Tambah Income Jutaan Rupiah

Kamis, 07 April 2011

Ulumul Qur'an dan Ruang Lingkup Pembahasannya

By. Abdullah Lamase
A.      Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an sebagai kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril, merupakan kitab suci umat Islam yang akan tetap terpelihara sepanjang masa.
Salah satu ayat di dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa al-Qur’an benar-benar dijamin dan tetap terpelihara dan sebagai petunjuk, sebagaimana dalam firman Allah SWT, yang berbunyi :

انا نحن نزلنا الزكر وانا له لحفظون  ( الحجر:   )
Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an , dan Kami benar-benar memeliharanya. (QS:15:9).”[1]


 
Disamping itu al-Qur’an juga sebagai mukjizat Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah SWT menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya ilahi, dan membimbing mereka kejalan yang lurus. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi para sahabat tentang ayat-ayat al-Qur’an yang mereka terima, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah saw.
Demikianlah cara para sahabat memahami ayat-ayat al-Qur’an dimana mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah saw. dan langsung menjelaskannya kepada para sahabat. Setelah Rasulullah saw. meninggal, para sahabat meneruskan tradisi memahami makna-makna al-Qur’an dan tafsirnya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Kemudian dilanjutkan oleh murid-murid para sahabat dari kalangan tabi’in.            
Al-Qur’an yang di dalamnya banyak mengandung ayat-ayat yang bersifat Global. Mutlak dan Am, memberi peluang dan dorongan para ulama terdahulu sampai sekarang untuk mempelajari dan terus menggali ilmu-ilmu dan pemahaman terhadap al-Qur’an.             
Untuk memahami, menerjemahkan dan menafsirkan al-Qur’an tidak cukup dengan penguasaan bahasa Arab saja, tetapi lebih dari itu harus pula menguasai ilmu-ilmu penunjang lainnya. Hasbi Ash-Shiddieqy menekankan untuk dapat memahami al-Qur’an dengan sempurna diperlukan benar-benar adanya ilmu-ilmu al-Qur’an”.[2] Itulah sebabnya diperlukan penyelam yang terjun ke dalamnya untuk mempelajari al-Qur’an agar dapat mengambil mutiara permata al-Qur’an  dari dasarnya.
Jika telah jelas bahwa Alquran dan hadis Rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlaqul karimah dalam ajaran Islam. Alquran dan sunnah Rasul adalah ajaran yang paling muliah dari segala ajaran manapun hasil renungan dan ciptaan manusia. Sehinga telah menjadi keyakinan (aqidah) Islam bahwa akal dan naluri manusia harus tunduk mengikuti petunjuk dan pengarahan Alquran dan As-Sunnah. Dari pedoman itulah diketahui kriteria mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk.[3]
Dengan demikian ketidaktahuan dan kesalapahaman terhadap makna-makna al-Qur’an dan pemahaman tentang ayat-ayat yang kontroversi dapat dihindari. Karena biasanya kontroversi timbul sebab ketidakmampuan memahami makna ayat-ayat al-Qur’an.
Berdasarkan hal-hal tersebut, kemunculan dan pembahasan tentang ilmu-ilmu al-Qur’an secara luas dan mendalam sangatlah diperlukan. Ilmu-ilmu al-Qur’an ini diharapkan menjadi suatu kebutuhan ummat manusia agar dapat menyingkap pesan-pesan (ayat-ayat) Allah swt. Menjabarkan dan mendiskusikannya sebagai suatu kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini yaitu :
1.    Apa Pengertian ’Ulum al-Qur’an ?
2.    Bagaimana  perkembangan ’Ulum al-Qur’an ?
3.    Apa Ruang lingkup pembahasan’Ulum al-Qur’an ?
4.    Sejauhmana Urgensi Ulumul Alquran dalam menafsirkan Alquran?

                                           
PEMBAHASAN

A.    Pengertian ’Ulum al-Qur’an
Ungkapan ”Ulum al-Qur’an” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu ”Ulum” dan ”al-Qur’an”. Kata ”Ulum” merupakan bentuk jamak dari kata ”ilmu”, yang berarti ilmu-ilmu[4]. Dan juga bentuk masdhar yang artinya pemahaman dan pengetahuan. ’Ilm itu sendiri maknanya al-fahmu wa al-idrak (pemahaman dan pengetahuan ). Kemudian, pengertiannya dikembangkan kepada kajian berbagai masalah yang beragam dengan standar ilmiah. Kata ’Ilm juga berarti idrakus syai’ bihaqiqatihi ( mengetahui sesuatu dengan sebenarnya).[5]
Kata ’Ulum adalah bentuk jamak  dari kata ’ilm, sebagai bentuk verbal –noun dari bahasa arab dengan akar kata ’alima- ya’lamu-’ilman, yang beraarti ’mendapatkan atau mengetahui sesuatu dengan jelas’ atau ”menjangakau sesuatu denggan keadaannya yang sebenarnya.” Ia berasal dari akar kata dengan huruf-huruf ’a, l, m, yang berarti asrun  bi al-syai yatamayyazu bihi ’an gairihi, (keunggulan yang menjadikan sesuatu berbeda dengan yang lainnya, atau sesuatu yang jelas”, bekas (hati, pikiran, pekerjaan, tingkah laku dan karya-karya) sehingga sesuatu itu terlihat dan diketahui sedemikian jelas, tanpa menimbulkan sedikitpun keraguan.[6]
Ulum Al-Qur’an adalah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan Al-Qur’an dari segi asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya Al-Qur’an), pengumpulan dan penerbitan Alquran, pengetahuan tentang surat-surat Makkiyyah dan dan Madaniyyah, an-nasikh wal mansukh dan sebagainya. Ilmu ini  dinamakan juga dengan Usul At-Tafsir (dasar-dasar tafsir), karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang mufassir sebagai sandaran dalam menafsirkan Alquran.[7]
Sedangkan ”al-Qur’an” menurut ulama ushul, fiqih, dan ulama bahasa adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir, dan yang ditulis pada mushaf, mulai dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nas, dengan demikian, secara bahasa, ’ulum al-Qur’an adalah ilmu-ilmu (pembahasan-pembahasan) yang berkaitan dengan al-Qur’an.[8]
Adapun definisi ’Ulum al-Qur’an secara istilah para ulama memberikan redaksi yang berbeda-beda, sebagai berikut :
1.    Menurut Manna’ Al-Qaththan
”Ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an dari sisi inforsmasi tentang Azbab An-Nuzul, kodifikasi dan tertib penulisan al-Qur’an, ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah dan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan al-Qur’an.”[9]
2.    Menurut Az-Zarqani”.
”Beberapa pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an, dari sisi turunnya, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, Nasikh, Manzukh, dan penolakan hal-hal yang biasa menimbulkan keraguan terhadapnya serta hal-hal lain”.[10] 
3.    Menurut Abu Syahbah ;
”Sebuah ilmu yang memiliki banyak obyek pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an, mulai proses penurunan, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, Nasikh – mansukh, muhkam-muntasyabih, sampai pembahasan – pembahasan lain”.[11]
4.    Menurut Al-Suyuhti  :
’ Ulum al-Qur’an ialah suatu ilmu yang membahas tentang keadaan    al-Qur’an dari segi turunnya, sanadnya, adabnya, makna-maknanya baik yang berhubungan dengan lafal-lafalnya maupun yang berubungan dengan hukum-hukumnya dan sebagainya”.[12]
Para Mutakallimin menetapkan, bahwa hakikat Al-Qur-an ialah : ”makna yang berarti pada zat Allah”.[13]
Ulama-ulama Mu’tazilah berpendapat, bahwa hakikat Al-Qur’an ialah ;huruf-huruf dan suara yang dijadikan Allah yang setelah berwujud lalu hilang dan lenyap.[14]
Kata Al-Ghazaly dalam Al-Mustashfa : ”Hakikat Al Qur’an ialah : Kalam yang berdiri pada dzat Allah, suatu sifat yang qadim dari antara sifat-sifat-Nya. Dan kalam itu lafadh mustarak, dipergunakan untuk lafadh yang menunjuk kepada makna, sebagaimana untuk makna yang ditunjuk oleh lafadh.[15]
Dari definisi-definisi ’Ulum al-Qur’an tersebut di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ’Ulum al-Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua bidang ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir, maupun berupa ilmu-ilmu ahasa Arab seperti ilmu I’rabil Qur’an dan sebagainya.
’Ulum al-Qur’an adalah berbeda dengan suatu ilmu yang merupakan cabang dari ’Ulum al-Qur’an, misalnya ilmu Tafsir yang menitikberatkan pembahasannya pada penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu Qiraat menitikberatkan pembahasannya pada cara membaca lafal-lafal al-Qur’an khusus dalam ilmu tajwid seperti, akharijulhuruf, ikhfa, izhar, idgam, iklab, mad dan sebagainya. Sedangkan ’Ulum al-Qur’an membahas al-Qur’an dari segala segi yang ada relevansinya dengan al-Qur’an. Artinya semua pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an di sebut ’Ulum al-Qur’an. Oleh karena itu diberi nama ’Ulum al-Qur’an dengan menggunakan bentuk jama’ bukan ilmu Qur’an dengan bentuk mufrad.  

B. Perkembangan Ulumul Qur’an
              Jika berbicara perkembangan ulumul Qur’an, tentu bahasannya sangat luas dan paling tidak memerlukan referensi yang lengkap. Untuk itu, Penulis membahasnya pada bagian-bagian yang dianggap terkait langsung dengan perkembangan ulumul Qur’an.
              Al-Qura’anul Karim adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizat selalu diperkkuat oleh kemajuan ilmu pengetahun. Ia ditirunkan Allah kepada Rasulullah, Muhammad s.a.w untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang terang, serta membimbing mereka kejalan lurus. Rasulullah s.a.w. menyampaikan Quran kepada para sahabatnya- orang-orang Arab asli – sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Apabila mereke mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakannya kepada Rasulullah s.a.w.[16]
              Nabi saw. Bagi para sahabat adalah sebagai mahaguru dan sumber ilmu. Hanya kepada Nabi, mereka menanyakan segala sesuatu yang tidak mereka pahami termasuk makna atau pengertian ayat-ayat Alquran. Sebagai ilustrasi, berikut ini dikemuakakan beberapa contoh :
-       Sahabat bertanya kepada Nabi saw. Mengenai makna gayrul magdhubi ’alaihim wa ladhdhallin yang terdapat dalam surat Al-Fatihah, Nabi saw menjawab : Nabi saw. Menjawab ; magdhubi ’alaihim adalah orang-orang Yahudi sedangkan dhallin adalah orang-orang Nasrani.”
-       Setelah turun Surah Al-An’am ayat 82; al-ladziina aamanu walam yalbisu imaahum bidzulmin ula’ika lahumul amnu walahum muhtadin. Para sahabat bertanya kepada Nabi: ”Ya Rasul, siapa di anata kami yang tidak menzalimi (adz-dzulm) dirinya?” Maka Rasul menjawab dengan menafsirkan kata adz-dzulm dalam ayat itu kepada Asy syirik, Nabi menunjuk kepada ayat yang terdapat dalam surah Luqman, yaitu ”inna Asy-Syirika ladzulmun ’adzim.”
-       Abdullah bin Umar mengatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw kemudian bertanya tentang makna as-sabil yang terdapat QS. Ali Imran (3) : 93). Maka Rasulullah saw. Menjawab, as-sabil artinya bekal (az-zad) dan kedatangan (ar-rihlah).[17]
Wahyu Allah kepada Nabi-NabiNya, ialah : pengetahuan-pengetahuan yang ”Allah tuangkan ke dalam jiwa Nabi, yang Allah kehendaki agar mereka sampaikan  kepada manusia untuk menujuki mereka  dan memperbaiki mereka di dalam dunia serta membahagiakan mereka di dalam akhirat”. Nabi, sesudah menerima wahyu itu, mempunyai kepercayaan yang penuh, bahwa yang diterimanya itu adalah dari pada Allah.[18]
Manusia sebagai makhluk yang sempurna sekaligus sebagai makhluk yang memiliki banyak permasalahan sangat pantas mendapat petunjuk berupa Al-Qur’an dari Allah swt. untuk dijadikan sebagai pedoman dalam mengelola dan mengatur alam semesta beserta isinya.
Untuk lebih teratur dan terkoordinir, Allah mengutus Rasulullah saw. menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada manusia. Selain itu, agar Al-Qur’an tetap terjaga dan terpelihara dalam setiap waktu dan kesempatan. Karena sebagai petunjuk bagi manusia untuk membuka serta menggali rahasia ilmu pengetahuan dan teknologi baik yang terkandung dalam perut bumi maun yang terdapat di jagat raya yang sangat luas. Sebagai bukti dari kebenaran Al-Qur’an, telah  ditemukan berbagai kebenaran ilmiah yang digali dari Al-Quran.
Nabi mengetahui dan memahami semua ayat Alquran, karena Allah telah mengajarkan kepadanya. Allah swt. berfirman :
Ÿwöqs9ur ã@ôÒsù «!$# y7øn=tã ¼çmçGuH÷quur M£Jolm; ×pxÿͬ!$©Û óOßg÷YÏiB cr& x8q=ÅÒム$tBur šcq=ÅÒムHwÎ) öNåk|¦àÿRr& ( $tBur štRrŽÛØo `ÏB &äóÓx« 4 tAtRr&ur ª!$# šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur šyJ©=tãur $tB öNs9 `ä3s? ãNn=÷ès? 4 šc%x.ur ã@ôÒsù «!$# y7øn=tã $VJŠÏàtã ÇÊÊÌÈ  
Terjemahannya :Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.(QS. An-Nisa’ (4) : 113).[19]
              Penjelasan di atas menunjukkan bahwa ulumul quran mulai tumbuh semenjak masa Nabi. Rasul adalah mufasir awwal.  Akan tetapi, penafsiran Nabi terhadap ayar-ayat tersebut tidak ditulis – secara resmi – oleh para sahabat. Penafsiran Nabi hanya disampaikan kepada sahabat yang lain dan tabi’in dengan periwayatan dari mulut ke mulut. Ada beberapa sebab kenapa panfsiran Nabi, sebagai bagian dari ulumul quran, tidak ditulis para sahabat, yaitu :
a. Ada larangan dari Rasul menulis sesuatu selain Alquran, karena dikhawatirkan perhatian para sahabat menjadi terbagi ; tidak sepenuhnya kepada Alquran, padahal penurunan Alquran masih berlangsung. Atau khawatir tercampurnya dengan sesuatu yang bukan Alquran.
b. Para sahabat tidak merasa perlu menulisnya, sebab mereka  orang-orang yang dhabit, dan jika ada prblem mereka bisa langsung bertanya kepada Nabi saw.
c. Banyak para sahabat yang tidak pandai menulis.[20]
              Tercatat dalam sejarah bahwa ternyata Ulumul Quran telah ada pada masa Nabi Muhammad saw. namun ketika itu belum ditulis seperti sekarang ini, karena dikhawatirkan bercampur baur dengan hadis. Lagi pula ketika itu komunikasi dan koordinasi dengan Nabi saw. berjalan secara efektif serta terorganisir dengan baik di bawah bimbingan langsung oleh Rasulullah saw.
              Pada masa khalifa Usman bin Affan wilayah Islam sudah semakin luas, banyak non Arab memeluk Islam. Terjadi interaksi dan asimilasi antara orang-orang arab dengan orang ajam. Mereka yang telah memeluk Islam, ingin mempelajari Alquran sebagai sumber  utama ajaran  Islam. Padahal Alquran pada masa itu ditulis dalam berbagai naskah yang berbeda penulisan dan bacaannya antara yang satu dengan yang lain. Maka untuk menghindari perbedaan itu dan menjaga agar Alquran tetap utuh serta bisa  dipelajari, Usman memerintahkan agar Alquran ditulis dalam suatu mushaf dan selainnya harus dimusnahkan. Pekerjaan ini melahirkan suatu ilmu yang dikenal dengan ilmu rasm al-qur’an atau ilmu rasmi al-usmani, yang selanjutnya menjadi salah satu kajian dalam ulumul quran.[21]
              Pada masa usman atau abad pertama hijiriyah ulmul quran belum dibukukan, baru diajarkan secara lisan atau dari mulut ke mulut para sahabat.
              Pada abad ketiga mulailah ditulis kajian khusus ulumul quran yang terasing dari buku hadis. Di antara tokoh dan karya yang dihasilkan pada abad III adalah sebagai berikut :
1. Ali bin Madini (234 H) guru Al-Bukhari denga karyanya ilmu Asbab An-Nuzul.
2. Abi  Ubaidillah bin Al-Qasim bin Salam dengan karyanya An-Nasikh wa Al-Mansukh dan Al-Qiraa’at wa Fadha’il Qur’an.
3. Al-Haris bin Asad Al-Muhasabi (165-243 H) dengan karyanya Fahm Al-Qur’an wa Ma’anihi. Buku ini memperbicangkan An-Nasikh wa Al-Mansukh, Uslub Al-Qur’an, Al-Muhkam wa Al-Mutasyabih dan Fadha’il Al- Qur’an.
4. Muhammad bin Ayyub (294 H). Karyanya ialah Maa Nuzila bi Makkah wa Maa Nuzila bi Al-Madinah.
5. Muhammad bin Khalaf bin Al-Marzaban (309 H) Al-Hawi fi Ulumul Al-Qur’an.
6. Dalam bidang tafsir ditulis pula buku Al-Jami’ Al-Bayan, yang dianggap buku tafsir menumental  (Ajjal At-Tafsir). Buku ini dikarang oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H).[22]
              Pada abad ke-4 kajian ulumul quran semakin pesat. Pada abad ini ditulis pula buku Ajaa’ib ’Ulumul Qur’an oleh Al-Anbari (328 H), yang berisi tentang keutamaan Al-Qur’an, turunya Alquran dengan tujuh huruf, penulisan mushaf dan bilangan surah, ayat dan kalimat Alquran. Pada abad  ini juga ditulis buku tentang gharib al-qur’an oleh As-Jastani (330 H).[23]
              Al-Qur’an pada hakekatnya menempati posisi sentral dalam studi-studi keislaman, di samping berfungsi sebagai petunjuk Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pembeda antara yang haq dengan yang bathil. Ia menjadi tolok ukur dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan, termasuk dalam penerimaan atau penolakan dalam setiap berita yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.[24]
              Kenyataan di atas mengundang ulama membahas aspek metode yang terbaik guna memahami atau menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Salah satu jawaban yang disepakati adalah perlunya disusun ilmu-ilmu pengetahuan yang dengannya dapat ditafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan baik, serta dapat mengeksplorasi kandungannya yang berfungsi sebagai petunjuk dalam kehidupan umat manusia. Ilmu yang demikian ini disebut ilmu tafsir atau ’Ulumul al-Qur’an.[25]
              Sejarah perkembangan ulumul al-Qur’an dapat dipetik beberapa makna yang terkandung di dalamnya, antara lain ; Pertama, dengan kerja keras menggali ilmu-ilmu al-Qur’an yang dilakukan oleh para fuqaha dapat memberi motifasi pada generasi sekarang dan mendatang agar lebih fokus mengembangkan ilmu-ilmu al-Qur’an. Kedua, bahwa ternyata al-Qur’an adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga, menggali ilmu-ilmu al-Qur’an harus memiliki tiga kecerdasan, yakni ; IQ, EQ dan SQ.
C.  Ruang Lingkup Pembahasan ”Ulumul Qur’an.
                 Kitab suci Alquran memuat dua hal yang berbeda ; pertama, memuat keaslian pernyataan yang tertuju pada waktu tertentu (karakter bumi), kedua, memuat penjelasan tentang tawaran informasi yang bersifat transenden dan bernilai abadi bagi para pemeluknya kapanpun waktunya (aspek/karakter surga). Konsekuensinya di satu sisi, manakala seseorang mufassir berbicara mengenai paradigma penafsiran Alquran, maka secara inheren ia tidak dapat melepaskan diri dari status Alquran yang merupakan ungkapan-ungkapan wahyu Tuhan yang memiliki kemampuan serba Maha (transenden). Walaupun di sisi lain, para pakar tafsir sepakat untuk menjadikan setiap hasil penafsiran bersifat zhanni ad-dilalah. Yakni, penafsiran memiliki kekuatan kebenaran yang relatif lebih besar dengan tetap memegang asumsi tentang masih adanya kekeliruan yang mungkin saja terjadi akibat keterbatasan wawasan sang mufassir. Itu mengindikasikan setiap hasil penafsiran bisa saja memenrima autokritik sepanjang didasari atas frame-frame penafsiran Alquran yang kuat.[26]

       Pembahasan ‘Ulum al-Qur’an sangat luas  al-Imam al-Sayuthi dalam bukunya ‘al-Itqan fi ‘ Ulum  al-Qur’an, menguraikan sebanyak 80 cabang, dan setiap cabang masih dapat diperinci lagi menjadi beragam cabang lagi. Menurut Dr. M. Quraish Shihab, materi-materi cakupan ‘Ulum fsirt al-Qur’an dapat dibagi dalam 4 (empat) komponen : (1) Pengenalan Terhadap al-Qur’an, (2) Kaidah-kaidah tafsir, (3) Metode-metode tafsir, (4) Kitab-Kitab tafsir dan para mufassir.[27]
            Komponen pertama (Pengenalan terhadap al-Qur’an) mencakup : (a) Sejarah al-Qur’an, (b) Rasm al-Qur’an, (c) I’jaz al-Qur’an, (d) Munasabah al-Qur’an, (e) qushah al-Qur’an, (f) jadal al-Qur’an, (g) aqsam al-Qur’an, (h) amtsal al-Qur’an,(i) nasikh dan mansukh, (j) muhkam dan mutasyabih, (k) al-qiraat, dan sebagainya.[28]
            Komponen kedua (Kaida-kaidah tafsir) mencakup : (a)  ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam menafsirkan al-Qur’an, (b) sistematika yang hendaknya ditempuh dalam menguraikan penafsiran, dan (c) patokan-patokan khusus yang membantu pemahaman ayat-ayat al-Qur’an,baik dari ilmu-ilmu bantu, seperti bahasa dan ushul fiqhi, maupun yang ditarik langsung dari penggunaan al-Qur,an. Sebagai contoh, dapat  dikemukakan kaidah-kaidah berikut : (a) kaidah ism dan fi’il, (b) kaidah ta’rif dan tankir, (c) kaidah istifham dan macam-macamnya, (d) ma’aniy al-huruf seperti : asa; la’alla, in, iza; dan lain-lain, (e) kaidah su’al dan jawab, (f) kaidah pengulangan, (g) kaidah perintah sesudah larangan, (h) kaidah penyebutan nama dalam kishah, (j) kaidah penggunaan kata dan uslub al-Qur’an, dan lain-lain.[29]
            Komponen ketiga (metode-metode tafsir) mencakup metode-metode tafsir yang dikemukakan oleh ulama mutaqaddim dengan ketiga coraknya : al-ra’yu, al-ma’tsur, al-isyariy, disertai penjelasan tentang syarat-syarat diterimanya suatu penafsiran serta metode pengembangannya, dan juga mencakup juga metode mutaakhir dengan keempat macamnya : tahliliy, ijmaliy, muqarran, maudhu’iy.[30]
                   Komponen keempat (kitab tafsir dan para mufassir) mencakup pembahasan tentang kitab-kitab tafsir baik yang lama maupun yang baru, yang berbahasa arab, inggeris, atau indonesia, dengan mempelajari biografi, latar belakang dan kecenderungan pengarangnya, metode dan prinsip-prinsip yang digunakan, srta keistimewaan dan kelemahannya.[31]
              Sedang pemilihan kitab atau pengarang disesuaikan dengan berbagai corak atau aliran tafsir yang selama ini dikenal, seperti corak : Fiqhi, sufi; ‘ilmi, bayan, falsafi, adabi, ijtima’iy, dan lain-lain.”[32]                                                                    Dari uraian diatas menggambarkan bahwa “ulumul al-Qur”an mencakup bahasan yang sangat luas, antara lain ilmu nuzul al-Qur’an, asbab al-nuzul, qiraat, ilmu an-nasikh wa al-mansukh dan ilmu fawatih as-suwar serta masih banyak yang lainnya. Karena begitu luasnya cakupan kajian ulumul quran, maka para ulama harus mengakhiri definisi yang mereka buat dengan ungkapan “dan lain-lain”. Ungkapan ini menunjukkan, kajian ulumul quran tidak hanya hal-hal yang disebutkan dalam definisi itu saja, tetapi banyak hal yang secara keseluruhan tidak mungkin disebutkan dalam definisi. Ibnu Arabi (w 544 H), seperti yang dikutip oleh Az-Zarkasyi, menyebutkan, ulumul quran mencakup 77.450 ilmu sesuai dengan bilangan kata-katanya. Hal itu sesuai dengan pendapat sebagian kaum salaf, yang melihat bahwa setiap kata dalam al-Quran mempunyai makna lahir dan bathin, selain itu terdapat pula hubungan-hubungan dan susunan-susunannya. Maka dengan demikian, ilmu ini tidak terkira banyaknya dan Allah sajalah yang mengetahuinya secara pasti.
              Dari sekian banyak cakupan ulumul quran, maka yang menjadi induk atau focus utamanya adalah tauhid, tadzkir (peringatan), dan hokum. Tauhid mencakup banyak hal, antara lain pengetahuan tentang mahluk, sang pencipta, dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Yang termasuk dalam tadzkir adalah al-wa’d (janji balasan kebajikan), al-wa’id (janji ancaman),surge dan neraka serta penyucian lahir dan bathin. Sedangkan hukum mencakup beban (takalif) berupa perintah, larangan, hal yang bermanfaat, dan hal-hal yang dapat mendatangkan kemudharatan.
              Secara garis besar ulumul quran itu dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu ilmu-ilmu yang yang diistimbatkan dari al-Quran, yang kemudian dapat dipedomani oleh manusia dalam menjalani kehidupan ini. Termasuk dalam kategori ini, misalnya ilmu fiqh, ushul, tafsir, balaghah, kaidah-kaidah bahasa, akidah, akhlak, dan sejarah. Dan yang kedua, ilmu-ilmu yang menjadi syarat atau alat untuk memahami al-quran. Yang dimaksud dengan istilah ulumul Quran dalam kajian ini adalah yang terakhir ini. Hal tersebut mencakup antara lain sebagai berikut : 
a. Ilmu Nuzul al-Qur’an” Kajian ini mencakup penyampaian al-                       quran  dari  Allah   kepada  Nabi Muhammad,  Al-makki  wa  Al-                               madani, ayat paling awal dan paling akhir diturunkan, ayat     yang         turun dimalam  hari (al-layliyah), yang turun diwaktu siang (al-nahariyah), ayat yang turun dalam perjalanan, ayat yang turun ketika Nabi berada ditempat tinggalnya, ayat yang turun ketika Nabi berada dalam perjalanan dan ayat yang berulang kali turunnya.
b.  Ilmu Qira’ah, Hal ini mencakup cara memulai bacaan, membaca wakaf, mad, idgam, dan lain sebagainya. Termasuk juga dalam kajian ini perbedaan para ulama dalam membacanya, ada bacaan mutawatir, ahad, masyhur, dan syazz
c.   Kajian tentang makna alquran yang berhubungan dengan hukum, seperti lafal ‘am yang tetap dalam keumumannya, ‘am yang telah ditakhsiskan, Manthiq, mafkhum, muthlaq, muqayyad, dan lain sebagainya.
d.  Kajian tentang makna alquran yang berkaitan dengan lafal, seperti ijaz, ithnab, musawa, qashar, dan lain-lain.”[33]   
        Dengan demikian, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
Ulumul quran itu mencakup ilmu-ilmu  bahasa arab dan segala kajian
      Yang berkaitan dengan ajaran islam. Bahwa As-Sayuti berpendapat,bahwa ilmu jiwa, ilmu falaq, ilmu astronomi, dan lain sebagainya juga termasuk ulumul quran. Hal itu didasarkan pada firman Allah swt : 
tPöqtƒur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøŠn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& ( $uZø¤Å_ur šÎ/ #´Íky­ 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4 $uZø9¨tRur šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uŽô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ  
      (dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”(QS. An-Nahl : 16 : 89)[34].
                        Dengan demikian, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa ulumul quran itu mencakup ilmu-ilmu bahasa Arab dan segala kajian yang berkaitan dengan ajaran Islam. Bahkan As-Suyuti berpendapat, bahwa ilmu jiwa, ilmu falak, ilmu astronomi dan lain sebagainya juga termasuk ulumul quran. Hal ini didasarkan kepada firman Allah swt :
tPöqtƒur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøŠn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& ( $uZø¤Å_ur šÎ/ #´Íky­ 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4 $uZø9¨tRur šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uŽô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ  
Terjemahannya : (dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(QS. An-Nahl (16) : 89.[35]

D. Urgensi Ulumul Alquran Dalam menafsirkan Alquran.
            Ulumul qur’an mempunyai erat kaitannya erat dengan tafsir, di mana tafsir merupakan salah satu kajian dalam ulumul quran. Dan dalam menafsir Alquran, ulumul quran lainnya sangat diperlukan oleh seorang mufassir. Dengan menguasainya, mufassir terbantu dalam memahami ayat-ayat tersebut. Maka urgensi ulumul quran dalam memahami ayat-ayat Alquran sama dengan urgensi ulumul hadis dalam memahami hadis; sebagaimana hadis tidak akan dapat dikuasai dan dipahami tanpa menguasai ilmu hadis terlebih dahulu, seperti itu pulalah Alquran tidak akan dapat dipahami tanpa mengetahui ulumul quran.[36]
            Terkait dengan penafsiran, para sahabat Nabi saw. berusaha menafsirkan Alquran sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing, namun demikian di antara mereka yang saling menyalahkan, justru perbedaan kemampuan itulah yang membuat mereka termotivasi untuk memperoleh hasil yang terbaik.
            Para sahabat senantiasa melanjutkan kegiatan mereka dalam menyampaikann makna-makna Qur’an dan penafsiran ayat-ayat berbeda-beda di antara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan  lama dan tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah saw. Hal yang demikian diteruskan oleh murid-murid mereka, yaitu para tabi’in.[37]
            Bahasa Alquran mengandung uslub-uslub yang berbeda dengan bahasa lainnya, terutama bahasa non-Arab, seperti ungkapan sumpah, amtsal, dan lain sebagainya. Seseorang tidak akan dapat memahami uslub-uslub itu, jika dia tidak mempelajarinya. Kajian terhadapnya merupakan bagian dari pemahaman ulumul quran.  Seseorang, misalnya akan menemui kesulitan memahami ayat-ayat yang menganndung sumpah tersebut, jika tidak dipelajari, demikian pula amtsal. Kedua hal ini termasuk dalam kajian ulmul quran, yang disebut dengan ilmu aqsam Alquran dan ilmu amtsal Alquran. Dengan demikian, jelaslah bahwa ulmul quran adalah merupakan kunci memahami Alquran.[38]
            Urgensi ulumul quran dalam penafsirannya secara lebih jelas terlihat pada ilmu asbab an nuzul dan an-nasikh wa mansukh, tanpa menguasai ilmu ini, orang bisa salah dalam memahami ayat-ayat Alquran, terutama ayat-ayat yang khusus diturunkan untuk menjawab kasus-kasus tertentu yang tidak boleh dihukum yang kandungannya digeneralisasi untuk semua kasus, seperti firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 93 dan juga firman Allah swt. berikut :
¬!ur ä-̍ô±pRùQ$# Ü>̍øópRùQ$#ur 4 $yJuZ÷ƒr'sù (#q9uqè? §NsVsù çmô_ur «!$# 4 žcÎ) ©!$# ììźur ÒOŠÎ=tæ ÇÊÊÎÈ  
Terjemahannya : Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.(QS. Al-Baqarah (2) ayat 115.[39]
            Ayat ini, secara umum tanpa melihat asbab an-nuzul-nya, berarti “bahwa seseorang, dalam shalatnya, boleh dan sah menghadap kemana saja, karena semua yang ada ini kepunyaan Allah”. Jika ayat ini dipahami seperti iu, maka ia terlihat kontradiktif dengan Surah Al-Baqarah (2) ayat 143-144, yang memerintahkan umat Islam agar dalam shalat menghadap kiblat, yaitu Ka’bah. Sebenarnya ayat di atas hanya berlaku pada kasus tertentu yang sama dengan  asbab an-nuzul-nya.[40]
            Setelah menganalisa uraian tentang urgensi ulumul Alquran dalam menafsirkan Alquran Penulis dapat menyimpulkan bahwa hubungan antara ilmu ulumul quran dan tafsir Al-quran sangat erat kaitannya. Karena dengan keduanya dapat memudahkan menafsirkan dan menta’wilkan ayat-ayat al-Quran baik yang muhkan maupun yang mutasyabih.  

                                                                 
 
                                                               
P E N U TU P

A.       Kesimpulan                                               
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat kita simpulkan sebagai berikut :
1.    ’Ulum al-Qur’an  adalah ilmu-ilmu yang membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan membahas al-Qur’an.
2.    ’Ulum al-Qur’an dikalangan ulama terjadi beda pendapat tentanga  munculnya ’Ulum al-Qur’an, tetapi pendapat yang kuat menyatakan bahwa lahirnya ’Ulum al-Qur’an setelah terbitnya kitab al-burhan fi ’Ulumil Qur’an.pada abad ke III H.
3.    Karena begitu luasnya pembahasan tentang ’ulum al-Qur’an, maka  Dr. M. Quraisy Shihab membagi kedalam empat komponen, (1) Pengenalan terhadap al-Qur’an, (2) kaidah-kaidah tafsir, (3) metode-metode tafsir, (4) kitab-kitab tafsir dan para mufassir.

B.       Implikasi
Karena begitu pentingnya pembahasan tentang ’ulum al-Qur’an, dengan berbagai aspek yang ada hubung annya dengan hidup dan kehidupan kita dari segala sisi maka penulis memberikan rekomendasi kepada :                                                                
     1. Kepada para pembaca disetiap jenjang pendidikan dan dari  segala status sosial lainnya agar kiranya banyak membaca al-Qur’an yang dapat bernilai ganda baik kehidupan dunia maupun akhirat
     2.Karena al-Qur’an merupakan pedoman hidup, sudah seharusnya kepada pemerintah melalui kantor, dinas dan badan penyelenggara pendidikan formal dan informal agar kiranya pendidikan al-Qur’an dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar, menengah dan atas serta perguruan tinggi sehingga suasana kehidupan qur’ani dapat menyeluruh dan menyentuh lapisan bawah.
     3. Perlu pemerataan pembangunan dan pengelolaan pusat studi al-Qur’an sehingga kajian studi al-qur’an lebih merata kesetiap daerah.























                       

 DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid, Ramli. Ulumul Qur’an. Cet. II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994
Abdullah M. Yamin , Studi Akhlak dalam  Perspektif Alquran. Cet. I, Pekan Baru : Amzah, 2007.

Anwar, Abu. Ulumul Qur’an, Sebuah Pengantar .Cet. I; Pekanbaru: Amzah, 2002.
Anwar, Rosihan. Ilmu al-Qur’an. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2007.
Ash-Shabuhi, Mummad Ali. at-Tibyan fi ulumul Qur’an. terj. Aminuddin, Mutiara Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Cet. Bandung: Pustaka Setia, 1999.

Ash-Shiddiq, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir. Cet. XV; Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

As-Shalih, Subhi. Mabahits fi ’Ulumil Quran. Terj. Tim Pustaka Firdaus, Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an. Cet. XVI; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985. 

Az-Zarqani. Manahil al-Irfan, Jilid I. Beirut; Daral-Fikr, 1972.
Al-Hafidz  W. Ahsin , Kamus Ilmu Alquran. Cet. III, Wonosobo, 2008.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an  dan terjemahnya. Cet. V; Bandung:                CV. Diponegoro, 2005.

Departemen Agama RI. Tafsir Ilmu Tafsir. Cet. II; Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1990

Ibrahim. al-Mu’jamul Wasith Jilid II. Cet. III; Kairo: Darul Handasiah, 1985.
Manna’ al-Qaththan, Mabahist fi ‘Ulumul Qur’an, Riyad: Mansyurat Al-Ashr Al-Hadis, 1973.

Mannaa’ Khaliil al-Qattaan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Terj. Muzakkir AS. Cet. VI; Bogor: PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 2001.

Mardan. al-Qur’an, Sebuah Pengantar Memahami al-Qur’an Secara Utuh, Jakarta: Pustaka Mapan, 2009.

 Rosadisastra Andi, Metode Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial. Cet. I; Jakarta: Amzah, 2007.

Syadali, Ahmad. Ulumul Qur’an I. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Syauqi Nawawi, Rif’at. Pengantar Ilmu Tafsir. Cet.II; Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Thoba’ Thoba’i. Mengungkap Rahasia al-Qur’an. Terj. Jakarta: Mizan,  1977.



                              [1] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya ( Cet.X Bandung, CV Penerbit   Diponegoro, 2005), h. 209
                            [2] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejaran dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir (Cet. XV, Jakarta, Bulan Bintang, 1992), h. 89
                            [3] M. Yamin Abdullah, Studi Akhlak dalam  Perspektif Alquran, (Cet. I, Pekan Baru : Amzah, 2007), H. 5
                      [4]Ahmad Syadali, ‘Ulumul Qur’an I (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 11
                      [5] Ibrahim, Al-Mu’jamul Wasith, Jilid II, ( Cet. II, Kairo : Darul Handasiah, 1985, hal. 647
                      [6] Mardan, Al-Qur’an Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an Secara Utuh, (Makassar, 2009), h. 15-16
                            [7]Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Alquran (Cet. III, Wonosobo, 2008), H. 300
              [8] Rosihan Anwar, ‘Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 2007), h 11  
[9] Manna’ Al-Qathan, Mabahist Fi ‘Ulumil Qur’an, (Riyad: Mansyurat Al-Ashr Al-Hadits, 1973), h. 15-16
                            [10] Rosihan Anwar op.cit. h. 12
                           [11] Ibid,
                [12] Ahmad Syadali, op.cit.
[13] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengatanr Ilmu Al-Qur’an/ Tafsir, (Cet. XIV, Jakarta : PT. Midas Surya Grafindo, 1992) h. 10
                [14] Ibid
                [15] Ibid
                      [16] Mannaa’ Khaliil al-Qattaan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Diterjemahkan oleh Muzakkir AS, (Cet. VI, Bogor : PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 2001), h. 1
                      [17] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, (Cet. I, Pekan Baru : Amzah, 2009), h. 5
                      [18] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengatanr Ilmu Al-Qur’an/ Tafsir, loc.cit, h. 5
                      [19] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, op.cit
                      [20] Ibid
                      [21] Ibid
                      [22] Ibid, h. 9
                      [23] Ibid, h. 10
                      [24] Mardan, Al-Qur’an Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an Secara Utuh, loc.cit, h. 22
                      [25] Ibid
                      [26] Andi Rosadisastra, Metode Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial, (Cet. I, Jakarta : Amzah, 2007), h. 48
                      [27] Mardan, Al-Qur’an Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an Secara Utuh, loc.cit, h.19
                    [28] Ibid
                        [29] Ibid, h. 20
                        [30] Ibid
                        [31] Ibid
                        [32] Mardan, op.cit. h. 19-20
              [33] Yusuf, kadar.M Studi Al-Qur’an, loc.cit,  h. 2-4
             [34] Departemen Agama RI. Op.cit. h. 213
                 [35] Yusuf, kadar.M Studi Al-Qur’an, loc.cit, h. 9
                 [36] Yusuf, kadar.M Studi Al-Qur’an, loc.cit, h.11
                            [37] Mannaa’ Khaliil al-Qattaan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Diterjemahkan oleh Muzakkir AS, loc.cit, h. 4
                            [38] Yusuf, kadar.M Studi Al-Qur’an, loc.cit, h.12              
                [39] Ibid
                [40] Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar