Sumber dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagaia asal. Sebagai contoh sumber mata air, berarti asal dari air yang berada di mata air itu.[13] Dengan demikian sumber ilmu pengetahuan adalah asal dari ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia. Jika membicarakan masalah asal, maka pengetahuan dan ilmu pengetahuan tidak dibedakan, karena dalam sumber pengetahuan juga terdapat sumber ilmu pengetahuan.
Dr. Mulyadi Kartanegara mendefinisikan sumber pengetahuan adalah alat atau sesuatu darimana manusia bisa memperoleh informasi tentang objek ilmu yang berbeda-beda sifat dasarnya.[14] Karena sumber pengetahuan adalah alat, maka Ia menyebut indera, akal  dan hati sebagai sumber pengetahuan.[15]
            Amsal Bakhtiar berpendapat tidak jauh berbeda. Menurutnya sumber pengetahuan merupakan alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan istilah yang berbeda ia menyebutkan empat macam sumber pengetahuan, yaitu: emperisme, rasionalisme, intuisi dan wahyu.[16] Begitu juga dengan Jujun Surya Sumantri, ia menyebutkan empat sumber pengetahuan tersebut.[17]
            Sedangkan John Hospers dalam bukunya yang berjudul An Intruction to Filosofical Analysis, sebagaimana yang dikutip oleh Surajiyo menyebutkan beberapa alat untuk memperoleh pengetahuan, antara lain: pengalaman indera, nalar, otoritas, intuisi, wahyu dan keyakinan.[18] Sedangkan Amin Abdullah menyebutkan dua aliran besar, idealisme dan imperisme.[19]
Dari pemaparan di atas, penulis lebih condong kepada pendapat Mulyadi Kertanegara yang menyebutkan indra, akal dan hati sebagai sumber pengetahuan. Hanya saja ketiga sumber tersebut perlu ditambah dengan intuisi dan wahyu. Pengetahuan yang diperoleh intuisi berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh hati. Intiusi bagi para filsofi barat lebih dipahami sebagai pengembangan insting yang dapat memperoleh pengetahuan secara langsung dan bersifat mutlak.[20]         
            uraian, sumber pengetahuan terdiri dari empirisme (indera), rasionalisme (akal), intuisionisme (intuisi), ilmunasionalisme (hati), dan wahyu.  
1. Empirisme (indera)
           John Locke (1632-1704), mengemukakan teori tabula rasa yang menyatakan bahwa pada awalnya manusia tidak tahu apa-apa. Seperti kertas putih yang belum ternoda. Pengalaman inderawinya mengisi catatan harian jiwanya hingga menjadi pengetahuan yang sederhana sampai begitu kompleks dan menjadi pengetahuan yang cukup berarti.[21]
           Selain John Locke, ada juga David Hume (1711-1776) yang mengatakan bahwa manusia sejak lahirnya belum membawa pengetahuan apa-apa. Manusia mendapatkan pengetahuan melalui pengamatannya yang memberikan dua hal, kesan (impression) dan pengertian atau ide (idea). Kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman. Seperti merasakan sakitnya tangan yang terbakar. Sedangkan ide adalah gambaran tentang pengamatan yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau terefleksikan dalam kesan-kesan yang diterima dari pengalaman.[22]
Gejala alam, menurut aliran ini bersifat konkret, dapat dinyatakan dengan panca indera dan mempunyai karakteristik dengan pola keteraturan mengenai suatu kejadian.seperti langit yang mendung yang biasanya diikuti oleh hujan, logam yang dipanaskan akan memanjang. Berdasarkan teori ini akal hanya berfungsi sebagai pengelola konsep gagasan inderawi dengan menyusun konsep tersebut atau membagi-baginya. Akal juga sebagai tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Akal berfungsi untuk memastikan hubungan urutan-urutan peristiwa  tersebut.[23]
Dengan kata lain, empirisme menjadikan pengalaman inderawi sebagai sumber pengetahuan. Sesuatu yang tidak diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Walaupun demikian, ternyata indera mempunyai beberapa kelemahan, antara lain; pertama, keterbatasan indera. Seperti kasus semakin jauh objek semakin kecil ia penampakannya. Kasus tersebut tidak menunjukkan bahwa objek tersebut mengecil, atau kecil. Kedua, indera menipu. Penipuan indera terdapat pada orang yang sakit. Misalnya. Penderita malaria merasakan gula yang manis, terasa pahit dan udara yang panas dirasakan dingin. Ketiga, objek yang menipu, seperti pada ilusi dan fatamorgana. Keempat, objek dan indera yang menipu. Penglihatan kita kepada kerbau, atau gajah. Jika kita memandang keduanya dari depan, yang kita lihat adalah kepalanya, sedangkan ekornya tidak  kelihatan. dan kedua binatang itu sendiri tidak bisa menunjukkan seluruh tubuhnya.[24] Kelemahan-kelemahan pengalaman indera sebagai sumber pengetahuan, maka lahirlah sumber kedua, yaitu Rasionalisme.
2. Rasionalisme (akal)
            Rene Descartes (1596-1650), dipandang sebagai bapak rasionalisme. Rasionalisme tidak menganggap pengalaman indera (empiris) sebagai sumberpengetahuan, tetapi akal (rasio). Kelemahan-kelemahan pada pengalaman empiris dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari penggunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, tetapi indera hanyalah sebagai perangsang agar akal berfikir dan menemukan kebenaran/ pengetahuan.
            Akal mengatur data-data yang dikirim oleh indera, mengolahnya dan menyusunnya hingga menjadi pengetahuan yang benar. Dalam penyusunan ini akal menggunakan konsep rasional atau ide-ide universal. Konsep tersebut mempunyai wujud dalam alam nyata dan bersifat universal dan merupakan abstraksi dari benda-benda konkret. Selain menghasilkan pengetahuan dari bahan-bahan yang dikirim indera, akal juga mampu menghasilkan pengetahuan tanpa melalui indera, yaitu pengetahuan yang bersifat abstrak.[25] Seperti pengetahuan tentang hukum/ aturan yang menanam jeruk selalu berbuah jeruk. Hukum ini ada dan logis tetapi tidak empiris.
Meski rasionalisme mengkritik emprisme dengan pengalaman inderanya,  rasionalisme dengan akalnya pun tak lepas dari kritik. Kelemahan yang terdapat pada akal. Akal tidak dapat mengetahui secara menyeluruh (universal) objek yang dihadapinya. Pengetahuan akal adalah pengetahuan parsial, sebab akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia memikirkannya dan akal hanya memahami bagian-bagian tertentu dari objek tersebut.[26]
            Kelemahan yang dimiliki oleh empirisme dan rasionalisme disempurnakan sehingga melahirkan teori positivisme yang dipelopori oleh August Comte (1798-1857) dan Iammanuel Kant (1724-1804), Ia telah melahirkan metode ilmiah yang menjadi dasar kegiatan ilmiah dan telah menyumbangkan jasanya kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut pahan ini indera sangat penting untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi indera harus dipertajam dengan eksperimen yang menggunakan ukuran pasti. Misalnya panas diukur dengan derajat panas, berat diukur dengan timbangan dan jauh dengan meteran.


3. Intusionisme (intuisi)
            Kritik paling tajam terhadap empirisme dan rasionalisme di lontarkan oleh Hendry Bergson (1859-1941). Menurutnya bukan hanya indera yang terbatas, akalpun mempunyai keterbatasan juga. Objek yang ditangkap oleh indera dan akal hanya dapat memahami suatu objek bila mengonsentrasikan akalnya pada objek tersebut. Dengan memahami keterbatasan indera, akal serta objeknya, Bergson mengembangkan suatu kemampuan tingkat tinggi yang dinamakannya intuisi. Kemampuan inilah yang dapat memahami suatu objek secara utuh, tetap dan menyeluruh. Untuk memperoleh intuisi yang tinggi, manusia pun harus berusaha melalui pemikiran dan perenungan yang konsisten terhadap suatu objek.[27]
            Lebih lanjut Bergson menyatakan bahwa pengetahuan intuisi bersifat mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi. Intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis.[28] Intuisi dan analisa bisa bekerja sama dan saling membantu dalam menemukan kebenaran. Namun intuisi sendiri tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan.[29]
            Salah satu contohnya adalah pembahasan tentang keadilan. Apa adil itu? Pengertian adil akan berbeda tergantung akal manusia yang memahami. Adil bisa muncul dari si terhukum, keluarga terhukum, hakim dan dari jaksa. Adil mempunyai banyak definisi. Disinilah intuisi berperan. Menurut aliran ini intuisilah yang dapat mengetahui kebenaran secara utuh dan tetap.
4. Illuminasionisme (hati)
            Paham ini mirip dengan intuisi tetapi mempunyai perbedaan dalam metodologinya. Intuisi diperoleh melalui perenungan dan pemikiran yang mendalam, tetapi dalam illuminasi diperoleh melalui hati. Secara lebih umum illiminasi banyak berkembang dikalangan agamawan dan dalam Islam dikenal dengan teori kasyf yaitu teori yang mengatakan bahwa manusia yang hatinya telah bersih mampu menerima pengetahuan dari Tuhan. Kemampuan menerima pengetahuan secara langsung ini, diperoleh melalui latihan spiritual yang dikenal dengan suluk atau riyadhah. Lebih khusus lagi, metode ini diajarkan dalam thariqat. Pengetahuan yang diperoleh melalui illuminasi melampaui pengetahuan indera dan akal. Bahkan sampai pada kemampuan melihat Tuhan, syurga, neraka dan alam ghaib lainnya.[30]    
            Di dalam ajaran Tasawuf, diperoleh pemahaman bahwa unsur Ilahiyah yang terdapat pada manusia ditutupi (hijab) oleh hal-hal material dan hawa nafsunya. Jika kedua hal ini dapat dilepaskan, maka kemampuan Ilahiyah itu akan berkembang sehingga mampu menangkap objek-objek ghaib.
5. Wahyu (agama)
            Wahyu sebagai sumber pengetahuan juga berkembang dikalangan agamawan. Wahyu adalah pengetahuan agama disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi yang memperoleh pegetahuan tanpa mengusahakannnya. Pengetahuan ini terjadi karena kehendak Tuhan.[31] Hanya para nabilah yang mendapat wahyu.
            Wahyu Allah berisikan pengetahua yang baik mengenai kehidupan manusia itu sendiri, alam semesta dan juga pengetahuan transendental, seperti latar belakang dan tujuan penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan di akhitar nanti.[32] Pengetahuan wahyu lebih banyak menekankan pada kepercayaan yang merupakan sifat dasar dari agama.
C. Cara Memperolah Ilmu Pengetahuan
            Lima sumber pengetahuan yang telah kami sebutkan diatas, menitikberatkan pada akal dalam rangka   memperoleh atau mendapatkan pengetahuan. Empiris menggunakan akal untuk membentuk ide/konsep dari objek. Apalagi dalam aliran rasionalisme yang menekankan pada akal. Intuisi, illuminasi dan wahyu pun diperoleh dari akal yang berfikir. Meskipun demikian pengetahuan yang dihasilkan dari sumber tersebut berbeda-beda.[33]
            Dr. Muhamad Al-Bahi membagi ilmu dari segi sumbernya terbagi menjadi dua, pertama; ilmu yang bersumber dari Tuhan, kedua; ilmu yang bersumber dari manusia. Al-Jurjani membagi ilmu menjadi dua jenis, yaitu pertama; ilmu Qadim dan kedua; ilmu Hadits. Ilmu Qadim adalah ilmu Allah yang jelas sangat berbeda dari ilmu hadits yang dimiliki manusia sebagai hamba-Nya.[34]
Menurut Al-Gazali sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Amsal Bakhtiar berpendapat bahwa ilmu dibagi menjadi dua macam yaitu ilmu syar’iyah dan ilmu aqliyyah. Ilmu syar’iyyah adalah ilmu religius karena ilmu itu berkembang dalam suatu peradaban yang memiliki syar’iyyah (hukum wahyu) sedangkan ilmu aqliyyah adalah ilmu yang diluar dari ilmu syar’iyyah. Seperti ilmu alam, matematika, metafisika, ilmu politik dll.[35] Adapun klasifikasi Al-Gazali tentang ilmu syar’iyah dan ilmu akliah:
     I.          Ilmu Syar’iyyah
1.       Ilmu tentang prinsip-rinsip dasar (al-ushul)
1)       Ilmu tentang keesaan Tuhan (al-tauhid)
2)      Ilmu tentang kenabian
3)      Ilmu tentang akhirat atau eskatologis
4)      Ilmu tentang sumber pengetahuan religius. Yaitu Alquran dan al-Sunnah (primer), ijma’ dan tradisi para sahabat (sekunder), ilmu ini terbagi menjadi dua kategori:
                                                                           i.            Ilmu-ilmu pengantar (ilmu alat)
                                                                         ii.            Ilmu-ilmu pelengkap, terdiri dari: ilmu Quran, ilmu riwayat al-hadits, ilmu ushul fiqh, dan biografi para tokoh.
2.      Ilmu tentang cabang-cabang (furu’)
1)       Ilmu tentang kewajiban manusia kepada Tuhan (ibadah)
2)      Ilmu tentang kewajiban manusia kepada masyarakat:
                                                                           i.            Ilmu tentang transaksi, termasuk qiahas
                                                                         ii.            Ilmu tentang kewajiban kontraktual(berhubungan dengan hukum keluarga)
3)      Ilmu tentang kewajiban manusia kepada jiwanya sendiri (akhlak)
   II.          Ilmu Aqliyyah
1.       Matematika: aritmatika, geometri, astronomi, astrologi dll
2.      Logika
3.      Fisika/ ilmu alam: kedokteran, meteorology, kimia dll
4.      Ilmu tentang wujud diluar alam, atau metafisika:
1)       Pengetahuan tentang esensi, sifat dan aktivitas Ilahi
2)      Pengetahuan tentang subtansi-subtansi sederhana
3)      Pengetahuan tentang dunia halus
4)      Ilmu tentang kenabian dan fenomena kewalian, ilmu tentang mimpi.
5)      Teurgi. Ilmu ini menggunakan kekuatan-kekuatan bumi untuk menghasilkan efek.[36]
Pengetahuan menurut Al-Kindi dibagi kedalam dua macam yaitu, pertama pengetahuan  Ilahi atau devine science, yaitu ilmu yang tercantum dalam Qur’an sebagai pengetahuan yang diperoleh nabi dari Tuhan yang didasarkan pada keyakinan. Kedua, pengetahuan manusiawi, atau human science, yang disebut juga filsafat yang mendasarkan pada pemikiran (ratio-reation).[37]
                        Adapun cara mendapatkan ilmu pengetahuan diperoleh melalui metode ilmiah (scientific method). Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pemikiran, pola kerja tata langkah dan cara teknis untuk memperolah pengetahuan yang lama.[38]
Metode ilmiah muncul dari kombinasi antara empirisme dengan rasionalisme yang ditambah dengan eksperimen sehingga melahirkan positivisme dengan bidannya Augus Comte. Metode ilmiah merupakan alat operasional dari positivisme yang terperinci dalam langkah-langkah logico-hypothico-verivicartif.[39] Maksudnya yaitu dengan pembuktian bahwa objek itu logis, kemudian mengajukan hipotesa yang mendasarkan pada logika, setelah itu lakukanlah pembuktian hipotesa dengan eksperimen untuk memverifikasi hipotesa yang diajukan. Dalam praktisnya metode ilmiah menjadi metode penelitian (research) untuk menemukan pengetahuan. Secara garis besar langkah-langkah metode ilmiah disebutkan yang menurut Jujun adalah sebagai berikut;
a.      Perumusan masalah, merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta data diidentifikasikan dengan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
b.      Penyususnan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengait dan membentuk permasalahan.
c.       Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikir yang dikembangkan.
d.      Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hiptesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Apabila fakta mendukung hipotesis maka hipotesis diterima. Dan apabila fakta tidak mendukung hipotesis ditolak. Hipotesis yang diterima menjadi bagian dari ilmu pengetahuan sebab telah memenuhi persyaratan pengetahuan ilmiah.[40]
            Hipotesis yang ditolak,  menjadikan teori baru apabila langkah-langkah ilmiah yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hasil dari penelitian tercermin pada kesimpulan yang disusun. Kesimpulan penelitian adalah penemuan-penemuan dari hasil interpretasi dan pembahasan.  Kesimpulan merupakan jawaban dari permasalahan yang diajukan. Pengujian hipotesis berusaha membandingkan proposisi yang diajukan dengan data empirik ini yang telah ditentukan variable dan indikatornya dalam bentuk data atau informasi.[41] Seringkali data tersebut berupa data statistik dengan rancangan uji hipotesa yang telah tersedia.
            Pembahasan dilakukan dengan menginterpretsi data yang ditemukan dalam penelitan. Dalam pembahasan kita mencocokkan dan mengacu dengan kerangka berfikir dan hipotesa yang telah disusun. Apabila terdapat kesesuaian maka hipotesa benar dan apabila terjadi perbedaan/ bertentangan maka perlu dijelaskan letak perbedaan tersebut dan apa penyebabnya.
            Langkah-langkah metode ilmiah yang dipaparkan Jujun telah ditambah dengan pengumpulan data/informasi, atau dilakukan penelitian dan pembahasan dari data/ informasi yang terkumpul.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
          Berdasarkan uraian dari pembahasan di atas, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.       Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang suatu objek yang diperoleh dengan metode ilmiah dengan mengikuti prinsip-prinsip ilmiah dan disusun secara sistematis sebagai sebuah kebenaran.
2.      Sumber ilmu pengetahuan terdiri dari empirisme, rasonalisme, intuisionisme, illuminasionisme dan wahyu.
3.      Ilmu pengetahuan diperoleh melalui metode ilmiah yang terdiri dari perumusan masalah, penyusunan kerangka berfikir, perumusan hipotesis, pengumpulan data/ informasi dan penarikan kesimpulan melalui pengujian hipotesis.
B. Rekomendasi
          Disadari bahwa dari  penyajian makalah di atas, baik aspek penulisan maupun pembahasannya masih jauh dari harapan dan kesempurnaan. Dengan rasa  hormat dan prinsip keterbukaan kami harapkan kepada peserta diskusi untuk memberikan saran dan input yang konstruktif demi kesempurnaan penulisan dan pembahasan tehadap makalah berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Amin. Studi Agama, Normativitas atau Historisitas?, (cet. Iii, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002).
Anshari, Endang Saifuddin.  Ilmu, Filsafat dan Agama,  (cet. Vii, Surabaya: Bina Ilmu Offset, 1987).
Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Semarang: Toha Putra 1989
Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu,   (cet. V., Yogyakarta: Penerbit Libery, 2000).
Hadiwijoyo, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1989)
Kattsoft, Louis O. Pengantar Filsafat  (cet.vii, Yogyakarta: Tiara Wicana Yogaya, 1996).
Mulyadhi Kertanegara. Integrasi Ilmu Sebuah Rekontruksi Holistik,  (Jakarta: UIN Jakarta Press).
Munawar, A.W. Kamus Al-Munawwar Arab Indonesia Terlengkap, ditelaah oleh KH. Al Ma’shum, KH. Zaenal Abidin,  cet.xiv,  (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997).
Nasution, Harun. Filsafat dan Mistitisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang: 1999).
Supalan Suhartono. Filsafat Ilmu Pengetahuan,  (Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, 1997).
Surajio. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, cet. I, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005)
Suriyasumantri, Jujun, S., Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (cet. Xii, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999).
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet.II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991).
Tirus, Harold H. dkk., Persoalan-Persoalan Filsafat, Terjemahan oleh Prof. Dr. H. M. Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).


1 Harold H. Titus dkk., Persoalan-persoalan Filsafat, terjemahan oleh Prof. Dr. H. M Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h 256
[2] Harun Hadjiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat I. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius 1989), h 52
[3] A.W. Munawar, Kamus Al-Munawwar Arab Indonesia Terlengkap, ditelaah oleh KH.Ali Ma’sum, KH. Zaenal Abidin,cet. Xiv, (Surabaya Pustaka Progressif, 1997), h.966.
[4] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, cet.v., (Yogyakarta: Penerbit Liberty, 2000), h. 87.
[5] Supalan Suharsono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, 1997), h. 35
[6] Ibid
[7] The Liang Gie, Op. cit., h. 89
[8] Amsal, Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rajawali Perss, 2009), h. 85
[9] Endang Saifuddin Anshari. Ilmu, Filsafat dan Agama. (Cet. Vii, Surabaya: Bina Ilmu Offset, 1987), h. 50.
[10] The Liang Gie. Op cit,. h. 148-150
[11] Suparlan, Op cit. h. 39
[12] Ibid
[13] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. II, (Jakarta; Balai Pustaka, 1991), h.867
[14] Mulyadi Kertanegara, Integrasi Ilmu, Sebuah Rekonstruksi Holistic, (Jakarta; UIN Jakarta Press, 2005). H. 101.
[15] Ibid., h. 101-102
[16] Amsal Bakhtiar, Op cit., h. 98-108
[17] Jujun S Suryasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Popular, cet. Xii, (Jakarta; Pustaka Sinar Harapan, 1999), h. 50-54.
[18] Surajiyo, Ilmu Filsafat, suatu pengantar, (cet.I; Jakarta; PT. Bumi Aksara, 2005), h. 28
[19] Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas Atau Historivitas?,( cet III Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2002), h. 244
[20] Louis O. Kattsoft, Pengantar Filsafat, (cet. Vii, Yogyakarta: Tiara Wicana Yogya, 1996), h.146
[21] Ahmad Tafsir, op. cit,. h.24
[22] Amsal Bakhtiar, op. cit., h.100
[23] Ibid,. h. 101
[24] Amsal, Bakhtiar, Op., cit.,h. 102
[25] Ibid,. h.25
[26] Ibid,. h.27.
[27] Ibid
[28] Kattsoft, op. cit., h.146
[29] Jujun, op, cit., h.53
[30] Ahmad Tafsir, op. cit., h.27
[31] Amsal, op. cit., h.110
[32] Jujun, op. cit., h.54
[33] Ahmad, Tafsir. Op. cit., h. 16-17
[34] Amsal, Bakhtiar, Op. cit., h. 123
[35] Ibid, h. 123
[36] Ibid, h. 124-25
[37] Harun Nasution, Falsafatdan Mistitisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), h. 8
[38] The Liang Gie, op. cit. h. 110
[39] Ibid,h. 33
[40] Jujun S Sumantri,  Op. cit., h.128
[41] Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar