Tambah Income Jutaan Rupiah

Kamis, 14 April 2011

TEKHNIK PERIWAYATAN HADIS

By. La Hamiku
A.   Latar Belakang Masalah
          Al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam yang berasal dari Allah swt, sedangkang hadis adalah merupakan sumber kedua sekaligus sebagai penjelasan (Bayan) dari al-Qur’an yang berasal dari Nabi Muhammad saw baik melalui perkataan maupun perbuatan. Pengertian (Qauliyyah) ialah yang pernah beliau ucapkan dalam berbagai bidang, seperti bidang hukum ( syari’at), akhlaq, akidah, pendidikan dan sebagainya.[1]
          Fi’liyah atau perbuatan  merupakan penjelasan praktis terhadap peraturan- peraturan syariat yang belum jelas cara pelaksanaannya.[2] Sedangkan takrir Nabi ialah keadaan beliau mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang dilakukan  atau apa yang dikatakan oleh sahabat di hadapan beliau.[3] Dalam al-Qur’an semua periwayatan ayat-ayatnya mempunyai kedudukan sebagai suatu yang mutlak kebenarannya sedangkan hadis Nabi belum dapat dipastikan periwayatannya apakah berasal dari Nabi atau tidak.[4]
          Adapun dalam kondisi faktualnya terkadang manusia terbentur dengan adanya hadis-hadis yang dalam periwatannya tidak memenuhi kriteria tertentu atau yang lebih dikenal dengan hadis lemah atau tertolak baik dari segi sanad maupun matannya padahal kedua aspek tersebut sangat menentukan apakah hadis itu dapat diterima atau tidak. Oleh sebab itu dalam periwatan hadis ada yang dikenal dengan Ilmu hadis Riwayah. Yang dimaksud dengan ilmu hadis riwayah  ialah suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi. Ada juga yang dikenal dengan Imu Hadis Dirayah yang merupakan undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal, sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan Al-Hadis,sifat-sifat rawi dan sebagainya.[5]
          Dari uraian di atas  perlu diketahui Tekhnik Periwayatan Hadis dari Nabi terhadap sahabat dan cara sahabat meriwayatkan hadis, sehingga dapat membedakan hadis yang shahih dan daif.
B. Rumusan masalah      
          Bertitik tolak dari latar belakang pemikiran di atas maka penulis akan merumuskan masalah pokok pada makala ini: “Bagaimana Tekhnik Periwayatan Hadis” yang meliputi tiga aspek yaitu:
1.                  Bagaimana  cara   Nabi Muhammad Saw menyampaikan hadis!
2.                  Bagaimana periwayatan dengan lafal dan maknawi!
3.                  Bagaimana Tahammul wa ada’ al-Hadis!

          PEMBAHASAN
A. Cara Nabi Muhammad saw Menyampaikan Hadis
Dalam menyampaikan hadis, Rasulullah Saw tidak melakukannya dengan satu cara saja, namun beliau menyampaikan dalam berbagai macam,  sesuai dengan bentuk-bentuk hadis yang terdiri dari perkataan atau sabda, perbuatan, taqrir dan hal ikhwal atau keadaan Nabi, serta situasi dan kondisi yang ada.[6]
Berikut ini dikemukakan cara-cara Nabi menyampaikan hadis sebagai berikut:
1.  Hadis  dalam bentuk perkataan
a.   Nabi menyampaikan hadis dengan lisan.
Hadis yang disampaikan  Nabi dengan lisan dilaksanakan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.     Cara lisan dimuka orang banyak yang terdiri kaum laki-laki.
2.     Pengajian rutin dikalangan kaum laki-laki.
3.     Pengajian diadakan juga dikalangan kaum wanita setelah kaum wanita memintanya.[7]
Riwayat yang mengisyaratkan cara menyampaikan hadis tersebut adalah sebagai berikut:
قَالَتْ اَلنَّسَاءِ لِلنَِّبي ص. م. غَلبْنَاعَلَيْكَ: اَ لّرِجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْ مًامِنْ نَفْسِكَ فَوْعِدَهُنَّ يَوْمًالَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوعِظَهُنَّ واَمْرَ هُنَّ فَكَانَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ: مَا مِنْكُنَّ اِمْرَا ةُ تُقَدَّمُ ثَلاَ ثَةَ مِنْ وَلَدِهَا اِلاَّّ كَانَ لهَاَحِجَابًامِنَ النّارَفَقَالَتْ اِمْرَ اَ ةَ: وَاثْنَتَيْنِ - فَقَالَ: وَا ثْنَتَيْنِ (رواه ا اابخا رو ي عن اسعيد)   
Artinya:
  Berkata kaum wanita kepada Nabi; kaum pria telah mengalahkan kami (untuk memperoleh pengajaran) dari anda. Karena itu kami mohon  anda menyiapkan waktu satu hari  untuk kami (kaum wanita).” Maka Nabi  menjanjikan satu hari untuk memberikan pengajaran kepada kaum wanita itu. (dalam pengajian itu) Nabi memberi nasehat  dan menyuruh mereka  (untuk berbuat kebajikan). Nabi bersabda kepada mereka” tidaklah seseorang bagi kalian yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, melainkan ketiga anak itu menjadi dinding baginya dari ancaman api neraka” Seorang wanita bertanya: “ dan (bagaimana jika yang mati) dua orang anak saja?” Nabi menjawab: “ dua orang anak juga” (HR. Al-Bukhari dari Abi Said al-Khudri)[8]

          Selain itu masih ada riwayat lain yang menyatakan cara-cara Nabi menyampaikan hadisnya melalui yaitu :
1.     Dengan lisan dan perbuatan di hadapan orang banyak, dan  disampaikan  di masjid pada waktu malam dan subuh.
2.     Hadis Nabi disampaikan sebagai teguran terhadap orang yang melakukan “korupsi” berupa penerimaan hadis dari masyarakat.
3.     Hadis Nabi disampaikan dengan cara lisan, tidak di hadapan orang yang banyak, berisi jawaban yang diajukan  oleh sahabat dan bentuk jawaban Nabi itu berupa tuntutan tekhnis suatu kegiatan yang berkaitan dengan agama.
4.     Cara Nabi juga menyampaikan hadisnya selain cara lisan juga secara permintaan penjelasan terhadap sahabat, berupa takrir atas amalan ibadah sahabat yang belum dicontohkan langsung oleh Nabi.
5.     Riwayat lain juga mengatakan cara Nabi menyampaikan hadisnya dengan bentuk tulisan.[9]
b.  Nabi menyampaikan hadis dalam bentuk tertulis
Cara seperti ini dilakukan Nabi misalnya ajakan ajakan Nabi untuk memeluk agama Islam kepada berbagai  kepala Negara dan pembesar daerah yang non Islam lewat surat, perjanjian-perjanjian yang dilakukan Nabi dengan orang-orang musyrik di Mekah dan dan penduduk Madinah, seperti perjanjian Hudaibiyah dan piagam Madinah.
2.  Hadis yang berupa perbuatan
Nabi menyampaikan hadis selain dengan cara lisan juga dalam bentuk perbuatan. Cara ini dilakukan di depan orang banyak  di masjid pada waktu malam dan subuh. Contoh.
اَنَّ رَسُوْ لُ اللهَ ص. م صَلِّ ذَ اتَ لَيْلَةِ ِف الْمَسْخِدِ فَصَلّ بِصَللاَ تِهِ نَاسٍ , ثُمَ صَلَّ مِنَ اْلقَا بِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ, ثُمَ اجْتَمَعُوا مِنَ الَّيْلَةِالثَّا لِثَةِ اَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُخُ اِ لَيْهِمْ رَسُوْ لُ الله ص. فَلَمَّااَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَاَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنِ اْلخُرُ وْخِ اِلَيْكُمْ ِءلاَّاِنِّى قَدْ خَشِيْتُ اَنْ تُقْرَضَ عَلَيْكُمْ, وَذَ ِلكَ فِ رَمَضَانَ (رواه البا رى عن عاءشة)


Artinya:
  Pada suatu malam, Rasulullah saw shalat di masjid, lalu orang-orang ikut shalat bersama Nabi, pada malam berikutnya, Nabi shalat di masjid, orang-orang  yang ikut shalat bersamanya makin banyak, kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang berkumpul lagi, akan tetapi Muhammad saw tidak keluar.  Pada waktu subuh, Rasulullah bersabda” sesungguhnya saya telah melihat apa yang kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangi saya untuk keluar menjumpai kalian, kecuali saya sungguh khawatir (shalat malam tersebut diwajibkan atas kalian”. Peristiwa ini terjadi pada bulan ramadhan. )HR Bukhari dari Aisyah). [10]

3. Hadis dalam bentuk taqrir
 Nabi menyampaikan hadis dalam bentuk  taqrir dengan cara meminta penjelasan dari sahabat, dan berupa taqrir berupa dalam amalan ibadah sahabat yang belum pernah dicontohkan langsung  oleh Nabi. Contoh lain adalah sebuah riwayat tentang tindakan ‘Amr bin al-‘Ash yang mimpi bersenggama  dan keluar sperma. Ketika masuk waktu subuh, ia lalu bertayammum dan tidak mandi janabah karena udara terlalu dingin. Dia menjadi imam shalat pada hari itu. Para sahabat kemudian melaporkan peristiwa itu kepada Nabi. Nabi segera meminta penjelasan dari ‘Amr perihal tindakan itu  ‘Amir menjawab, bahwa ia bertayammum karena udara terlalu dingin, kemudian ‘amir menyatakan, bahwa ia mendengar firman Allah swt dalam surah An-Nisa ayat 29:
Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu‘ ÇËÒÈ        
Terjemahannya:  Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu.[11]

Mendengar penjelasan tersebur ’Amr bin al-Ash tersebut Nabi hanya diam saja dan tidak memberi komentar apa-apa.
4.       Hadis dalam bentuk hal ihwal.
     Hadis dalam bentuk hal ihwal ini dengan cara berupa keadaan Nabi sesungguhnya bukan merupakan aktifitas Nabi, karena menyampaikan hadis Nabi bersikaf pasif saja, pihak aktif adakah para sahabat Nabi, dalam arti sebagai perekam terhadap keadaan Nabi tersebut. Contoh.
كاَنَ رَسُوْ لُ الله ص م اَحْسَنَ ا لنَا ِس وَجهَا وَأَحْسَنْهُ خَلْقَا لَيْسَى بِاالطَّوِ يْلِ البَانِْنِ وَلاَ باِْ لقَصِيْرِ
(راواه البخارى عن البراء)
Artinya: Rasullah Saw adalah seorang elok wajahnya, ciptaan (Tuhan) paling bagus, (postur tubuhnya) tidak terlalu tinggi    dan tidak terlau pendek.[12]

   Dari penjelasan di atas dapatlah dibahami bahwa dalam menyampaikan hadisnya, Nabi tidak terikat hanya dengan satu macam cara saja. Dari keragaman cara penyampaian hadis oleh Nabi tersebut  membawah beberapa akibat diantaranya adalah: (a) hadis yang berkembang dalam masyarakat jumlahnya banyak. (b) perbendaharaan dan pengetahuan para sahabat tentang hadis Nabi tidaklah sama.
B. Periwayatan dengan Lafal dan Makna
          Sebagaimana para muhaddisin bersepakat bahwa periwayatan hadis harus sesuai dengan lafal aslinya tanpa ada perubahan. Adapun tokoh yang dikenal dalam menjaga keaslian hadis diantaranya: al-Qasym bin Muhammad, Ibn  Sirin dan al-Qadi Iyad. Menurut Qadi Iyad, seyogyanya periwayatan dengan makna ditutup rapat untuk menghindari dominasi orang-orang mengklaim dirinya cakap dalam periwayatan sebagaimana yang terjadi pada banyak periwayat dulu dan sekarang. Contoh periwatan hadis dengan mutawatir lafziah Rasulullah bersabda:
 كذب علي متعمدا فليتوّأ مقعده من النّارمن
Artinya: Barang siapa yang berbuat dusta terhadap diriku, hendaklah ia menempati neraka.”[13] Menurut Abu Bakar Al-Sairi, bahwa hadis ini diriwayatkan secara marfu, oleh enam puluh sahabat. Menurut Ibnu Al-Shalah, hadis ini diriwayatkan oleh enam puluh dua sahabat, termasuk sepuluh sahabat yang telah diakui akan masuk surga.[14] Contoh lain hadis dalam bentuk lafziah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Tirmidzi:
فال يا محمّد إنّ القران أنزل على سبعة أ حرف
Artinya: Al-Qur’an diturunkan atas tuju huruf (tujuh macam bacaan)”. Hadis ini diriwayatkan dua puluh  tujuh sahabat[15]

       Dalam periwayatan hadis dengan makna, sebagian ulama ahli hadis, ahli fighi, dan ahli ushul besikap ketat. Mereka mewajibkan periwayatan hadis dengan lafadz, dan tidak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali.[16]
       Mayoritas ulama cenderung berpendapat, bahwa seorang muhaddis boleh meriwayatkan dengan makna, tidak dengan lafadz, dengan syarat:
a.   Bila ia memahami bahasa arab dengan segala seluk beluknya;
b.   Mengerti makna-makna dan kandungan hadis, serta
c.  Memahami kata yang bisa merubah makna dan kata yang tidak merubahnya.[17]
           Periwayatan secara makna bukan hanya mengakibatkan perbedaan redaksi semata, melainkan juga mengakibatkan timbulnya perbedaan penggunaan kata-kata. Karenanya dapat saja terjadi, ada kata-kata tertentu yang termaktub dalam suatu hadis di kitab-kitab hadis belum pernah dikenenal pada zaman Nabi saw. Kata-kata itu muncul dalam riwayat hadis karena periwayat hadis yang sesudah lama Nabi saw wafat, memakai kata-kata yang diduga memilki kesamaan arti yang berasal dari Nabi saw.[18]  
Adapun periwayatan hadis dengan makna sebagaimana yang terdapat dalam bukunya Hasbi Ash Siddieqy yang berjudul Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, sebagai berikut:
Adapaun bentuk-bentuk atau cara para sahabat meriwayatkan hadis sebagai berikut:
a.  Dengan lafal yang asli, yakni menurut lafal yang mereka terima dari Nabi, dan mereka hafal benar lafal dari Nabi itu.
b.  Dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan maknanya bukan lafalnya, karena mereka tidak hafal lafalnya yang asli lagi dari Nabi saw.[19]
          Namun demikian  Jumhur Ulama berpendapat bahwa,  boleh bagi perawi hadis menyebut makna bukan lafal, atau meriwayatkan hadis  dengan makna apabila ia seorang yang mengetahu bahasa arab dengan sempurna dan cara-cara orang arab menyusun kalimat-kalimatnya. Jika ia bersifat demikian, bolehlah dia menukilkan lafal hadis dengan makna, karena dia dengan pengertiannya mendalam dapat memelihara riwayatnya dari perubahan makna tersebut.[20]
          Bukti lain adalah periwayatan hadis dengan maknanya telah dilakukan oleh para sahabat dan ulama salaf periode pertama. Seringkali mereka mengemukakan suatu makna dalam  satu masalah dengan beberapa redaksi yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena mereka berpegang kepada makna hadis bukan kepada lafalnya.[21]
Contoh hadis dalam bentuk makna:
1.      Dalam riwayat al-Bukhari yang lain :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ) رواه البخاري: النية في الإيمان(

2.      Dalam riwayat al-Bukhari yang lain :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه)رواه البخاري: ما جاء انالاعمال بالنيات(
3.      Dalam riwayat al-Bukhari yang lain :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ) رواه البخاري: هجرة النب(
4.      Dalam riwayat al-Bukhari yang lain:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ  )رواه البخاري: الخطاء والنسيان([22]
Redaksi matan hadits yang  pertama
(a): إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى
sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal bergantung pada niat. Dan yang dianggap bagi amal orang apa yang ia niatkan.”
Redaksi matan hadits yang ke dua
(b): الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sah atau tidaknya suatu amal bergantung pada niat. Dan yang dianggap bagi amal setiap orang apa yang ia niatkan.”
Redaksi matan hadits yang ke tiga
(c): الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ
amal itu bergantung pada niat.”
Redaksi matan hadits yang ke empat
 (d): الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِامْرِئٍ مَا نَوَى
Amal itu bergantung pada niat. Dan yang dianggap amal orang apa yang ia niatkan.”
Walaupun empat  hadits diatas berbeda-bedanya redaksi matannya, akan tetapi kandungan makna dari hadits tersebut itu sama. Bahwasannya bagus tidaknya sebuah amal seseorang, atau sah tidaknya amal itu diukur dari niat seseorang tersebut, bukan dilihat dari keadaan amal seseorang. Ketika sebuah amal itu baik tanpa dibarengi baiknya amal, maka amal tidak dapat dikatakan baik.
AL-Imam Asy Syafi’I telah menerangkan tentang siat-sifat perawi; “Hendaklah orang yang menyampaikan hadis itu seorang yang dapat dipercaya tentang agamanya  dan dikenal bersifat benar dalam pembicaraanya, memahami apa yang diriwayatkan, mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal dan hendaknya dia dari orang yang menyampaikan hadis persis sebagaimana yang didengar, bukan diriwayatkannya dengan makna; karena apabila dia meriwayatkan dengan makna sedang ia  tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna,  boleh jadi dia memalingkan yang halal kepada yang haram”.[23]
Tetapi apabila menyampaikan hadis yang secara langsung didengarnya, tidaklah lagi kita khawatir bahwa dia memalingkan hadis kepada yang bukan maknanya, dan hendaklah ia benar-benar meriwayatkan hadis yang diriwayatkan itu apabila dia meriwayatkan dari lafalnya dan benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatkan hadis itu dari kitabnya.

C. Tahammul wa Ada’ al-Hadis
          Tahammul adalah kegiatan menerima atau mengambil hadis dari seorang guru, sedangkan Ada’ adalah meriwayatkan atau menyampaikan hadis kepada murid.[24]                                                                                                                     1.Syarat-Syarat Tahammul Al-hadis
Syarat-syarat yang dimaksud dalam penerimaan hadis adalah kelayakan si penerima hadis, apakah disyaratkan islam dan balig atau tidak
 a. Tahammul anak kecil
     Mayoritas ulama membolehkan penerimaam hadis oleh anak kecil, sebahagian tidak memperbolehkannya. ulama yang memperbolehkan Tahammul anak kecil beralasan bahwa banyak dari dari kalangan sahabat, ta’biin dan ahli ilmu menerima riwayat sahabat yang masih berusia anak-anak, seperi Hasan, Husain, Ibnu Subair, Ibnu Abbas, Anas ibnu malik dan lain-lain.[25]
Al-Qadhi menetapkan, batas usia minimal usia anak yang di perbolehkan bertahamul paling tidak suada berusia lima tahun, karena pada usia ini  anak suda mampu menghapal apa yang dia telah dengar  dan mengingat-ngingat apa yang dia hapal, pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Bukhar dan sahabat Muhammad bin al-Rubai:
علقت من النّبي صلى الله عليه وسلّم مخّة مخهاف وجهيّ من دلووأناابن خمس سنين
Artinya: Saya ingat Nabi saw meludahkan air yang diambilnya dari timbah ke mukaku, sedang pada saat itu saya berusia lima tahun”.[26]
 Bagi yang membolehkan penerimaan anak-anak berbeda pandangan pada batas usia dibolehkannya. Ada yang berpendapat usia minimal lima tahun, ada 15 tahun.[27]  dan ada yang tidak membatasi usia minimal yang penting anak tersebut sudah tamyiz, maka dinilai sah penerimaan hadisnya.
       b. Tahammul Orang Kafir dan Orang Fasik.
Jumhur Muhaddisin berpendapat bahwa seorang yang menerima hadis sewaktu masih dalam keadaan kafir atau fasik dapat diterima periwayatannya,setelah memeluk Islam dan bertobat.[28]
2.  Ada’ al-Hadis
Berbeda dengan tahammul al-hadis, mayoritas ulama sependapat bahwa orang yang meriwayatkan hadis dan riwayatnya bisa dijadikan hujah harus memiliki persyaratan. Syarat-syarat dimaksud adalah Islam, baligh, adil, dan dhabit.[29]
3. Tata cara Tahammul dan Ada’ al-hadis
Adapun teknik periwayatan hadis oleh ulama pada umumnya dibagi kepada delapan macam:
1.     AL-Sama min Lafzh al-Syaikh.
Al-Sama didasarkan kepada penerimaan riwayat melalui proses penyimakan/mendengar langsung lafal hadis dari guru hadis yang didiktekan atau disampaikan dalam pengajian berdasarkan hafalan atau catatannya. Mayoritas ulama hadis menyempatkan tekhnik al-sama sebagai cara tertinggi kualitasnya. Walaupun demikian teknik ini masih perlu dipersoalkan sebab layak atau tidak dipercaya hasil pendengaran seseorang ditentukan oleh beberapa faktor, yakni: kepekaan alat pendengar, kejelasan suara, kesungguhan pendengar dan kemampuan intelektual pendengar dalam memahami apa yang didengarnya.[30]
2. AL-Qiraah al-Syaikh
      Kata AL-Qiraah al-Syaikh dikenal juga dengan  istilah al-Aradh, yakni membacakan  sebuah riwayat di hadapan seorang guru hadis. Riwayat hadis yang disampaikan bisa saja berasal dari catatannya atau hafalannya, kemudian guru hadis tadi menyimak melalui hafalan atau catatannya sendiri.
Kata yang dipakai dalam periwayatan cara al-qira’ah adalah: qara’atu ala fulan, ana asmau fa aqarrabih.
3. Al-Ijazah
             Al-Ijazah adalah pemberian izin seorang guru hadis kepada seseorang untuk meriwayatkan hadis yang ada padanya, tanpa harus membacakan hadis satu persatu dengan lisan atau tertulis. Periwayatan dengan cara al-ijazah ada dua: ijazah bersama al-munawalah dan ijazah mujarradah.[31]
             Ijazah bersama al-Munaalah ada dua macam bentuk:
a. Seorang guru hadis menyodorkan hadis kepada murid kemudian mengatakan: Anda saya beri ijazah untuk meriwayatkan hadis yang telah saya peroleh ini.
b. Murid yang menyodorkan hadis kepada guru hadis, lalu memeriksanya kemudian mengatakan “Hadis ini telah saya peroleh dari guru-guru saya dan anda saya beri ijazah untuk meriwayatkannya dari saya.[32]
4. Al-Munawalah
Tekhik ini dilakukan dengan cara seorang guru hadis memberikan sebuah atau beberapa hadis ataukah sebuah kitab hadis kepada seorang murid seraya mengatakan “inilah hadis yang telah saya riwayatkan.[33]

Al-Munawalah ada dua bentuk:
a. Al-Munawalah al-Mujarradah an-al-ijazah (munawwalah yang tidak disertai dengan ijazah ) dimana guru memberikan kitab hadis kepada muridnya tanpa disertai pernyataan tentang kebolehan meriwayatkannya
b. Al-Munawwalah al-Magrunah bi al-Ijazah (munawwalah yang disertai dengan ijazah). Ulama pada umumnya tidak membolehkan periwayatan dengan munawwalah tanpa ijazah. Lafal yang dipergunakan dalam cara ini adalah: Nawalna atau nawalni.
5. Al-Mukatabah
Al-Mukatabah adalah seorang guru menuliskan sendiri atau meminta kepada orang lain menulis darinya sebagian hadis yang diriwayatkannya untuk muridnya atau orang tertentu yang mungkin saja tidak berada dihadapannya tetapi berada ditempat lain.[34] 
Periwayatan al-Mukatabah ada dua macam :a) al-Mukatabah yang disertai dengan ijazah. b) al-Mukatabah yang tidak disertai dengan ijazah.
6. Al-I’lam
          Seorang guru memberitahukan kepada muridnya hadis atau kitab hadis yang telah diterimanya dari seorang periwayat tanpa diikuti pernyataan agar muridnya meriwayatkan darinya.[35] Ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan periwayatan dengan al-I’lam. Yang membolehkan, alasannya bila dengan cara al-sama’ dan al-qiraah dinyatakan sah meski tanpa ijazah maka cara i’lam juga harus diakui, sedangkan yang melarang menganggap bahwa hadis yang diriwayatkan mempunyai cacat sehingga gurunya tidak memberikan izin untuk meriwayatkannya.
7. Al-Washilah
          Seorang guru mewasiatkan sebuah kitab hadis kepada muridnya untuk meriwayatkannya. Waktu dia memberikan wasiat mungkin sebelum ia meninggal atau bepergian ke tempat lain. Kata yang dipakai adalah Ausa Hayya atau yang semakna dengannya.
8. Al-Wijadah
          Al-wijadah adalah seseorang yang mendapati sebuah hadis yang telah ditulis oleh periwayatnya yang bisa saja semasa ataupun tidak semasa, pernah bertemu atau tidak dan pernah atau tidak pernah meriwayatkan hadis dari penulisnya. Pernyataan yang bisa dipakai dengan cara al-Wijadah adalah wajadtu bi khatt fulan haddatsana fuulan atau wajadtu fi ktabi fuulan bi khattihi.                                                                                                                                             


PENUTUP
A. Kesimpulan
          Dari beberapa sumber yang menjadi rujukan makalah ini yang membahas tentang “Tekhnik Periwayatan Hadis” Maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.  Dalam menyampaikan hadis, Rasulullah saw tidak hanya satu cara saja, namun beliau menyampaikan dengan berbagai cara,  sesuai dengan bentuk-bentuk hadis yang terdiri dari perkataan , perbuatan, taqrir dan hal ihwal atau keadaan Nabi, serta situasi dan kondisi yang ada. Adapun dalam bentuk lisan selain dihadapan orang banyak  dan kaum laki-laki juga dihadapan kaum perempuan  setelah mereka memintahnya. Sedangkan para sahabat dalam menyampaikan riwayat hadis,  dengan lafal asli dan juga dengan makna saja.
2.  Menurut para Ulama Periwayatan hadis dengan lafal lebih kuat kebenarannya dari pada makna.
3.  Tehnik periwatan hadiss oleh para ulama dibagi delapan macam. (a). Al-Samin lafazh al-Syaikh.(b) Al-Qiraah al-Syaikh. (c). Al-Ijazah. (d). Al-Muawalah.(e). Al-Mukatabah.(f). Al-I’lam. (g). Al-Washilah.(h). Al-Wajadah. Ke delapan kategori periwatan hadis yang telah disebutkan sebelumnya maka dapat dibagi menjadi dua tipe yakni
     a. Rawi mendengar langsung dari gurunya, kemudian guru murid bertemu dengan gurunya dan dapat diketahui betul tentang pertemuanya itu. Adapun lafal-lafal periwatannya adalah:
       a)- سمعنا سمت        = Saya/kami telah mendengar.
       b)-حدثنا حدثني      = Sesorang telah bercerita padaku/kami
       c). - احبر ناانبا نا   = Seseorang telah memberitahukan padaku/ kami
       d).احبر نى- احبر نا    = Seseorang telah mengkhabarkan padaku/kami
e.). قا ل لى (لنا) فلان  = Seseorang telah berkata-kata padaku/kami
f).د كر لى (لنا) فلا ن = Seseorang telah menuturkan padaku (kami)
g).قا لحدثنى قال حد ثنا = ia berkata, telah bercerita padaku/kami
     2. Rawi yang belum pasti diketahui tentang pertemuan-pertemuannya dengan guru, mungkin mendengar sendiri dengan langsung, atau tidak mendengar sendiri.
a.) ر و ى   = Diriwatkan oleh
b.) حكى    = Dihikayakan oleh
c.)عن        = dari
d)ان         = Bahwasanya


DAPTAR PUSTAKA
Ahmat Arifuddin, Paradigma baru Memahami Hadis Nabi Jakarta MSCC 2005
Ash Shiddiqieqi Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis Jakarta: Penyebaran   Buku-buku,1995.
. .........................,Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis (Jilid. 11.Cet,1; Jakarta: Bulan Bintang,1958.
Athhan Mahmud, Taisyir Musthalahul Hadis, tt: Dar-Fikr, t.th.
Azami Muhammad Mustafa, Dirasat Fi al-Hadits al-Nabawi, dierjemahkan oleh H.Ali Mustafa Yakub, M.A. dengan judul Hadis Nabawi dan sejarah kondifikasinya Cet,1; Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 1994.
Chumaidy A Zarkasyi, Metologi penetapan Keshahihan Hadis Cet.1;Bandung: CV.Pustaka,Setia1998.                                                                              
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus besar Bahasa Indonesia Cet. 11; Jakarta: Bali Pustaka,1990.
Mukammil, Makalah Ulumul hadis, Makassar: Perogram Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, 2005.
Nuruddin ‘Itr, Manhaj An-Naqd Fi ‘Ulum Hadis, Diterjemahkan oleh Drs. H. Endang  Soetari Ad, Ulum AL-Hadis 1 Cet. 1; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1994.
Muhammad Sakri Ahmad, Ihtisar Ulum AL-Hadis, Berut:Dar Kutub Ilmiah, t.th.
Rahman Fathur, Ikhtisar Mustahalul Hadis Cet. 1;  Bandung: PT. Alma’arif,1974.
Khatib Al-Ajaj, usul al-hadis pokok-pokok ilmu hadis,ter. M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafig (Cet.111; Jakarta:Gaya Media Pratama 2003).          



[1]Fathur Rahman, Ikhtisar Mustahalul Hadis ( et. I: Bandung:  PT. Alma’arif, 1974), h. 21.
[2] Ibid. h. 22.
[3] Ibid. h. 24.
[4] Mukammil, Makalah Ulumul hadis, (Makassar: Perogram Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, 2005), h. 1
[5] Fathur Rahman op. cit, h. 73-74.
[6]Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis,( Cet. II. Jakarta; Bulan Bintang), 1995,  h. 30.
[7]W. Montgmery Watt, Muhammad Prophet and Statemen, diteremahkan oleh Suhudi Ismail; Kaedah-Kaedah Kesahihan Sanad Hadis Telaah Kritis dan Pendekatan dengan Ilmu Sejarah (Cet, II; Jakarta:Bulang Bintang, 1995) h. 29
[8]Lihat: AJ. Wensncik, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadis al-Nabawi Juz I (Leiden: E.J. Brill 1936 M)., h. 424
[9] Ibid., h. 31-34.
[10] M. Syuhudi Ismail op. cit., h.31
[11] Departemen Agama, al-Qur’an dan Terjemahanya .
[12]M. Suhdi Ismail, op. cit, h.35
[13]Munzier Suparta, Ilmu Hadis. Edisi I-5 Jakarta; PT Raja Garfindo Persada, 2008., h. 102
[14] Ibid., h. 103
[15] Ibid., h. 103
[16] Suhudi Ismail, op. cit, h.30-35
[17]Ajaj Al-Khatib, usul hadis pokok-pook hadis, ter qadirun nur (Cet,111;Jakarta:Gaya media Pratama. 2003). H. 216
[18]Arifudin Ahmad, Para Digma Baru memahami Hadis Nabi, Edisi ke II Jakarta: MSCC, 2005, h.38
[19]Gasbi Ash- Shiddigiegi, sejarah dan pengantar ilmu hadis (Jakarta: penyebaran buku-buku, 1995). H. 63
[20]14Ibid. h. 63
[21] Ibid, h. 63
[22] htt/ Formula Belajar Santri, Periwatan Hadis, Selasa 31Maret 2009
[23]Ibid,  h. 352
[24]Arifudin Ahmad, op cit, h. 73-74
[25]Mahmud Tahhan Taisyir, mushtlaah al hadis(kuait tp, tt) h.109
[26]Munzier Suparta, Ilmu Hadis Ed 1-6 Jakarta: Rajawali Pers, 2010, h. 169
[27]Ajaj, op cit, h. 201
[28] Fathur Rahman, op. cit, h. 241
[29]Ajaj, op. cit, h. 202
[30]Ibid, h.202-203
[31]Ibid, h. 52
[32] Suhudi Ismail, op cit., h.59

[34] Ibid, h. 60
[35] Ibid, h. 61

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar